August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengambil keuntungan dari eskalasi konflik Israel baru-baru ini di Yerusalem, Sheikh Jarrah dan Gaza untuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah pemimpin kaum muslimin, dan untuk mencapai tujuan politik dalam negerinya. Ia meluncurkan kritik tajam setiap hari kepada Israel, menggambarkannya sebagai “negara teror” dan “tidak bermoral”. Tetapi ada sisi lain dari kebijakan Erdogan dengan Israel. Di balik layar, ia mengorbankan upaya yang besar untuk melakukan normalisasi, meningkatkan hubungan negaranya dengan negara Arab, menumbuhkan pertukaran perdagangan, dan kerja sama intelijen.

Sinan Ülgen, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri di Istanbul, memandang bahwa, “Eskalasi dan ketegangan di Yerusalem Timur pecah pada saat yang buruk bagi Turki.” Ülgen menyatakan, saat ini di bawah naungan pernyataan Erdogan yang anti-Israel, sulit untuk bergerak maju ke depan dalam proses pemulihan hubungan antara Turki dan Israel.

Yedin Sezer, seorang analis politik Turki spesialis kebijakan luar negeri, mengatakan bahwa Erdogan dan partainya seharusnya bertindak (berkenaan dengan dengan eskalasi yang sedang berlangsung). Dengan cara ini, terutama untuk alasan politik internal, –dengan mencatat bahwa pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki tidak puas dengan jalannya normalisasi hubungan dengan Israel– Presiden Turki sering menggunakan retorika agama atau retorika nasionalisnya untuk menggalang dukungan.

Hal ini bertepatan dengan terungkapnya hasil dari jajak pendapat tentang rendahnya popularitas Erdogan dan partainya, karena kegagalannya menyelesaikan masalah yang dihadapi pemerintah seperti kegagalan mengatasi pandemi Corona, juga krisis ekonomi yang melanda negara itu sejak lama. Hal lain yang terkait adalah bahwa Ankara berupaya untuk memimpin dunia Islam. Dalam pidatonya di hadapan para Menteri Luar Negeri dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang beranggotakan 56 negara Islam, Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Avuşoğlu menekankan bahwa, “Umat Islam sedang menunggu kita untuk memainkan peran utama.”

Al-Waie: Sesungguhnya posisi Turki terhadap berbagai persoalan kaum muslimin berada pada posisi propaganda, kepentingan, nasionalisme dan patriotisme dengan berbalut kedok agama. Berkenaan dengan masalah Palestina, Turki tidak melihat ada yang salah dengan pendudukan Israel atau dengan resolusi internasional yang mengabaikannya, melainkan terhadap penganiayaan Yahudi secara kemanusiaan kepada rakyat Palestina.

Dalam salah satu pernyataannya, Erdogan mengatakan, “Kami tidak mungkin menerima kebijakan politik Israel terhadap Palestina. Perilaku tanpa belas kasih mereka itulah yang tidak dapat diterima.” Setelah berlalu, kemudian ia mengatakan, “Jika tidak ada masalah di tingkat yang lebih tinggi, hubungan kami (Turki-Israel) akan sepenuhnya berbeda.. Kami ingin menjadikan hubungan kami ke satu titik yang lebih baik.”

Sesungguhnya kebijakan politik yang dilakukan oleh Erdogan ambigu dan jauh dari pemahaman Islam yang benar, bahkan lebih dekat dengan sudut pandang Barat terhadap Islam. Ia menjalankan sistem pemerintahan sekuler sebagaimana yang ia deklarasikan; karena ia meyakini bahwa tidak ada perpolitikan dalam ajaran agama Islam, yang ada hanyalah ajaran Islam yang mengatur persoalan individu saja. Problematika Palestina diselesaikan olehnya dengan adanya kepentingan-kepentingan di dalamnya. Karena pandangan Erdogan terhadap problematika tersebut sebatas dalam konteks kemanusiaan semata, bahwa penduduk Palestina adalah kaum muslimin.

Karena itulah, kita tidak melihat suatu sikap Islami yang hakiki, yang diarahkan pada problematika Palestina sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh para sultan, seperti Sultan Abdul Hamid II. Hubungan dualisme (antara Turki) dengan Israel adalah buktinya. Lebih jelas dari itu, para pemimpin Yahudi sendiri tidak menuduh Erdogan memiliki tendensi agama yang membuat mereka takut.

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 418, terbit pada Dzulqa’dah 1442 H/Juli 2021 M

Sumber :
http://www.al-waie.org/archives/17800