October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Kholid Mawardi

Bangkrut identik dengan ketiadaan harta karena rugi besar hingga jatuh miskin. Sengsara. Menderita.

Hal senada yang dipahami oleh para sahabat ketika Rasulullah SAW bertanya tentang bangkrut.

Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Rasulullah SAW berkata, “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW memberikan gambaran orang yang bangkrut ketika di akhirat, ialah mereka yang berbekal pahala ibadah kepada Allah SWT tapi banyak melakukan kezaliman kepada sesama manusia, maka semua pahalanya bisa habis, bahkan dosa orang yang terzalimi pun ditimpakan kepada orang tersebut. Bangkrut. Benar-benar bangkrut!

Hadits tersebut berlaku untuk seluruh kaum Muslim. Baik kezaliman yang dilakukan antar individu maupun kezaliman penguasa.

Untuk level individu, cakupannya tergantung seberapa banyak orang lain yang terzalimi. Semakin banyak yang terzalimi, peluang bangkrut di akhirat semakin besar.

Tapi coba kita bayangkan, ketika kezaliman itu dilakukan oleh pejabat negara atau penguasa.

Misal level desa. Contoh yang sering terjadi adalah memakan harta haram yang dilakukan oleh pejabat desa dengan cara mengambil harta bukan haknya, dengan korupsi misalnya. Anggaran yang sedianya untuk warganya malah diambil untuk kekayaan pribadi dan keluarganya.

Mungkin dengan kasak-kusuk masih bisa terlepas dari pengadilan dunia, tapi tidak dengan pengadilan akhirat.
Kelak seluruh warga desa yang terzalimi berhak untuk menuntut di pengadilan akhirat. Bangkrut!

Bagaimana kalau yang melakukan kezaliman adalah pejabat level kabupaten, provinsi bahkan negara. Wuiihh sereem…

Ketika di akhirat kelak seluruh rakyat menuntut berbagai kezaliman yang dilakukan para pejabat atau penguasa. Apa enggak benar-benar bangkrut? Bangkrut kuadrat!

Di dunia bisa utak-atik peraturan. Bisa sogak-sogok pengadilan. Suka-suka. Tendang sana tendang sini. Jegal sana jegal sini. Bebas. Dengan kekuasaan bisa berbuat zalim sebebas-bebasnya.

Di akhirat? Ya enggak mungkinlah mau semena-mena. Kekuasaan yang dibanggakan ketika di dunia, enggak ada artinya ketika menghadapi pengadilan akhirat. Bangkrut!!!

Sayangnya, kesadaran ini tidak akan pernah muncul di dalam sistem sekular demokrasi yang mengabaikan aturan-aturan Allah SWT.

Sistem sekular ini hanya melahirkan orang-orang yang memikirkan kesenangan dunia semata, menghalalkan segala cara. Bahkan berlaku zalim pun seolah biasa.

Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari perilaku yang menyebabkan kebangkrutan sebagaimana sabda Rasul-Nya. Aamiin…[]