October 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Ustadz Muhammad Ismail Yusanto

Andai tidak membaca Al-quran, kita tetap akan mengetahui bahwa manusia mengalami dua fase yakni yang pertama adalah fase kehidupan dan yang kedua adalah fase kematian. Hal ini merupakan fakta. Siapapun pasti akan mengalami kelahiran dan kematian. Namun jika tidak membaca Al-quran manusia tidak mengetahui kemana setelah kematian.
Apabila mau membaca Al-quran maka yakinlah bahwasanya Al-quran adalah kalamullah atau firman Allah SWT. Maka dari itu akan diketahui bahwa setelah kematian nanti akan dibangkitkan oleh Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia.
Kemudian sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan dibangkitkan dan kebangkitan di hari kiamat adalah sebuah kepastian. Ini bukan seperti yang disampaikan oleh ibu-ibu tokoh partai, dongeng atau ramalan masa depan, bukan! Tetapi ini adalah sebuah kepastian.

Pertanyaannya kemudian adalah kemana setelah manusia dibangkitkan? Al-quran memberikan penjelasan secara nyata bahwa hanya ada 2 kemungkinan setelah manusia dibangkitkan yaitu menjadi ashabulyamin (golongan kanan) atau ashabussyimal (golongan kiri). Siapa itu ashabulyamin? Yakni ashabuljannah dan siapa ashabussyimal? Yakni ashabunnar yang berarti penghuni neraka.

Tentu saja tidak ada satupun manusia yang ingin menjadi bagian dari ashabussyimal. Bahkan Allah SWT menyebut mereka sebagai bi’sal masir yaitu sebagai seburuk-buruknya tempat kembali yang didalamnya terkumpul seluruh penderitaan bahkan segala macam penderitaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah telinga mendengar, dan belum ada satupun yang pernah merasakannya.

Digambarkan di dalam sebuah hadits dalam kitab Al-Jannah Wannar, bahwa siksa paling ringan di neraka adalah mereka dikenakan terompah yang terbuat dari api neraka dan cukup membuat otak mendidih. Dapat dibayangkan apabila manusia mencoba berjalan kaki tanpa alas kaki di tengah siang hari terik matahari dan di atas aspal yang sangat panas. Kakinya mungkin akan melepuh, tetapi tidak akan pernah membuat otak itu mendidih. Bahkan siapa saja yang mendapatkan siksa ini akan merasakan bahwa siksa inilah yang paling berat padahal merupakan siksa yang paling ringan.

Oleh karena itu jelaslah bagi kita tidak ada pilihan lain. Manusia semua pasti menginginkan menjadi bagian dari ashabul yamin yakni golongan kanan, yaitu ashabul Jannah. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa memastikan dan menjamin manusia kelak menjadi bagian dari ashabulyamin, apa yang bisa memastikan? Dan apa jaminannya?

Hanya ada satu yang bisa memastikan bahwa manusia kelak akan menjadi bagian dari ashabulyamin. Apa itu? yaitu ketika manusia tersebut menjalani kehidupan di dunia yang sementara ini sesuai dengan misi penciptaan Allah SWT yaitu untuk ibadah. Sebagaimana diketahui bahwa semua ini diciptakan oleh Allah SWT tidak lain untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Adzariyat ayat 56.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Apa itu ibadah? Imam Malik menyatakan bahwa ibadah adalah taat kepada Allah tunduk kepadanya dan berpegang teguh kepada apa yang disyariatkan oleh Allah di dalam agama-Nya. Ringkasnya ibadah adalah terikat kepada syariat Allah dan terikat kepada syariat agama Allah, syariat Islam.

Apa makna terikat kepada syariat Allah? Berarti menjadikan syariat Allah sebagai tolak ukur perbuatan atau miqyasul amal. Haram oleh syariah maka haram pula apa yang dilakukan. Jika halal menurut syariah maka halal juga bagi manusia. Apa yang diharamkan oleh syariah maka harus ditinggalkan dan hanya melakukan apa saja yang telah dihalalkan oleh syariat. Inilah esensi dari takwa yaitu sikap seorang Muslim untuk tunduk setunduk-tunduknya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah An-Nur ayat 51
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Di dalam frase kalimat yang pendek, yaitu sikap sami’na wa atho’na terhadap seluruh perintah dan larangan Allah SWT meskipun perintah tersebut tidak masuk akal. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada Nabi Nuh yang diperintahkan untuk membangun bahtera di puncak bukit. Jika perintah membangun bahtera tersebut di tepi pantai mungkin masih dapat dicerna oleh akal sehat. Namun jika perintah ini di puncak bukit?

Atau perintah tersebut seakan-akan menuurut akal tidak sesuai dengan persoalan manusia sebagaimana perintah Allah SWT kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkat ke tepian laut, padahal apa hubungannya dengan persoalan yang sedang dialami oleh Nabi Musa? Persoalan Nabi Musa ketika itu sedang dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya, terpojok di tepian laut merah dan tidak ada jalan lain. Jika mundur akan semakin dekat dengan Fir’aun dan bala tentaranya, tetapi jika maju maka akan tenggelam. Pada titik itulah Allah memerintahkan untuk memukulkan tongkat itu ke tepian laut, Laut Merah.

Atau sekilas perintah tersebut tampak kejam sebagaimana perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. Yakni perintah untuk menyembelih putranya, padahal putranya adalah sosok yang sudah lama sekali dinantikan sehingga Nabi Ibrahim begitu sayang kepadanya. Dan ketika putranya mulai tumbuh dewasa, di titik ini datanglah perintah Allah untuk menyembelih kekasih hatinya tersebut. Inilah takwa yaitu melaksanakan perintah itu dengan sepenuh jiwa.

Kenapa mereka melakukan perintah itu dengan sepenuh jiwa? Karena adanya keyakinan bahwa Allah SWT tidak mungkin mendzolimi hamba-Nya dan meyakini bahwa perintah Allah pasti baik untuk hamba-Nya. Oleh karena itu perintah-perintah tersebut senantiasa dilaksanakan oleh Nabi Nuh membangun bahtera dipuncak bukit, memukulkan tongkat ke tepian laut oleh Nabi Musa dan begitu juga dengan Nabi Ibrahim.

Inilah taqwa yang harus diwujudkan di dalam kehidupan. Apabila ada persoalan yang sangat penting dalam hidup, bukanlah tentang kehidupan manusia, apalagi harta benda atau jabatan bahkan karir. Akan tetapi persoalan yang penting adalah bagaimana manusia hidup yang singkat ini dapat menjadi seorang hamba Allah SWT yang bertaqwa kepada-Nya. Hal ini adalah yang akan menentukan tinggi dan rendah derajat manusia dihadapan Allah SWT. Dan kesempatan untuk meraih takwa tersebut hanyalah pada saat manusia hidup di dunia ini.[]

Wallahu’alam Bisshowwab