June 30, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Syiria. S (Sintang, Kalbar)

Hepatitis adalah istilah yang digunakan untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya pun bermacam-macam mulai dari virus sampai obat-obatan. Namun yang banyak terjadi adalah karena virus.

Hepatitis virus akut adalah penyakit yang biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Dalam kasus ini, virus masuk melalui sirkulasi (biasanya melalui inokulasi oral atau parenteral atau bahkan bisa melalui hubungan sex). Jika kasus yang terjadi pada anak, maka kemungkinannya adalah melalui oral (mulut) atau parenteral (aliran darah co. suntik).

Varian dari hepatitis sendiri ada banyak, salah satunya adalah Hepatitis Virus Delta (HDV). Hepatitis virus delta ini terutama ditransmisikan oleh pemaparan melalui infeksi darah. Dalam kasus super infeksi HDV maka replikasi atau penyebaran virus didalam tubuh akan lebih cepat dari biasanya. Kasus ini dapat berlanjut ke sirosis hati atau kerusakan hati dimana hati tidak lagi dapat berfungsi yang pada kasus tertentu dapat menyebabkan kematian.

Virus Delta ini ada pada masa pandemi virus korona yang bermutasi menjadi varian delta. Namun, untuk pencegahan akan virus ini belum dilakukan secara maksimal sehingga kemungkinan infeksi pada individu tertentu mungkin terjadi.

Hal yang mungkin terjadi pula adalah imunisasi/vaksin pada anak di masa pandemi virus korona yang kurang diperhatikan. Sehingga menyebabkan beberapa anak terinfeksi virus delta yang masuk ke sirkulasi hati melalui vaksinasi. Karena hepatitis virus dapat masuk salah satunya melalui parenteral saat suntik vaksinasi.

Bisa juga terjadi saat vaksin varian delta ini menggunakan vaksin hidup yang dilemahkan dan individu sedang dalam imunitas lemah. Sehingga tubuh kurang mampu melawan virus yang disuntikkan.

Bila kita flashback, yaitu melihat bagaimana pemerintahan Islam masa lalu dalam menangani suatu wabah. Kenapa kita membahas pemerintahan? Karena, tanggungjawab pemerintah memiliki kewajiban riayah (mengurusi) urusan umat termasuk urusan dalam penanganan wabah yang telah menyebar ke seluruh negeri.

Masa dulu adalah sebuah pelajaran yang paling baik, dan seharusnya kita belajar dari masa dulu. Dalam sistem pemerintahan Islam, kesehatan masyarakat adalah tanggungjawab pemerintah dan penguasa.

Pada masa kepemimpinan Islam yang pernah terjadi wabah, maka yang dilakukan adalah menerapkan lockdown atas daerah yang terkena wabah. Daerah tersebut ditutup, sehingga tidak ada penduduk diluar daerah yang dapat masuk ataupun sebaliknya.

Lantas bagaimana perekonomian dan kebutuhan mereka? Tentu ini menjadi perhatian juga bagi pemerintah. Suplai kebutuhan pokok tetap ada dan ditanggung pemerintah, dan dapat juga mensuplai dari daerah lain yang tidak terkena wabah.

Ketika wabah sudah selesai maka penduduk daerah tersebut kembali beraktivitas secara normal dan lockdown dibuka kembali. Mudahkan? Begitulah Islam dalam mengatasi suatu permasalahan, inilah yang bisa disebut sebagai solusi. Dan semua itu merujuk pada dalil.

Semakin maju zaman seharusnya semakin baik dalam penanganan, tapi yang ada bukan semakin baik kualitas penanganan masalahnya, justru malah semakin merosot. Akhirnya wabah dengan mudah menyebar di masyarakat.

Memang benar segala sesuatu, baik itu ada atau tidaknya auatu penyakit merupakan sebuah ketetapan, namun juga tidak salah apabila kita berupaya supaya wabah dapat diminimalisir penyebarannya. Wabah hepatitis akut yang terjadi di negeri kita ini adalah bukti kegagalan pemerintah dalam menanggapi masalah KLB atau Kejadian Luar Biasa, dan kurang tanggapnya mencari solusi mengatasi suatu wabah.

Wajarkah jika setiap wabah masuk ke negeri kemudian baru dicarikan solusi untuk mencegah? Sungguh tidak masuk akal, karena pencegahan adalah ketika wabah itu belum terjadi atau belum masuk ke suatu negeri. Namun saat ini dianggap pencegahan yaitu mencegah supaya tidak semakin menyebar, ini namanya sudah terlambat untuk dikatakan sebagai suatu pencegahan tapi lebih tepat adalah penanganan.

Dalam melakukan penanganan tidak cukup hanya dengan sikap waspada, karena seharusnya wabah ini tidak boleh menyebar. Namun, yang harus dilakukan adalah tindakan penghentian rantai penyebaran.

Sangat memprihatikan juga bahwa yang dilakukan saat ini justru lebih memikirkan bagaimana masalah ini tidak menimbulkan kerugian. Karena itulah pada akhirnya rakyat lagi dan lagi yang menjadi tumbal dan malah kerugian semakin besar. Akhir tragis yang sungguh ironis, tumbalnya sampai mempertaruhkan nyawa.

Memang betul, kematian adalah takdir  yang tidak dapat ditunda. Tapi haruskah kita biarkan hal itu terjadi karena melalaikan tanggung jawab dan peran? Tentu saja tidak? Seharusnya sudah cukup satu kesalahan sebagai pelajaran, the last mistake is the best teacher. Dan jangan sampai umat Islam terperosok dua kali ke dalam lubang yang sama.[]

Wallahu’alam