October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sri Suarni, A.Md

Ramalan Bank Dunia dalam outlook ekonomi global terbarunya “Global Economic Prospect” menyatakan bahwa ekonomi bakal menyusut 5.2 % tahun ini. Lembaga ini menyebut ini adalah resesi terdalam sejak Perang Dunia II (cnbcindonesia.com, 02/08/20)

Pandemi virus corona yang menginfeksi ratusan wilayah di dunia, membuat negara-negara di dunia saat ini  berjibaku untuk mengendalikan penyebarannya. Sementara itu perputaran ekonomi mengalami hambatan, sebab hampir semua negara yang terdampak akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi di zona negatif. Akibatnya ancaman resesi ekonomi global menjadi sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi, tak terkecuali di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32 persen, yang artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2018 terus mengalami penurunan. Maka jika tren minus tersebut berlangsung hingga kuartal III tahun 2020, bisa jadi Indonesia akan masuk ke jurang resesi ekonomi.

Jika resesi sampai terjadi maka akan menyebabkan deflasi dan penurunan harga, namun dampak berkelanjutan justru menyebabkan hyper inflasi (kenaikan harga sangat tinggi). Selain itu, selama resesi, ekonomi akan terseok-seok, dampaknya akan dialami masyarakat terutama dengan menurunnya pendapatan secara signifikan. Kurangnya pemintaan akan membuat lebih sedikit penjualan, akibatnya banyak orang akan kehilangan pekerjaan.

Alhasil, output ekonomi negara pun secara keseluruhan otomatis akan menurun. Biaya hidup akan semakin tinggi namun tidak ditunjang dengan kenaikan pendapatan, akibatnya kemiskinan akan semakin meningkat, di sisi lain pemerintah tampak lebih mementingkan para  pemilik modal.

Selain hal tersebut, pemerintah terlihat optimis bisa mengatasi ancaman resesi ini tanpa memiliki gambaran atau strategi yang jelas tentang proses yang akan dilakukan untuk mencapainya. Dan tanpa memiliki langkah-langkah yang konkrit sebagai  antisipasi agar angka negatif saat triwulan III tidak terjadi.

Hal ini menunjukkan abainya pemerintah dalam mengurus urusan rakyatnya. Ketiadaan pemikiran cemerlang tampak melalui rangkaian kebijakan yang seringkali tidak konsisten dan justru tidak fokus untuk mengantisipasi virus Corona sejak awal munculnya sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Sistem Ekonomi Islam

Sistem Islam yang telah Allah gariskan sebagai sistem kehidupan, mampu memecahkan seluruh permasalahan kehidupan. Islam dengan sistem ekonominya memiliki solusi yang konkret baik dalam pencegahan maupun penanggulangan untuk menyelesaikan masalah merosotnya perekonomian lokal maupun global saat ini. Sistem ekonomi Islam akan menghasilkan perekonomian yang stabil. Jauh dari krisis serta akan berpengaruh kepada taraf hidup masyarakat secara langsung baik saat terjadi pandemi ataupun tidak.

Allah SWT berfirman : “Kami tidak menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Qur’an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. an-Nahl : 89)

Penerapan sistem ekonomi Islam memiliki strategi yang jelas untuk mensejahterakan ke tingkat individu masyarakat sehingga menjamin terpenuhinya segala kebutuhan masyarakat. Sistem ekonomi Islam juga akan menata sistem fiskal, dengan tidak bergantung kepada pajak semata.

Demikian juga dengan riba secara tegas akan dihilangkan, karena Islam sangat mengharamkan riba dengan segala bentuknya. Ekonomi yang berdasarkan riba tidak akan pernah berdiri dengan stabil, dan sangat mudah terguncang krisis. Allah telah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 275.

Semua lapisan masyarakat akan merasakan keadilan dan jauh dari kedzoliman dengan penerapan ekonomi tanpa riba. Semua perputaran uang akan berdampak secara langsung dalam kehidupan di tengah masyarakat. Sehingga pertumbuhan ekonomi nyata akan berimbas kepada peningkatan kemakmuran rakyat.

Demikian pula pengaturan sistem moneter Islam dalam pemberlakuan mata uang yang berbasis emas dan perak, atau dinar dan dirham yang nilainya akan selalu stabil (intrinsik). Islam menetapkan fungsi mata uang hanya sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditi yang bisa menjadi sasaran para spekulan untuk meraih keuntungan, sehingga tidak bisa didominasi oleh negara manapun.

Pengelolaan sumber daya alam juga akan dikelola sesuai syariah, seperti air, termasuk laut, sungai, danau dan lainnya. Termasuk juga padang rumput, hutan, barang tambang dan energi serta sumber daya alam lainnya yang tidak boleh dimiliki secara pribadi, tetapi dikembalikan kepada kepemilikan umum dan dikelola oleh negara.

Pengelolaan kepentingan umum merujuk kepada sabda Rasulullah saw : “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api)” (HR. Ibnu Majah)

Hasil yang didapat dari pengelolaan sumber daya alam tersebut secara keseluruhan akan diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. Maka kemakmuran masyarakat akan tercapai dan semakin terasa  berdasarkan pengelolaan keuangan oleh negara dalam bentuk Baitul Mal. Hingga pada akhirnya peran pemimpin dan semua elemen masyarakat bersinergi dalam melakukan kolaborasi, koordinasi, dan kointegrasi terstruktur, sistematis dan masif.

Demikianlah strategi negara Islam dalam menghadapi krisis ekonomi, tanggung jawab dalam strategi, dan pe-riayah-an, serta sikap tegas bagi seorang pemimpin menjadikan sistem Islam sebagai pandangan hidup utama. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sistem kapitalisme yang rusak dan hanya mementingkan para pemodal belaka.

Wallahu a’lam