October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Adnan Khan

Pemilihan Presiden AS memperlihatkan perpecahan yang dalam dan sesuatu yang telah lama dimainkan oleh Presiden AS Donald Trump. Presiden AS yang baru, akan menghadapi tantangan yang signifikan dalam menavigasi AS melalui beberapa tantangan-tantangan strategis. Kemenangan elektoral dari Demokrat dalam banyak hal tidak mengubah fakta bahwa AS menghadapi banyak tantangan dan siapa pun yang akan memenangkan pemilu akan ditugaskan untuk menangani masalah-masalah strategis ini. Beberapa tantangan terpenting di antaranya adalah sebagai berikut.

China sekarang secara resmi menjadi kekuatan regional yang semakin memuncak dan menantang posisi AS di Asia Tenggara. Pada masa pemerintahan Trump, telah mengambil posisi agresif terhadap China dan memulai perang ekonomi. Meskipun sejumlah kenaikan tarif dan menunjuk China sebagai manipulator mata uang namun kemudian menghapusnya. Pada masalah substantif tidak ada yang diselesaikan.

Siapa pun yang memenangkan pemilihan presiden kalin ini akan menghadapi prioritas strategis ini. Tantangan bagi AS adalah tindakannya terhadap China yang tidak mencapai tujuan yang dimaksudkan. Dan selama periode ini China sedang memperkuat posisinya. AS akan segera mencapai posisi setelah mencoba segalanya untuk menghentikan kebangkitan China, sebelum perang yang sebenarnya terjadi.

Tantangan berikutnya AS telah lama mengontrol dan mengendalikan Afghanistan, bahkan sebelum peristiwa 9/11. Kedekatan negara ini dengan Asia Tengah dan Rusia, serta China menjadikannya tempat ideal sebagai pangkalan terdepan di kawasan tersebut untuk menghadapi tantangan yang muncul terhadap kekuatan AS. Presiden Trump mewarisi perang Afghanistan yang gagal diselesaikan oleh para pendahulunya. Sementara Trump berbicara tentang mengakhiri perang.

Trump telah mempublikasikan banyak upayanya dalam menegosiasikan penyelesaian dengan Taliban. Namun pada kenyataannya, AS menghadapi banyak kesulitan dalam mencapai tujuan, dan tidak dibantu oleh intervensi Trump untuk mencari publisitas. Kenyataan di lapangan adalah bahwa AS secara progresif kehilangan Afghanistan karena jihad Afghanistan. Mereka juga tahu hanya masalah waktu saja sebelum mereka sepenuhnya dikeluarkan, dan sangat ingin membuat perjanjian damai sementara mereka masih memiliki kendali.

AS juga saat ini menghadapi masalah yang dihadapi semua pemimpin, karena harus hadir di semua tempat pada saat yang sama untuk mempertahankan apa yang telah dijajahnya. Seperti pemimpin sebelumnya, AS telah menggunakan militernya, dengan tingkat kesiapan yang tinggi di seluruh dunia untuk mempertahankan posisinya. Ini semua membutuhkan dana, dan dana (uang) yang ada kemudian tidak dapat digunakan untuk mendanai pendidikan, infrastruktur atau kesehatan.

Pajak dalam negeri juga tidak cukup untuk mendanai aktivitasnya sehingga AS terpaksa berhutang, yang telah menciptakan gelembung hutang sebesar $ 22 triliun! Perang Afghanistan dimaksudkan untuk menyingkirkan pasukan milisi abad ke-7 yang compang-camping, tetapi sekarang menjadi pertempuran terbuka tanpa terlihat hasil akhir. Pembenaran satu-satunya saat ini adalah menjaga kredibilitas daripada mencapai tujuan strategisnya.

Para pejabat AS sekarang mengakui bahwa negara mereka kewalahan menghadapi begitu banyak masalah domestik dan komitmen internasional. AS telah hidup di luar kemampuannya; dan itu menghadapi tantangan regional di seluruh dunia yang akan membentang di hadapannya. Siapa pun yang memenangkan pemilihan Presiden 2020, akan dihadapkan pada penanganan-penanganan masalah ini.

Kebijakan pemerintahan Trump juga telah merusak aliansi dan persahabatan yang dikembangkan AS dengan hati-hati selama beberapa dekade dan telah menjadi salah satu aset terbesarnya selama 70 tahun terakhir. Mantra ‘Amerika dulu’ yang telah dilakukan Trump telah meninggalkan kekosongan dan lubang yang dengan cepat diisi oleh China. Bagi negara-negara di dunia, AS tidak lagi menjadi kekuatan seperti sebelum perang Irak dan Afghanistan. Dan dengan penarikan AS dari organisasi multilateral, China benar-benar tampaknya menjadi mitra yang lebih dapat diandalkan, dengan kekuatan belanja yang besar. Sementara Trump mungkin mempercayai bahwa ia menghancurkan AS untuk menyelamatkannya, AS membutuhkan kerja sama, kepatuhan, dan kepatuhan negara lain untuk mencapai agenda globalnya.

Sementara presiden AS yang baru selalu menarik perhatian global, padahal pada kenyataannya presiden yang baru memiliki kemampuan yang sangat kecil untuk melakukan perubahan-perubahan radikal terhadap kebijakan strategis AS. Presiden AS berbagi kekuasaan dengan Senat dan sejumlah entitas dari sektor keuangan, lembaga pertahanan, dan perusahaan transnasional. Semua presiden membawa pendekatan unik mereka untuk mencapai tujuan strategis AS, tetapi tujuan strategis ini jarang sekali diganti.

AS memang menghadapi krisis sebagai negara adidaya karena hanya memiliki sedikit keberhasilan kebijakan luar negeri sejak 2003. Di dalam negeri, sejak krisis ekonomi global tahun 2008, tantangan domestik Amerika telah tumbuh dan menjadi lebih menyulitkan. Pada saat yang sama, pemerintahan berturut-turut telah menunjukkan sedikit kemampuan untuk menyelesaikannya.[]