September 25, 2023

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Urusan Palestina, Urusan Kita Semua

Oleh: Khairani (Aktivis Muslimah Pontianak)

Beberapa waktu yang lalu, resmi diumumkan bahwa Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah, sebetulnya telah melalui jalan dan proses yang amat panjang.

Indonesia sendiri ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2019. Awalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 untuk edisi 2021. Pada prosesnya, pandemi Covid-19 menghantam berbagai penjuru dunia. Indonesia pun harus mundur dua tahun untuk menjadi tuan rumah.

Israel kemudian menjadi salah satu tim yang lolos ke Piala Dunia U-20 2023 Pada Juni tahun lalu. Kelolosan Israel ini yang kemudian menjadi polemik di Tanah Air. Beberapa pekan menjelang pengundian grup di Bali, yang sedianya digelar pada 31 Maret 2023, muncul aksi-aksi penolakan keikutsertaan Israel sebagai peserta. FIFA merespon penolakan Israel itu dengan membatalkan drawing di Bali, dan memutuskan mencabut status tuan rumah Indonesia untuk Piala Dunia U-20 2023.

Berbagai Respon dari Masyarakat

Batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tentu saja menuai respon yang berbeda-beda ditengah masyarakat. Bahkan sebelum FIFA mengeluarkan keputusannyapun, masyarakat berbeda pandangan apakah mempermasalahkan atau tidak mempermasalahkan kehadiran Israel untuk bertanding di Indonesia.

Bagi masyarakat yang tidak mempermasalahkan keikutsertaan Israel, sebagian berpandangan bahwa tidak perlu membawa urusan politik dalam pertandingan sepak bola. Sehingga pandangan politik mengenai Israel yang menjajah Palestina tidak perlu dibawa-bawa dalam penyelenggaraan Piala Dunia ini.

Adapun bagi masyarakat yang mempermasalahkan, mereka berpandangan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik apapun dengan Israel. Adapula yang melihat dari sisi kemanusian, bahwa Israel adalah negara yang sampai detik hari ini masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Tentu menerima kehadiran Israel ke Indonesia, sama saja berarti telah melanggar konstitusi negara.

Belum Ada Pembelaan yang Serius

Hingga kini belum ada langkah nyata untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Banyak penguasa negeri-negeri muslim yang berdiam diri atau maksimal mereka hanya sebatas mengutuk apa yang dilakukan oleh Israel. Tidak sedikit diantara mereka bahkan bermanis muka dan duduk bersama para penjajah.

Seorang penguasa, sejatinya memiliki kekuatan untuk melakukan pembelaan terhadap Palestina. Namun saat ini, ketika umat Islam terkungkung paham nasionalisme, akhirnya mereka tidak lagi menganggap masalah Palestina sebagai persoalan dunia Islam, tetapi hanya problem rakyat Palestina sendiri. Padahal, nasionalisme sesungguhnya adalah trik Barat untuk memecah belah kaum muslim menjadi beberapa negara.

Palestina Merupakan Bagian dari Urusan Kita (Umat Islam)

Seorang muslim sejatinya harus memandang persoalan Palestina dengan sudut pandangan akidah Islam.

Sejarah mencatat, Palestina adalah tanah milik kaum muslim. Uskup Safronius menyerahkan kunci Baitulmaqdis kepada Khalifah Umar bin Khaththab. Penyerahan itu diikuti dengan perjanjian Umariyah pada 637 Masehi. Sejak saat itu, Palestina resmi menjadi wilayah Islam.

Pada 1095 Masehi berlangsung Perang Salib di Palestina, karena provokasi Paus Urbanus II (1095M) demi kepentingan penjajah Prancis. Kemudian dibebaskan oleh Shalahudin al-Ayyubi (02/10/1187M).

Semenjak pembebasan ini, Palestina menjadi milik kaum muslim dengan status sebagai tanah kharajiyah. Pada masa Khilafah Utsmaniyah, Theodor Herzl mencoba mengambil Palestina. Namun, saat itu khalifah Abdul Hamid II tegas menolak permintaan Herzl.

Dari catatan sejarah di atas, terlihat bahwa pemimpin atau kaum muslim tidak pernah sedikit pun memberikan ruang bagi kaum kafir untuk mengoyak Palestina. Bagi kaum muslim, sangat jelas bahwa Palestina adalah warisan Islam, sedangkan Israel tidak berhak atas tanah itu. [1]

Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa umat Islam di Palestina saat ini tengah menjaga tanah kaum muslimin. Mereka mengorbankan dirinya hingga gugur menjadi syuhada demi menjaga tanah suci.

Allah SWT pun menyampaikan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, bahwa orang-orang mukmin seluruhnya bersaudara. Maka ikatan tertinggi yang mengikat kita ialah kesamaan akidah, yakni akidah Islam. Ikatan akidah Islam inilah yang mempersatukan seluruh orang mukmin, walaupun mereka berbeda keturunan, bahasa ataupun bangsa, namun mereka seluruhnya sama, sebab akidah Islam telah mempersatukan mereka.

Maka sudah selayaknya umat Islam memandang penting urusan saudara-saudaranya (umat Islam yang lain), karena mereka adalah satu tubuh yang tak terpisahkan.

Langkah Nyata Perjuangan Membebaskan Palestina

Tanah Palestina dirampas dan dijajah dengan kekuatan politik dan militer. Maka pembelaan terhadap Palestina tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan dengan perlawanan individu ataupun kelompok. Perlawanan terhadap penjajahan Israel ini harus diwujudkan dengan kekuatan yang setara, yakni kekuatan negara.

Sayangnya, saat ini kaum muslim telah kehilangan sistem politiknya, tatkala diruntuhkannya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924. Itulah terakhir kali tegaknya sistem politik Islam yang menjadi junnah (perisai) bagi umat Islam.

Ketiadaan Khilafah saat ini, membuat umat Islam menjadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Mereka terpecah bela menjadi negara-negara kecil, yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang beragama Islam. Namun didalam negerinya, mereka tidak sedikitpun menerapkan aturan Islam kecuali hanya sebatas pada ranah spiritualitas. Merekapun tidak lagi merasa, bahwa urusan Palestina adalah urusan negara mereka kecuali hanya sebatas rasa solidaritas semata.

Oleh sebab itu, langkah nyata untuk membebaskan penjajahan Israel terhadap Palestina hanya dapat dilakukan dengan adanya kekuatan selevel negara. Negeri muslim seluruhnya harus bersatu dalam satu kekuatan politik untuk membela Islam dan kaum muslimin. Secara otomatis, kaum muslimpun harus berjuang untuk mewujudkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah sebagai sistem politik dan kepimimpinan kaum muslimin. Berjuang mengembalikan tegaknya Khilafah ialah langkah nyata untuk membebaskan Palestina dan seluruh negeri-negeri muslim saat ini yang sedang terjajah. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Sumber :

[1] https://muslimahnews.net/2022/10/27/13438/