August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Untuk menjadi orang yang mampu memiliki kemampuan menganalisa suatu peristiwa atau berita politik, tentu saja ada beberapa hal yang harus kita pahami. Antara lain pengertian politik itu sendiri. Politik menurut beberapa pendapat para pakar dan ahli bisa kita pahami dari berbagai sumber buku dan literatur. Namun dari semuanya itu merujuk pada satu defenisi bahwa politik terkait erat dengan sistem pengaturan kehidupan masyarakat yang dilakukan oleh kekuasaan dalam bentuk negara atau masyarakat itu sendiri.

Sementara itu pengertian politik dalam perspektif islam dinyatakan dalam bahasa arab dengan istilah سياسة (baca : siyasah) yang berarti; mengurusinya, melatihnya dan mendidiknya. Dan juga sejalan dengan hadist Rasul : “Adalah bani israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak khalifah”. (HR Bukhari dan Muslim). Berarti politik makna awalnya mengatur urusan masyarakat. Berkecimpung dalam politik berarti memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezaliman dan melenyapkan kejahatan musuh.

Maka yang dimaksud dengan pengertian politik dalam Islam yaitu bermakna pengaturan, pengurusan dan pemeliharaan berbagai urusan masyarakat dengan tatanan yang sesuai dengan Islam di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemeliharaan urusan umat dalam negeri dilakukan dengan penerapan seluruh hukum dan peraturan yang merupakan bagian dari ideologi islam. Sementara untuk urusan umat di luar negeri dilakukan dengan dakwah dan jihad.

Menurut An-Nabhani (1953) berfikir politis adalah berfikir pada teks-teks politis. Berbeda dengan berfikir tentang teks-teks hukum, teks-teks sastra dan teks-teks pemikiran. Berfikir politis merupakan jenis kegiatan berfikir paling tinggi dan paling sulit. Yang dimaksud paling tinggi karena berfikir politis menuntut berfikir segala hal dan peristiwa, sedangkan berifikir paling sulit adalah bahwa berfikir politis tidak memiliki kaidah atau patokan tertentu.
Agar kita dapat berfikir politis paling tidak ada syarat-syarat yang harus dimiliki, antara lain:

  1. Mengikuti secara terus-menerus seluruh berita peristiwa yang terjadi di dunia dan mempertimbangkan berita yang memang harus diketahui mata rantainya, misalnya, peristiwa amandemen keempat UUD 45 sejak 1999. Tentu saja kita harus mengetahui sejak amandemen yang pertama hingga yang keempat.
  2. Membutuhkan adanya pengetahuan-pengetahuan awal atau dasar tentang substansi berita misalnya pengetahuan tentang geografi, sejarah, ideologi, pemikiran politik, dsb. Misalnya, disaat kita ingin memahami apa yang terjadi pada konflik di Palestina, tentu saja harus memahami sejarah, geografi dan ideologi pada permasalahan tersebut.
  3. Tidak melepaskan peristiwa atau berita dari konteks-konteks situasi dan kondisinya, serta tidak menggeneralisasi atas peristiwa atau berita. Tidak melepaskan peristiwa atau berita dari konteks-konteks situasi dan kondisinya, misalnya berita mengenai bantuan 50 juta dolar AS untuk memerangi terorisme dianggap bantuan yang saling menguntungkan. Padahal ini sejalan dengan program AS dalam “global on terrorism”. Sedangkan tidak menggeneralisasi peristiwa, misalnya mengopinikan “agama sebagai sumber konflik” untuk kesimpulan dalam kasus yang terjadi di Ambon, dan Israel – Palestina. Padahal ada masalah lain yaitu berkenaan dengan sasaran politik dan ekonomi politik dari kapitalis.
  4. Mengidentifikasikan peristiwa dan kejadian dengan cara memeriksanya secara teliti sehingga dapat diketahui sumber berita, tempat terjadinya, tingkat kepercayaan berita, dsb intinya pemeriksaan secara teliti. Misalnya, diisukan bahwa dalang peristiwa peledakan WTC adalah Usamah bin Ladin, hal ini tentu saja harus diteliti lebih lanjut dan lebih mendalam.
  5. Mengaitkan berita dengan berbagai informasi, terutama informasi berupa berita-berita yang lain. Misalnya, sebuah berita ekonomi bisa dikaitkan dengan berita politik. Atau bantuan AS ke Filipina sebanyak 55 jt dollar untuk memerangi terorisme domestic dikaitkan dengan berita pernyataan AS bahwa adanya militan-militan di tempat-tempat yang mengkhawatirkan. Ternyata diindikasikan tempat-tempat yang mengkhawatirkan tersebut berada di daerah Asia Pasifik. Termasuk Filipina dan Indonesia.

Namun syarat-syarat di atas tidak bisa dilepaskan dari asas berfikir seseorang yaitu berfikir secara sistemik dan ideologis. Apabila Kesadaran politik yang dibangun seseorang dengan benar maka akan melibatkannya dalam proses perjuangan politik yang hakiki, yaitu dakwah. Dengan cara menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan dan menjadikan Islam sebagai “The Way Of Life” maka akan terbangun secara benar tentang kesadaran politik.

Setelah kita memahami mengenai politik, kemudian syarat-syarat berfikir politis, maka selanjutnya kita harus memiliki teknik-teknik atau cara untuk menganalisa suatu peristiwa atau berita politik. Dan perlu kita pahami juga tidak selamanya suatu analisa itu tepat 100%, tetapi paling tidak lebih tepat mendekati. Karena suatu peristiwa politik bisa berubah dengan cepat dalam hitungan jam bahkan menit. Adapun teknik-teknik menganalisa peristiwa atau berita politik antara lain :

  1. Faktor pribadi politis
    Yang pertama adalah diri kita sendiri, kita harus terus mengupgrade atau meningkatkan kemampuan. Dalam meningkatkan kemampuan, paling tidak kita harus menyiapkan dua hal;
    a. Mempunyai pisau bedah peristiwa, yang berarti kita mempunyai alat untuk membedah peritiwa tersebut. Dan adapun alat yang dapat membedah suatu peristiwa tidak lain kita harus mempunyai cara pandang atau ideologi. Sebab suatu peristiwa politik mempunyai sudut pandang ideologi tertentu.
    b. Validasi peristiwa politik, maksudnya adalah kita harus betul-betul menerima kevalidan suatu peristiwa atau berita. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan rumus 5W + 1 H, yaitu What (apa yang sedang terjadi), Where (dimana peristiwa tersebut terjadi), Who (siapa saja yang telibat), When (kapan waktu kejadiannya), Why (mengapa hal itu bisa terjadi), dan How (bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi).
  2. Faktor obyek Politik
    Meliputi obyek atau kerangka pemahaman, antara lain :
    a. Input fakta politik, maksudnya ketika kita menerima fakta politik harus diketahui sumber fakta-fakta tersebut, latar belakang person atau seseorang yang menyampaikan, kaitan dengan peristiwa sebelumnya, selain itu juga mengetahui sejarah sebelum kejadian yang meliputi dokumen politik dan arsip sejarah.
    b. Proses politik, artinya kita mengetahui apa-apa saja yang melingkupi sebuah fakta politik. Dalam hal ini ada dua hal yaitu secara eksternal dan internal. Misalnya peristiwa peledakan bom bali, peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi disaat bom itu meledak, ungkapan saksi mata, rekaman-rekaman atas peristiwa itulah disebut sebagai proses politik.
    c. Output politik, adalah merupakan hasil dari fakta politik, hal ini terkait isi pernyataan dan siapa yang mengungkapkan. Bahkan, kalau perlu kita memahami makna per kalimat dan per kata isi dari pernyataan tersebut. Misalnya, pernyataan presiden G.W.Bush ketika berencana ingin menggempur Irak. Sebagai kepala negara tentu saja memiliki peluang lebih besar dalam merealisasikan rencana tersebut dibandingkan Colin Powell (Menhan AS) pada waktu itu. Karena kepala negara memilki kekuasaan diatas menteri pertahanan.

Selain itu, beberapa catatan penting antara lain yang harus kita perhatikan adalah;

  • Membentuk lingkungan politik, maksudnya berarti pemahaman terhadap lingkungan politik, terkait dengan fakta tetapi tidak berpengaruh secara langsung terhadap fakta, misalnya pendapat para tokoh yang ahli di bidangnya, ahli bom memberikan gambaran tentang bom bukan dari pengamatan politik tetapi pencermatan mendetail tentang bom itu sendiri. Unsur-unsur bom hingga daya ledaknya. Berarti kita memerlukan kategorisasi person-person yang berhubungan dengan sebuah peristiwa, apakah termasuk pengamat, para ahli atau tokoh negara.
  • Klasifikasi negara-negara di dunia juga sangat penting. Ada beberapa pembagian yaitu negara poros, negara pengikut, dan negara yang dipengaruhi. Negara mana yang punya pengaruh dan menjadi rujukan bagi negara lain ini harus diklasifikasikan agar kita memiliki gambaran tentang kebijakan negara tersebut.
  • Memahami garis-garis besar strategi dari sebuah negeri adidaya juga salah satu pemahaman yang minimal kita ketahui. Karena biasanya negara-negara di dunia sejalan dengan garis-garis besar yag telah dibuatnya.

3. Faktor pengaitan peristiwa
Sebanyak apapun berita yang dikumpulkan jika tidak bisa mensintesa (baca:mengaitkan) menjadi sebuah analisa politik maka tidak akan berguna. Pengetahuan ini harus selalu diasah, yaitu pengetahuan untuk selalu mengaitkan peristiwa dan menganalisa peristiwa tersebut. Bisa dimulai dari kategorisasi berita, melihat tmaslahat yang bermain, yang akhirnya ditentukan oleh kategorisasi tingkat kepentingan dari negara yang berpengaruh. Kemampuan inilah yang harus terus-menerus dilatih. Semakin sering dia mengasah kemampuannya, maka semakin mendekati ketepatan analisa yang dilakukannya.

Wallahua’lam bis showab

Sumber bacaan :

Kurnia, M.R. “Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif”. Al-Azhar Press.2004.
An-Nabhani. “Hakekat Berpikir”. Pustaka Thoriqul Izzah.2010.
Muhammad Husain Abdullah. “Mafahim Islamiyah”. Al-Izzah.2003.