October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Kholid Mawardi

Masih ingat dengan sinetron Sengsara Membawa Nikmat? Bagi generasi milenial awal pasti ingat atau malah enggak sekadar ingat, tapi penonton setia. Sinetron yang diangkat dari novel karya Tulis Sutan Sati ini menyuguhkan kisah hidup penuh liku yang diwarnai berbagai kesengsaraan Si Midun, pemuda Minangkabau yang berakhir dengan bahagia bersama Halimah.

Tapi bukan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tentu saja setiap Muslim itu pasti ingin meraih kebahagiaan dan kenikmatan, baik duniawi maupun ukhrawi. Dan untuk meraihnya banyak yang harus melewati berbagai hambatan dan rintangan. Sama seperti Si Midun yang kisahnya terus menerus menghadapi kesulitan bahkan kesengsaraan, tapi akhirnya happy ending.

Tiap diri kita pun punya kisah masing-masing dalam menghadapi hidup ini. Dan pasti pernah menghadapi tantangan dan berbagai kesulitan, dari yang kecil hingga yang besar. Terkadang ada yang bisa menghadapinya, ada pula yang mentok bahkan putus asa. Bukan kenikmatan yang diraih, tapi kesengsaraan sepanjang masa.

Nah, lantas bagaimana agar kita bisa meraih kenikmatan yang didambakan? Sebenarnya ada kenikmatan yang bersifat semu dan ada juga yang bersifat hakiki. Kenikmatan semu identik dengan kenikmatan duniawi yang pencapaiannya sebatas untuk memenuhi hawa nafsu. Ada sebagian orang yang memenuhinya asal bisa meraih nikmat, haram pun diembat. Enggak peduli. Demi mengejar nikmat dunia malah membuat orang lain sengsara.

Lihat saja para penjahat. Mereka bermaksiat untuk meraih nikmat. Baik penjahat kelas teri maupun penjahat berdasi. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih harta, wanita dan juga suara, atau kekuasaan.

Seolah kenikmatan dunia adalah segalanya. Semua energi dikerahkan untuk meraihnya. Bagi yang punya kuasa, seolah mereka bebas untuk melakukan apa pun. Yang mengganggu, akan disikat tanpa ampun. Miris!

Padahal kenikmatan dunia hanyalah sementara yang melalaikan. Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya: “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan.” (QS Al Hadid: 20).

Rasulullah SAW pun menegaskan: “Siapa yang dunia menjadi keinginan terbesar di hatinya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya.” (HR Ibnu Majah).

Jelas, dunia bukanlah segalanya. Boleh untuk menikmatinya. Tapi ketika salah dalam meraihnya niscaya bukan kenikmatan tapi malah kehinaan. Semoga Allah SWT hindarkan kita dari kenikmatan yang melalaikan. Aamiin…

Beda dengan kenikmatan dunia, kenikmatan akhirat adalah kenikmatan hakiki. Sejati, kekal abadi. Kenikmatan yang didambakan oleh setiap orang yang beriman. Jauh dibandingkan dengan kenikmatan dunia yang diibaratkan hanya setetes air di ujung jari dibanding luasnya lautan.

Dalam haditsnya Rasulullah SAW menuturkan: “Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya.” (HR Muslim).

Modal utama untuk meraihnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat dengan segala syariah-Nya. Bukan yang lain. Apa pun risikonya. Terlebih bagi para penyeru kebaikan. Dalam ketaatannya pasti akan menghadapi tantangan, hambatan dan rintangan. Tetap sabar dan tegar. Para Nabi dan Rasul pun telah meneladankan.

Allah SWT pun telah berjanji bagi orang yang taat akan meraih nikmat sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa: 69)

Semoga Allah SWT jadikan kita sebagai hamba-Nya yang taat tanpa tapi agar bisa meraih nikmat yang hakiki. Sengsara membawa nikmat sebagaimana dalam judul sinetron si Midun, namun bagi tiap Muslim seharusnya taat membawa nikmat. Bismillah… Semangat![]