July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Agustin Pratiwi S.Pd (Owner Mustanir Courses)

Semakin hari kata Khilafah tak lagi asing ditelinga khalayak. Terlebih sejak keputusan pemerintahan Turki tentang Hagia Sopia. Bangunan legendaris dengan arsitektur termegah itu kini kembali difungsikan sebagai tempat untuk mengagungkan Allah, setelah 85 tahun menjadi museum. Berseliweran cuitan netizen di jagat maya bak musim semi tiba, menghamburkan semerbaknya kemenangan Islam kian dekat menghampiri pertanda kembalinya Khilafah Islamiyah.

Selama 1300 tahun Islam berhasil menjadi mercusuar dunia. Goresan sejarah dengan tinta emas tercipta ketika pengurusan manusia didasarkan pada aturan Dzat Yang Maha Pengatur, Allah SWT.  Pelaksanaan syariat dalam segala aspek terjaga oleh instisusi mulia, Khilafah.

Naas, peradaban gemilang itu berakhir pada 03 Maret 1924 di tangan Mustafa Kemal Attaturk. Ajaran Islam tentang sebuah sistem pemerintahan dengan sebutan Khilafah Islamiyah telah dihancurkan. Kebenarannya coba dikhianati, dalilnya coba diingkari, hingga beribu jejaknya pun coba ditenggelamkan.

Beberapa pihak terlihat menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sistem yang menggunakan aturan Allah secara menyeluruh tersebut. Sebuah redaksi majalah di Turki, Gercek Hayat, dilaporkan oleh Asosiasi Pengacara Ankara sebab menyerukan kebangkitan kekhilafahan Islam dalam majalah yang diterbitkan 27 Juli lalu sebagai respon pengembalian status Hagia Spohia menjadi masjid. (republika.co.id, 28/7/2020)

Penolakan senada disampaikan Juru Bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Omer Celik di twitternya menyatakan bahwa Turki akan tetap menjadi negara sekuler (okezone.com, 28/7/2020). Artinya ia menolak pengembalian institusi Khilafah sebagai sistem pemerintahan.

Sejarah bahkan turut menoreh kenangan pilu dalam memperjuangkan kemenangan Islam di alam sekuler. Sebagaimana tahun 2012 silam, calon presiden yang diusung Ikhwanul Muslimin memenangkan kursi presiden di Mesir. Ikhwanul Muslimin adalah sebuah partai yang didirikan oleh Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna dengan semangat meninggikan kalimat Allah. Dikutip dari buku ‘Pemikiran Politik Islam’ yang ditulis Muhammad Iqbal (2015), “kunci pemikiran politik Hasan al-Banna adalah membawa Islam sebagai solusi segala permasalahan yang disebabkan oleh penerapan sistem sekuler ditengah masyarakat”.

Meskipun Mohammed Mursi telah berhasil memenangkan 57% suara secara adil, jujur dan demokratis dalam pemilu. Mirisnya, kepemimpinan Mursi dikudeta oleh angkatan militer yang sebelumnya berkongsi dengannya. Pembunuhan anggota dan simpatisan Ikhwanul Muslimin-pun tak terelakkan. (tirto.id, 18/04/2019)

Bak air dalam minyak, sistem pemerintahan Islam tidak akan dapat bersatu dalam sistem kehidupan yang sekuler. Ada hal mendasar yang membedakan antara sistem sekuler-demokrasi dengan Islam. Perbedaan mendasar itu ada pada kedaulatan hukumnya. Kedaulatan hukum sistem negara demokrasi ada di tangan rakyat. Sedangkan kedaulatan hukum negara Islam ada di tangan Syara’. Maka tak ada cara lain selain mengakhiri penerapan sekulerisme dimuka bumi.

Wallahua’lam bissawab