October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Mia Purnama, S.Kom (Aktivis Back to Muslim Identity)

Entah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan negeri ini. Ditengah kehidupan rakyat yang semakin sulit dan menghimpit. Pemerintah malah mengeluarkan aturan yang membahas tentang bonus yang akan di berikan kepada wakil menteri.

Aturan yang tertuangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) 77/2021 tentang Wakil Presiden yang diteken Jokowi pada 19 Agustus lalu menyebutkan bahwa wakil menteri yang berhenti atau telah menyelesaikan masa jabatannya akan diberikan uang penghargaan atau bonus. Adapun besaran bonus yang akan diterima eks wakil menteri itu sebesar Rp580.454.000 untuk satu periode masa jabatan.

“Uang penghargaan bagi wakil menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak sebesar Rp580.454.000,00 (lima ratus delapan puluh juta empat ratus lima puluh empat ribu rupiah) untuk 1 (satu) periode masa jabatan wakil menteri,” demikian isi tertulis yang tertera pada Pasal 8 Ayat (2). (Tagar.id, 30/8/2021)

Aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah ini semakin mempertontonkan kepada rakyat bahwa para pejabat telah kehilangan sense of crisis. Selain itu, semakin menguatkan pandangan publik bahwa jabatan di sistem sekuler saat ini hanya bagian dari politik balas budi dan politik kekuasaan.
Itulah tabiat pemimpin di sistem demokrasi. Memperebutkan kursi kekuasaan semata untuk memperkaya diri dan menzalimi rakyat. Pejabat yang dipilihpun bukan semata karena kualitas dan profesionalitas. Melainkan karena politik balas budi. Akhirnya lahirlah pemimipin-pemimpin yang jauh dari kata “ideal”. Tidak peduli dengan urusan rakyatnya bahkan hanya merugikan rakyat dan negara.

Hilangnya rasa malu dan ketulusan untuk mengabdi menjadikan penyebab bahwa pemimpin saat ini tidak layak untuk memimpin. Pemimpin seperti ini hanya gila jabatan dan rakus akan kekuasaan seperti halnya Firaun yang telah Allah kisahkan di dalam Alquran surah al-Qashash ayat 38.

Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.” (Q.S al-Qashash : 38).

Fakta pemimpin seperti ini sangat berbeda kepemimpinan di era Khilafah Islamiyah. Misalnya sosok khalifah Abu Bakar dan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Kedua sahabat Rasulullah tersebut merupakan sosok pemimpin yang layak dicontoh oleh pemimpin manapun. Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab meskipun daerah kekuasaan yang luas, namun keduanya tidak tinggal di istana megah dan berpakaian mewah. Sense of crisis mereka sangat jelas disaat masalah sedang terjadi di Daulah Islam. Contohnya ketika musim paceklik melanda sebagian wilayah Daulah Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Umar bin Khattab justru memilih untuk hidup sangat sederhana dan sekedar menyantap minyak zaitun. Selain itu Umar juga ikut memasak d kamp-kamp para pengungsi.

Itulah sosok pemimpin yang dirindukan umat Islam dan masyarakat. Mereka selalu hadir disaat umat membutuhkannya. Kepedulian dan kepekaan terhadap kondisi rakyat betul-betul tampak dan diaplikasikan secara langsung bukan sebagai pemanis atau pencitraan diri. Jadi bukan tentang bagaimana kondisi dalam negeri yang sedang kesusahan, sesungunhnya kebersamaan yang dilakuan oleh pemerintah yang diperlukan oleh rakyat. Kebersamaan itu sudah cukup memberikan kebahagiaan walaupun berada di tengah-tengah kesulitan yang sedang dihadapi. Tapi apa daya, jangan hadir atau peduli yang ada justru malah membuat aturan untuk menyakiti hati rakyat.

Sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab tidak akan pernah lahir di sistem sekuler seperti sekarang. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (Sekuler). Sistem yang pemimpinnya dipilih dan berambisi berebut kursi. Pemimpin yang hanya mementingkan dan memperkaya diri lewat jabatan. Akhirnya pemimpin ini juga yang berusaha membuat dan menetapkan berbagai kebijakan demi memuluskan tujunnya. Jika hal ini terus dibiarkan, kehancuran negeri sudah di depan mata.

Oleh karena itu Indonesia perlu solusi. Yakni perlu akan kehadiran pemimpin yang benar-benar tulus untuk melayani rakyat dan mensejahterakan rakyat. Bekerja untuk rakyat dan ikhlas semata karena Rabb-nya. Pemimpin seperti ini hanya lahir di sistem Islam. Pemimpin yang memahami bahwa kepemimpiannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. []

Wallahu’alam bisshawwab