September 15, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com, – Dunia Islam sudah mengalami berbagi periodesasi sejarah dan perubahan. Di saat sistem sekulerisme kapitalisme berkuasa dibawah pimpinan hegemoni AS dan sekutunya paling tidak sudah terjadi beberapa peristiwa penting di akhir kedigdayaan negara adidaya tersebut diantaranya adalah peristiwa Arab springs atau musim semi Arab yang berujung pada perubahan kekuasaan di sejumlah negeri-negeri Islam seperti Tunisia, Mesir, Aljazair dan Suriah. Dan berikutnya peristiwa tumbangnya kekuasaan boneka AS di Afghanistan oleh Taliban.

Menghabiskan Triliunan Dollar

Telah nyata bahwa determinasi kelompok Taliban memang menyulitkan militer AS. AS sudah kehilangan banyak tentara sekaligus biaya yang begitu besar bahkan AS juga kehilangan muka karena tidak sanggup melawan gempuran gerilyawan Taliban.

Dikutip dari BBC.com (16/8) pengeluaran AS di Afghanistan antara 2010 hingga 2012, ketika AS memiliki lebih dari 100.000 tentara di negara tersebut, menurut angka pemerintah AS biaya perang meningkat menjadi hampir $100 miliar per tahun. Pada 2018 pengeluaran tahunan sekitar $45 miliar menurut sumber dari seorang pejabat senior Pentagon yang menyatakan pada Kongres AS tahun itu dikarenakan lebih berkonsentrasi pada pelatihan pasukan Afghanistan.

Menurut Departemen Pertahanan AS, total pengeluaran militer di Afghanistan (dari Oktober 2001 hingga September 2019) telah mencapai $778 miliar. Selain itu, departemen luar negeri AS – bersama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan lembaga pemerintah lainnya – menghabiskan $44 miliar untuk proyek-proyek rekonstruksi. Hal ini menjadikan total biaya – berdasarkan data resmi – menjadi $822 miliar antara 2001 dan 2019 yang digunakan AS sebagai basis untuk operasi terkait Afghanistan hal ini merupakan biaya yang sangat besar sekali.

Sedangkan menurut sebuah studi Brown University pada 2019, telah melihat pengeluaran perang di Afghanistan dan Pakistan, AS telah menghabiskan sekitar $978 miliar (perkiraan mereka juga termasuk uang yang dialokasikan untuk tahun fiskal 2020). Inggris dan Jerman – yang memiliki jumlah pasukan terbesar di Afghanistan setelah AS – masing-masing menghabiskan sekitar $30 miliar dan $19 miliar selama perang. Meskipun menarik hampir semua pasukan mereka, AS dan NATO telah menjanjikan total $4 miliar per tahun hingga 2024 untuk mendanai pasukan Afghanistan sendiri. Sejauh tahun ini, NATO telah mengirim pasokan dan peralatan senilai $72 juta ke Afghanistan. (BBC.com, 16/8/2021)

Sumber Daya Alam Melimpah

Mengapa AS dan sekutunya rela menghabiskan sumber daya yang besar di sana? Tidak hanya kepentingan politik untuk memukul lawan-lawannya, termasuk mencegah bangkitnya Islam politik, tidak menutup kemungkian terdapat motif ekonomi dibalik penguasaan AS. Padahal Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia.

Meskipun demikian, ternyata negara yang terkurung daratan di Asia Selatan dan Asia Tengah ini memiliki kekayaan mineral besar yang belum dimanfaatkan, yang mungkin saja bisa menjadikannya negara paling kaya. Pada 2010, pejabat militer dan ahli geologi AS mengungkap bahwa negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan tersebut memiliki cadangan mineral senilai hampir US$1 triliun. (CNNIndonesia.com, 19/8/2021)

Cadangan mineral yang berada di tanah Afghanistan berupa besi, tembaga, emas, dan mineral tanah jarang yang tersebar di seluruh provinsi. Namun, yang paling utama adalah Afghanistan memiliki cadangan lithium terbesar di dunia. Seperti diketahui, lithium adalah komponen penting baterai dan teknologi lain yang saat ini masih langka.

Kebutuhan akan logam mineral seperti tembaga dan lithium untuk bahan baku untuk memproduksi berbagai produk teknologi non-fosil seperti panel surya dan kendaraan listrik mengalami kenaikan permintaan. Sebuah laporan oleh Pemerintah Afghanistan pada tahun 2017 memperkirakan bahwa kekayaan mineral baru di negara itu mungkin mencapai 3 triliun dollar AS, termasuk bahan bakar fosil. (Kompas.com, 20/08/2021)

Sementara itu, dikutip dari CNN, Rod Schoover, seorang ilmuwan dari Ecological Futures Grou mengatakan, dari letak geografisnya, Afghanistan sudah tentu kaya akan mineral tambang. “Afghanistan tentu saja merupakan salah satu daerah yang kaya akan logam mulia, tetapi juga logam yang diperlukan untuk memenuhi ekonomi yang muncul di abad ke-21,” ujarnya.

Afghanisthan di dalam Cengkeraman Negara Kapitalis
Duta Besar Rusia di Kabul, Dmitry Zhirnov, menyatakan Taliban membuka peluang bagi partisipasi negaranya untuk mengembangkan sumber daya alam Afghanistan. Hal ini membuka bagi siapa saja untuk bersama-sama mengeruk kekayaan sumber daya alam yang ada di Afghanistan.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu (15/8), “Taliban membuka peluang bagi partisipasi kami di di Afghanistan (dalam membangun) perekonomian, termasuk mengembangkan sumber daya alam,” kata Zhirnov kepada saluran YouTube Soloviev Live menurut laporan kantor berita TASS.

Saat negara-negara Barat masih menganggap Taliban sebagai organisasi teroris, tak demikian halnya dengan China dan Rusia. Kedua negara itu kemungkinan akan menjalin kerja sama bisnis dengan pemerintah baru tersebut. Sebagai produsen hampir setengah dari barang-barang industri yang beredar di seluruh dunia, China sangat haus akan bahan baku mineral. Bahkan, sejauh ini Beijing sudah menjadi investor asing terbesar di Afghanistan.

Setelah negara itu dikuasai Taliban, China tampaknya akan memimpin investasi asing di sana. “Kontrol Taliban datang pada saat ada krisis pasokan untuk mineral ini di masa mendatang dan China membutuhkannya,” ujar Michael Tanchum, seorang pakar senior dari Austrian Institute for European and Security Policy.

“China sudah dalam posisi di Afghanistan untuk menambang mineral ini,” kata dia lagi. Salah satu raksasa pertambangan raksasa Asia, Metallurgical Corporation of China (MCC), telah memiliki konsesi 30 tahun untuk menambang tembaga di provinsi Logar yang tandus di Afghanistan.

Harapan pada Tatanan Dunia Baru

Dari pergantian kekuasan di Aghanistan, terungkap juga bahwa kekayaan SDAE yang melimpah menjadi incaran perebutan oleh negara-negara Barat yang eksploitatif, termasuk China dan Rusia yang tidak mau ketinggalan. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam dan sumber dayanya tidak memiliki pelindung karena tiada junnah berupa Khilafah.

Di sisi lain akan ada terus kondisi krisis agar fokus umat pada terjadinya konflik-konflik internal dan abai terhadap skenario perampokan sumber daya alam. Misalnya apa yang terjadi di Indonesia sendiri mengalami penghinaan agama yang terus berulang terjadi, negara gagal menjaga agama. Polisi sudah menangkap Muhammad Kace yang telah menghina agama Islam. Penistaan agama terus berlangsung, menimbulkan kegaduhan dan perpecahan. Terungkap juga setengah juta mahasiwa putus kuliah karena faktor ekonomi dan sosial. Kebijakan penanganan pandemi tidak mencakup pembebasan biaya sekolah dan kuliah. Ancaman kehilangan potensi intelektual generasi berada didepan mata.

Di Barat kasus Covid meledak di AS. Bukti kegagalan strategi penanganan global. Pandemi Covid-19 semakin dalam posisi yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat (AS). Meski memiliki angka vaksinasi yang cenderung tinggi, negara itu tetap mengalami peningkatan infeksi yang signifikan, bahkan lebih dari 1000% bila dibandingkan Juni lalu.

Mengutip data interaktif Covid-19 milik New York Times, pada akhir Juni lalu rata-rata kasus infeksi di Negeri Paman Sam masih berada di level 11 ribuan per minggunya. Namun saat ini rata-rata infeksi mingguan telah mencapai 141 ribu kasus perharinya. Ini merupakan kenaikan lebih dari 10 kali lipat. (CNBCIndonesia.com, 19/8/2021)

Ledakan kasus covid AS setelah tercapai kekebalan kelompok menjadi bukti kegagalan strategi penanganan global. Kepemimpinan WHO dan Lembaga dunia lain terkait ini terbukti gagal menemukan strategi jitu demi eradikasi/pemberantasan wabah. Berarti sistem sekulerisme kapitalis telah gagal.

Oleh karenanya harapan menuju tata perubahan baru tidak terelakkan. Saatnya umat islam menawarkan konsep islam secara utuh menyeluruh (kaffah) untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hadirnya sistem baru yang solutif. Hal itu tidak lain tidak bukan dengan penerapan syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah.[]

WalLahu’alam Bisshawwab