October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sri Suarni (Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Agenda spesial telah dilaksanakan dari Komunitas Serabi Ibu (Serial Asyik Bincang Islam bersama Para Ibu), dengan mendapuk duo tamu spesial sebagai narasumber, yakni Dewi Sandra dan Ummu Sajjad.

“Jangan Lelah Berhijrah” tema yang diangkat. Menurut Dewi Sandra, hijrah tidaklah semudah membalik telapak tangan. Hijrah adalah dengan segala keterbatasan untuk senantiasa berusaha dan mengupayakan. Dan salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mencari ilmu di banyak tempat dan kesempatan. Sebab hijrah tidaklah mudah jika tidak ada ilmunya. Tidak cukup hanya sekedar menggunakan pakaian syar’i namun juga harus dibekali dengan pakaian ketakwaan. Maka tidak ada alasan untuk malas berjuang, mencoba menyelamatkan diri sendiri dengan cara mencari ilmu.

Dewi Sandra mengistilahkan hijrah dengan PDKT (red_pendekatan) kepada Allah SWT. Yang artinya kita harus mendekati apa yang Allah SWT suka dan sebaliknya menjauhi yang tidak disukai Allah SWT. Hijrah merupakan perjalanan panjang, tidak bisa dilakukan secara instan. Dengan kata lain, kita memperbaiki diri kita untuk menjadi lebih baik menurut versi dari Allah SWT. Maka harus diupayakan, bukan dengan bersantai diri.

Bagaimana kita menjalani up and down dalam proses hijrah? Atau bagaimana sikap kita di saat turun naiknya semangat dalam proses hijrah? Maka haruslah tetap belajar. Ini merupakan PR besar bagi kita dalam proses hijrah. Selain itu manusia adalah makhluk yang lemah, apabila ada sedikit saja perasaan senang dipuji dan merasa mampu melaksanakan segalanya sendiri tanpa orang lain dalam konteks menyombongkan diri, maka itu merupakan salah satu sifat syaitan yang menjadikan kita akan salah dalam menjalani proses hijrah tersebut. Maka upayakan selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT.

Allah SWT Maha Tahu bagaimana hati kita saat mendapatkan pujian, apakah akan menjadi sombong atau tidak? Padahal tujuan hijrah kita untuk mencari ridha Allah semata. Kita harus dapat mengenal dan mengetahui diri kita saat ada yang memuji atau mengoreksi. Sifat manusia bisa berubah-ubah, maka perbaiki nawaitu (niat) kita dengan berharap nilai raport yang akan kita dapatkan dari Allah saja.

Betapa cintanya Allah kepada kita, menginginkan hamba-Nya agar selalu kembali on the track yang benar. Salah satu upayanya adalah mencari guru atau pembimbing yang bisa melihat kelemahan agar kita selalu dikoreksi dan dinasehati.

Sedangkan nara sumber berikutnya yaitu Ummu Sajjad menyampaikan bahwa kita semua sebagai pelaku hijrah harus berjuang tidak hanya secara fisik. Harus selalu belajar dan berbagi kenikmatan hijrah serta menularkan kebaikan kepada orang lain. Sehingga manfaat tidak hanya dirasakan diri sendiri tapi juga berbagi lezatnya iman yang didapatkan. Perjalanan hijrah kita sepanjang hidup, dan akan berhenti ketika kita dipanggil pulang oleh pemilik jiwa, yaitu Allah SWT.

“Tiga hal penting yang harus kita tanamkan dan menjadi pelajaran” tutur Ummu Sajjad.

Pertama, kita belajar dari pengalaman diri kita dan orang lain. Kedua, upayakan selalu berdoa untuk memohon istiqomah diri dan mendoakan saudara muslim kita yang lalai, untuk kembali ke jalan Allah SWT. Hijrah tidak hanya berubah secara fisik tapi pada dasarnya hijrah adalah kembali ke fitrah asal manusia yang taat kepada Allah secara total. Ketiga, saat dipuji maka kita harus tetap menjaga hati, sinkronkan dengan pikiran dan tetap melaksanakan menjaga hati sebagai upaya menjalankan perintah Allah SWT.

Bahwasanya segala sesuatu yang ada di dunia merupakan ujian hidup. Maka dalam kehidupan, ada ujian yang akan terus berlangsung selamanya. Sehingga kita tidak boleh merasa puas dalam menuntut ilmu.

Makna hijrah tidak hanya sekedar pindah, namun berupaya juga untuk mendakwahkan Islam. Esensi hijrahnya Rasul saw, lebih dari sekedar pindah dari Makkah ke Madinah. Karena sebelumnya Rasul saw, telah mengupayakan untuk mendakwahkan Islam di Makkah namun banyak terjadi penolakan bahkan menghadapi berbagai upaya yang membahayakan nyawanya. Hijrahnya Rasul saw ke Madinah, karena Rasul saw melihat kesiapan penduduk Madinah dalam menerima Islam, tidak hanya kesiapan secara jasmani tapi juga kesiapan menerima penerapan aturan dari Allah SWT.

Proses hijrah Rasul saw, bukan hanya sekedar menjadikan Islam sebagai aturan untuk individu, sebab Islam mengatur Hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia), aturan habluminannafs (hubungan manusia dengan diri sendiri) dan HabluminAllah (hubungan manusia dengan Allah). Maka Rasul memilih Madinah sebagai tempat yang sempurna untuk memulai menjalankan kesempurnaan aturan Islam. Sebagaimana firman Allah SWT. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (QS : Al Maidah [5] : 3).

Berikut tips dari Dewi Sandra dan Ummu Sajjad ini agar kita tidak malas dalam proses hijrah:

  1. Harus tetap mengupayakan cari teman shalihah, jika bisa diatas level kita untuk mengingatkan dan mendapatkan energinya sehingga membuat kita terpacu untuk meluruskan niat. Karena jika kita berteman dengan teman yang lalai atau maksiat, kita juga bisa tertular energi yang negatif. Karena hijrah adalah kembali kepada ketaatan kepada Allah SWT.
  2. Carilah lingkungan yang baik. Itulah kenapa dalam Islam diutamakan mencari rumah dan lingkungan yang baik. Yang masih single agar mencari pasangan yang baik. Bergabung dalam suatu komunitas yang punya kemampuan dalam ilmu yang membawa kepada keistiqomahan.
  3. Perlunya sebuah negara yang mempermudah proses hijrah itu terjadi. Sebab siapa yang bisa membatasi atau menghalangi segala kemaksiatan? Ada yang tidak bisa kita (sebagai individu) untuk mengaturnya. Oleh karenanya harus ada negara yang memfilter itu semua dan menjadi penjaga serta mengurusi segala problematika umat.

Dengan demikian, proses hijrah akan semakin mudah karena ada dukungan dari semua pihak yakni, teman, keluarga dan negara.

Alhasil, mengutip satu hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda “Kalian ingin bisa merasakan manisnya iman?” Bagaimana kita bisa merasakan manisnya iman? Ketika kita mencintai Allah dan Rasul diatas apapun di muka bumi. Ketika manusia bisa mencintai manusia yang lain karena Allah. Dan ketika merasakan benci kepada maksiat sama seperti benci jika memikirkan bahwa Allah membencinya.

Selebihnya, kita harus terus berdoa dan berharap Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari yang tidak bermanfaat. Semoga segala upaya kita menjadi jalan untuk hijrah dan beramal shalih.[]

Wallahu a’lam bishowab.