October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Kholid Mawardi

Agar lebih mudah dan terarah, setiap orang membutuhkan keteladanan dalam menjalani kehidupan.

Dalam dunia parenting misalnya, keteladanan orang tua adalah hal yang sangat penting. Di usia dini, anak akan merekam apa pun yang ia dengar dan lihat dari perilaku orang tuanya.

Apabila perilaku baik yang dicontohkan, niscaya anak pun akan berperilaku baik. Dan juga sebaliknya, jika orang tua berperilaku tidak baik, anak pun sangat mungkin untuk mencontoh berperilaku tidak baik.

Ketika berharap anak saleh, maka orang tua Muslim harus saleh juga. Dan pasti akan berupaya menjadikan standar rujukan utamanya adalah Rasulullah SAW.

Kenapa harus Rasulullah SAW? Ya karena Rasulullah SAW adalah sosok yang wajib diteladani.

Allah menegaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Dengan demikian, dalam urusan keluarga kaum Muslim wajib meneladani Rasulullah SAW. Bagaimana cara beliau membina keluarga. Bagaimana mendidik anak. Bagaimana pula sikap terbaik yang beliau teladankan dalam keseharian. Sehingga bisa terwujud keluarga yang berkah dan bahagia, sakinah mawaddah warahmah dan juga anak-anak yang saleh.

Selain dalam ranah keluarga, Rasulullah SAW pun memberikan keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat dan juga bernegara. Banyak upaya yang telah dilakukan sebagian kaum Muslim untuk meneladaninya.

Dalam urusan pendidikan misalnya, banyak kaum Muslim yang berlomba-lomba untuk mewujudkan model pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman sebagai perwujudan meneladani Rasulullah SAW. Pendidikan berbasis syariah Islam.

Di bidang ekonomi dan bisnis, geliat semangat bersyariah pun cukup terlihat. Berbagai lembaga ekonomi berbasis syariah bermunculan. Meskipun belum ideal. Gerakan anti riba di mana-mana. Ini sebagai perwujudan meneladani Rasulullah SAW dan bukti kesadaran kaum Muslim untuk berbisnis dan berekonomi yang lebih berkah. Ekonomi berbasis syariah Islam.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa meneladani Rasulullah SAW adalah upaya untuk mewujudkan kesalehan, kebaikan dan keberkahan.

Menjadi pribadi yang saleh, keluarga sakinah mawaddah warahmah, anak-anak yang saleh, pendidikan yang islami dan juga harta yang berkah semua adalah perwujudan ketika kita menjadikan syariah Islam sebagai acuan, Rasulullah SAW sebagai teladan. Dan ini adalah dambaan setiap insan yang beriman.

Tapi sayangnya, ada keteladanan Rasulullah SAW yang justru diabaikan oleh sebagian besar kaum Muslim, yaitu keteladanan dalam sistem politik pemerintahan. Dan ini fatal. Karena semua produk kebijakan yang kita rasakan sekarang adalah produk politik. Kalau salah dalam memilih teladan, bukan kebaikan tapi justru kerusakan yang didapatkan.

Harus dipahami oleh kaum Muslim, selain sebagai pemimpin dalam urusan agama, Rasulullah SAW juga sebagai pemimpin politik. Beliau memimpin Negara Islam Madinah. Semua diatur dengan Islam. Islam tegak sempurna. Adil. Sejahtera. Berkah. Dan sangat layak diteladani.

Beda dengan sistem politik di negeri ini. Sama sekali tidak ada keteladanan yang bisa diharapkan. Dari era orde lama, orde baru hingga sekarang. Bukan kebaikan dan keadilan yang didapatkan apalagi keberkahan, tapi justru kezaliman dan kesengsaraan.

Kalau ada yang bertanya, siapa teladan dalam sistem pemerintahan Islam (yang pasti memberi kebaikan kepada Islam dan kaum Muslim)? Sebagai Muslim, saya dengan mantap akan menjawab, Rasulullah SAW sebagai teladan sempurna.

Tapi kalau sekiranya pertanyaannya, siapa teladan dalam sistem pemerintahan demokrasi yang memberi kebaikan untuk Islam dan kaum Muslim? Sampai saat ini, jujur saya belum menemukan jawabannya.

Sistem pemerintahan Islam jelas ada teladan. Mengikutinya bernilai ibadah. Sedangkan sistem yang lain? Entahlah…

Jadi sungguh aneh, ketika kaum Muslim mengaku cinta dan meneladani Rasulullah SAW tapi malah mencari sistem pemerintahan di luar yang diteladankan Rasulullah SAW.

Ngakunya sih cinta Nabi, nyatanya meneladaninya setengah hati. Duh![]