December 7, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Yeni (Pontianak-Kalbar)

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Provinsi Kalbar, M. Munsif meminta peternak dan pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk mewaspadai penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak dalam rangka mencegah kerugian ekonomi.

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 06005/PK.310/F/05/2022 Tanggal 6 Mei 2022 Hal Peningkatan Kewaspadaan Terhadap PMK, laporan sementara pelaksanaan investigasi suspek PMK sudah ditemukan pada kambing di Kabupaten Mempawah. Untuk itu perlu peran semua pihak untuk mewaspadainya dan melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) terkait pencegahan dan pengendalian PMK (www.antaranews.com, 11/5).

PMK adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku genap atau belah. Hal itu bisa menimbulkan kerugian ekonomi yang besar akibat menurunnya produksi sehingga menghambat dalam perdagangan hewan dan produknya.

Hewan yang rentan seperti sapi, kerbau, kambing domba, rusa dan babi. Untuk gejala klinis pada hewan yakni lepuh di mulut, lidah, gusi, demam, leleran di hidung menggantung, luka pada kuku hewan dan bisa pincang, tidak mau makan dan air liur berbusa.

Kejadiannya yakni di Perintis Jaya Farm milik Romi yang berlokasi di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jungkat. Pada kambing kacang umur lebih dari 1 tahun berjumlah 11 ekor didatangkan dari Sumenep dan sampai di Pontianak tanggal 25 April 2022 lalu. Selama perjalanan sebelum ke lokasi pemilik kambing mati di kapal 1 ekor dan telah dijual untuk dipotong 2 ekor. Sehingga sisa 8 ekor.

Baru saja tiga bulan yang lalu, Kalbar harus menghadapi kasus kematian 49. 328 ekor ternak babi akibat virus African Swine Fever (ASF). Diantaranya berjumlah 14.648 ekor babi telah disuntik serum namun berdasarkan hasil penelitian, efektivitas serum konvalesen ini hanya 53%. Tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kali ini pemerintah harus bergerak cepat dengan adanya indikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang lagi-lagi melanda ternak di Kalbar ini.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo malah mengatakan bahwa sebagian daging ternak yang terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih bisa dikonsumsi. Hal ini seakan-akan pemerintah tidak mau tanggung jawab dalam menghadapi resiko kerugian.

Meskipun Kementan telah membuat langkah darurat atau agenda SOS, langkah temporary, dan agenda recovery atau pemulihan. Namun tetap saja ada kekhawatiran berdampak pada kesehatan konsumen, nasib para peternak lokal dan lebih penting lagi yakni ketahanan pangan akan kebutuhan rakyat pada hewan penghasil daging berkualitas.

Sistem ekonomi kapitalisme perlahan telah menepikan urusan pangan rakyat menjadi hal yang tidak urgen, karena demi keuntungan dan manfaat materi belaka. Kapitalisme juga menghilangkan peran negara dan memberikan kesempatan kepada swasta maupun asing yang memiliki teknologi modern dan modal yang besar untuk budidaya ternak dan memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.

Demikian pula pemerintah, tidak selalu mau tanggung jawab untuk jadi ‘pemadam kebakaran’ akan problem peternakan, makanya membuka kesempatan lebar bagi korporasi swasta dan asing dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan negeri. Akhirnya rakyat sendiri yang jadi korban, rakyat tidak optimal mendapatkan jaminan produktivitas ternak dan konsumen pun tidak mendapatkan rasa aman.

Di dalam Islam, penguasa (Khalifah) harus membangun peternakan modern yang mandiri, professional dalam menjaga kualitas ternak, kesehatan ternak dan sigap menangani penyakit ternak. Tanpa mengandalkan dari luar, Khilafah Islam bisa berdikari mandiri dengan penerapan sistem ekonomi Islam. Ditambah pengembangan riset dan teknologi untuk optimalisasi pangan berkualitas masif dilakukan.

Memang butuh keberanian, kemauan, dan biaya yang besar. Namun sistem ekonomi Islam adalah sistem yang tangguh, urusan umat adalah prioritas. Apalagi jika terjadi wabah baik dialami oleh manusia maupun ternak-ternaknya.[]