September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com, Beberapa hari terakhir Afghanistan mengalami proses perubahan kepemimpinan politik di negaranya. Yakni dengan adanya penguasaan Taliban di pusat pemerintahan. Namun apa yang diharapkan masih jauh dari harapan, yakni kemenangan bagi masyarakat dan dunia Islam. Pasalnya apa yang dilakukan Taliban justru seperti masuk ke dalam lubang yang dibuat Amerika dan sekutunya. Lubang jebakan tersebut adalah perundingan dan negosiasi yang merupakan salah satu strategi Amerika dalam aktivitas politiknya dari hard power menuju soft power.

Mengapa sedemikian mudah Taliban menguasai Afghanistan dalam hitungan pekan bahkan hari, dan kenapa seolah-olah Amerika tidak berdaya menghadapi situasi ini? Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di Suriah, yang sampai saat ini belum ada suksesi kepemimpinan baru. Bahkan krisis Suriah sudah berlangsung lama. Maka patut dicurigai, apa yang terjadi di Afghanistan, serta penguasaan Taliban diakibatkan adanya peace deal atau kesepakatan damai antara Taliban dengan Amerika Serikat.

Keterlibatan Taliban ke dalam negosiasi dengan Amerika dan agen-agennya di rezim Afghanistan ini merupakan kesalahan besar. Salah satu kesepakatan Taliban dengan Amerika telah terjadi di Doha, Qatar pada tahun 2020 lalu. Kesepakatan tersebut terjadi pada tanggal 29 Februari 2020, dari pihak Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar yang menjadi negosiator dalam perundingan tersebut.

Secara garis besar ada empat kesepakatan yang diputuskan pada perjanjian Doha tersebut. Pertama, Jaminan dan mekanisme penegakan untuk melarang penggunaan Afghanistan oleh suatu kelompok atau individu yang bertentangan dengan keamanan Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua, Jaminan dan mekanisme penegakan, untuk pengumuman batas waktu adanya penarikan semua pasukan asing dari Afghanistan.

Adapun yang ketiga, setelah pengumuman jaminan untuk penarikan penuh pasukan asing dan garis waktu di hadapan saksi internasional, dan jaminan dan pengumuman di hadapan saksi internasional bahwa tanah Afghanistan tidak akan digunakan untuk melawan keamanan Amerika Serikat dan sekutunya itu terjadi. Selanjutnya, Imarah Islam Afghanistan yang tidak diakui oleh Amerika sebagai negara dan dikenal sebagai Taliban akan memulai negosiasi intra-Afghanistan dengan Afghanistan pada 10 Maret 2020, atau 15 Rajab 1441 H.

Keempat, gencatan senjata permanen dan komprehensif akan menjadi salah satu agenda dialog dan negosiasi intra-Afghanistan. Para peserta negosiasi intra-Afghanistan akan membahas tanggalnya dan gencatan senjata permanen dan komprehensif. Hal ini merupakan implementasi mekanisme bersama, yang akan diumumkan bersama dengan penyelesaian dan kesepakatan di masa depan sebagai peta jalan politik Afghanistan. (state.gov, 20/02/2020).

Intinya adalah adanya kewajiban Imarah Islam Afghanistan (Taliban) yang tidak diakui oleh Amerika Serikat sebagai negara untuk memberlakukan perjanjian tersebut di daerah-daerah di bawah kendali Taliban sampai pembentukan pemerintahan baru Islam yang ditentukan oleh dialog dan negosiasi intra-Afghanistan. Artinya akan ada gencatan senjata sampai pemerintahan baru terbentuk, menjamin keamanan bersama, serta tidak menjadikan Afghanistan di masa depan untuk menjadi musuh Amerika.

Maka wajar saja ketika Taliban masuk ke Kabul dan merebut posisi kekuasaan di Afghanistan, hampir tidak ada kontak senjata. Kesepakatan ini juga memastikan Amerika menarik pasukannya di tanah Afghanistan. Semua kesepakatan ini lah yang disebut sebagai kesalahan besar Taliban. Dan tentu saja siapa saja yang terlibat ke dalam permainan Amerika untuk tetap menguasai dan mejajah tanah negeri-negeri kaum muslimin.

Sebagaimana diketahui bersama konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah dan negeri Muslim secara umum akan dapat selesai apabila AS tidak ikut campur dan mengintervensi di dalamnya. Di Afghanistan sendiri AS telah melakukan intervensi kurang lebih 42 tahun dengan kekerasan. Diantaranya adanya drone yang salah sasaran. Tentu saja tidak masuk akal, drone salah sasaran berulang kali terjadi, dan ini dipercaya oleh masyarakat dunia.

AS juga berulang kali mengklaim sebagai negara demokratis, pada faktanya intervensi yang dilakukan AS sering sekali mendukung pemerintahan yang diktator. Jadi apa yang dilakukan AS hanyalah permainan belaka dalam rangka mencengkeramkan kuku-kukunya di tanah kaum Muslimin.

Oleh karena itu, sudah seharusnya seluruh kaum Muslimin berlepas diri dari AS dan langkah-langkahnya. Hendaknya umat Islam memperbaiki perkara tersebut dengan menghentikan negosiasi apapun dengan Amerika dan sekutunya. Dan juga tidak memberikan peluang bagi Amerika untuk mencapai apa yang tidak dapat dicapainya dalam peperangan.

Hendaknya umat Islam juga menyadari dan meyakini bahwa agenda utama kaum Muslim adalah mengembalikan al-Khilafah setelah sekian lama menghilang. Hal itu merupakan kewajiban dari Allah SWT dan merupakan ketaatan kepada Rasulullah. Sekaligus kewajiban ini merupakan solusi bagi Taliban dan seluruh negeri kaum Muslimin agar dapat bersatu menjadi kekuatan global dunia dalam rangka menghadapi penjajahan Amerika dan sekutunya.
Inilah kemerdekaan hakiki yakni melepaskan penyembahan dan ketaatan kepada sesama makhluk, menuju penyembahan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT yang salah satunya dengan menerapkan hukum-hukumNya. Hendaknya juga umat Islam mengetahui bahwa partisipasi dalam pemerintahan sekuler tidak diterima oleh Allah SWT, karena Allah Yang Maha Perkasa, hanya menerima yang baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” (TQS al-Anfal [8]: 24).[]

Wallahu’alam Bisshowwab