April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Addin Al-Fatih, Ph.D

Benarkah penyebab utama krisis ekonomi sekarang ini adalah virus Corona? Tulisan ini akan mendiskusikan bahwa penyebab utama krisis ekonomi yang sering berulang justru berakar pada penerapan sistem kapitalisme sekular dengan berbagai cabangnya.

Lima Penyebab Utama

Dalam perspektif ekonomi Islam, penyebab utama krisis ekonomi dan keuangan dapat diringkas dalam lima kelompok[1], yaitu: Pertama, kelakuan buruk pelaku ekonomi. Di antaranya adalah keserakahan, individualis, hedonisme, spekulasi, gharar dan curang[2], [3][4]. Dari sisi ini, spekulasi (judi dan gharar) dan hedonisme telah menjadi akar penyebab utama krisis keuangan.

Spekulasi, perjudian atau maysir dilarang dalam Islam (QS al-Baqarah [2]: 219; QS al-Maidah [5]: 90-91).  Judi di era modern ini dapat berupa: spekulasi dalam perdagangan saham, spekulasi dalam perdagangan valuta asing, spekulasi dalam perdagangan komoditas, spekulasi di real estat, spekulasi lain di pasar mana pun. Adapun gharar dapat berupa: kompleksitas dalam transaksi, kompleksitas dalam struktur produk keuangan, sekuritisasi, sistem lindung nilai dan asuransi.

Gaya hidup hedonis adalah upaya untuk menghindari penderitaan dengan cara mencari kesenangan hidup melalui maksimalisasi kemanfaatan sumberdaya yang ada[5]. Di antara ciri gaya hidup hedonis adalah menumpuk-numpuk kekayaan. Gaya hidup Hedonis diperingatkan oleh al-Qur’an dalam QS at-Takatsur [102]: 1-8.

Perilaku buruk lainnya adalah monopoli, penimbunan, kontrol harga, manipulasi, informasi asimetris (tidak seimbang), tidak ada keadilan distributif, keserakahan, dll. Semua itu juga dapat memicu krisis keuangan.

Kedua, faktor dan peristiwa eksternal (eksogen). Di antaranya adalah siklus bisnis, bencana alam, wabah penyakit menular, sistem moneter internasional, ketidakstabilan politik dan ketidakstabilan.  Ketidakstabilan sosial dan ketidakstabilan politik adalah variabel eksogen yang menjadi akar penyebab utama krisis keuangan saat pemerintah dan regulator tidak memiliki kendali atas mereka. Orang-orang yang membuat ketidakstabilan di masyarakat diperingatkan dalam QS al-Maidah [5]: 33.

Ketiga, tata kelola yang buruk. Hal tersebut terjadi di lembaga-lembaga publik dan swasta; termasuk administrasi yang buruk, korupsi, kontrol harga, kurangnya regulasi, kurangnya pengungkapan dan orang yang salah di tempat yang salah termasuk menjadi penyebab utama krisis ekonomi [6].

Korupsi dilarang dalam Islam (Lihat: QS al-Maidah [5]: 38; QS an-Nisa’ [4]:   29; QS Ali Imran [3]: 161; QS Hud [11]: 85.

Larangan korupsi juga dicatat dalam beberapa hadis. Misalnya, hadis yang berbunyi:  “Serahkanlah, bahkan jarum dan benang, karena mencuri dari rampasan adalah aib, api, dan aib pada Hari Kebangkitan bagi orang yang melakukannya.”  (HR al-Baihaqi, Malik dan Ibnu Majah).

Islam pun memerintahkan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Jika tidak maka akan rusak. Sebagai contoh, diriwayatkan bahwa Abu Dzarr ra. pernah meminta posisi pada Rasulullah saw. sebagai pejabat pemerintah. Namun, Rasulullah saw. berkata, “Abu Dharr, saya melihat bahwa kamu ini lemah dan saya suka untuk kamu apa yang saya sukai untuk diri saya sendiri. Janganlah memerintah (bahkan) dua orang, dan tidak mengelola harta anak yatim.’’ (HR Muslim).

Jelas, dalam pandangan Rasulullah saw., Abu Dzarr bukanlah orang yang tepat untuk posisi yang dia minta sehingga beliau menolak permintaannya.

Keempat, sistem moneter/keuangan yang tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut termasuk sistem bunga ribawi, uang kertas, sistem perbankan cadangan fraksional, sistem leverage, derivasi produk dan penciptaan kredit melalui kartu kredit[7].

Riba era modern ini dapat berupa: 1) sistem bunga; 2) sistem uang kertas; 3) sistem perbankan cadangan fraksional; 4) sistem leverage; 5) turunan; dan 6) sistem kartu kredit Sistem Perbankan Cadangan Fraksional, Suku Bunga dan Uang Fiat. Ini telah menjadi akar penyebab utama krisis keuangan. Ketiga unsur ini adalah pilar utama sistem keuangan konvensional yang mengandung riba dan dilarang dalam perspektif ekonomi Islam. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Ketika zina dan riba telah meluas di sebuah komunitas, maka mereka (penduduk) telah membiarkan hukuman Allah bagi diri mereka sendiri (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Kelima, sistem fiskal yang tidak berkelanjutan. Di antaranya termasuk defisit fiskal yang tidak berkelanjutan, pajak yang berlebihan, utang negara yang berlebihan, pengeluaran yang berlebihan, manajemen persediaan komoditas strategis yang buruk dan sistem fiskal yang tidak efektif[8].

Sistem Fiskal yang Tidak Efektif telah menjadi akar penyebab utama krisis keuangan. Dalam al-Quran telah disebutkan dalam beberapa ayat seperti: QS al-Isra’ ‘[17]: 29 tentang anggaran berimbang; QS Hud [11]: 85 tentang pajak yang berlebihan; QS an-Nisa’ [4]:   9 tentang pemerintahan yang berlebihan hutang untuk generasi berikutnya; QS al-Furqan [25]: 67 tentang pengeluaran pemerintah yang berlebihan; QS al-An’am [6]: 141 tentang tidak boleh boros; QS al-Isra ‘[17]: 26-27 tentang tidak menghabiskan kekayaan dengan sia-sia.

Ada juga beberapa hadis tentang sistem fiskal. Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad (no.16976) menyebutkan tentang pajak yang berlebihan, “Seseorang yang secara salah mengambil pajak tambahan (sahib maks) tidak akan masuk surga.” Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no.11027) tentang utang yang berlebihan. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no.1272) membahas tentang meninggalkan kelebihan kekayaan untuk generasi berikutnya lebih baik daripada sebaliknya. Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (no.6161) tentang anggaran yang dikelola dengan adil lebih baik daripada kekayaan dengan kemewahan.

Catatn Kaki :

[3]      Ascarya and D. Iskandar, “The Root Causes of Financial Crisis in Islamic Economic Perspective,” no. November, 2013, doi: 10.13033/isahp.y2013.086.

[4]      A. Mirakhor and N. Krichene, “Recent Crisis: Lessons for Islamic Fiance,” J. Islam. Econ. Bank. Financ., vol. 5, no. 1, pp. 9–57, 2009.

[5]      J. W. Alba and E. F. Williams, “Pleasure principles: A review of research on hedonic consumption,” J. Consum. Psychol., vol. 23, no. 1, pp. 2–18, 2013, doi: 10.1016/j.jcps.2012.07.003.

[6]      R. Y. Al-Masri, “The Global Financial Crisis: Its Causes and Solutions from an Islamic Perspective,” in Islamic Economic Research Center. Issues in the International Financial Crisis from an Islamic Perspective, 2009, pp. 287–295.

[7]      M. A. Trabelsi, “The Impact of the Financial Crisis on the Global Economy: Can the Islamic Financial System Help?,” J. Risk Financ., vol. 12, no. 1, pp. 15–25, 2011.

[8]      M. U. Chapra, “The Case Against Interest: Is It Compelling?,” Thunderbird Int. Bus. Rev., vol. 49, no. 2, pp. 161–186, 2007.

Sumber : https://al-waie.id/analisis/solusi-islam-mengatasi-krisis-ekonomi-global/