April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Selain pertarungan pemikiran, aktivitas menonjol yang dilakukan Rasulullah saw. selama interaksi dakwahnya di tengah masyarakat Makkah adalah perjuangan politik (al-kifah as-siyasi). Adapun maksud perjuangan politik di sini adalah menantang kelompok penguasa yang tidak berhukum kepada hukum Allah sekaligus mengoreksi mereka (muhasabah).

Dalam hal ini, perjuangan politik berbeda dengan pertarungan pemikiran karena ia berhadapan langsung dengan kelompok penguasa. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi saw. ketika beliau menantang para pemimpin Quraisy yang berhukum kepada hukum jahiliyah dan bersikeras dalam kekufurannya serta menghalangi dan memerangi dakwah.

Akan tetapi, perjuangan politik di sini hanya dilakukan dengan pemikiran, bukan dengan aksi fisik apalagi pertikaian senjata yang berdarah-darah.
Perjuangan politik dilakukan dengan mengungkap makar penguasa.

Inilah yang tergambar dalam Al-Quran dan As-sunnah. Saat itu, pemikiran dan dakwah nabi SAW yang telah menerobos sampai ke luar Makkah sangat meresahkan para pemimpin Makkah. Karena hal tersebut pastinya akan melenyapkan kepemimpinan Quraisy terhadap Arab.

Ketika pasar ‘Ukaz telah dekat waktunya, orang-orang Arab akan mendatanginya. Inilah kesempatan emas bagi Muhammad saw. dan sahabat beliau untuk kontak kepada orang-orang dan mendakwahi mereka, sementara Quraisy melihat dan mendengarnya. Lalu mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk mendiskusikan perkara tersebut, bagaimana menentang dakwah tersebut dan menjauhkan Muhammad dari orang-orang atau sebaliknya.

Berkumpullah Abu Jahal, Abu Sufyan, Shafwan bin Umayyah, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain. Mereka menjelaskan perkara tersebut kepada al Walid bin al Mughirah untuk meminta pendapatnya. Al Walid berkata,”apa yang akan kalian katakan”? Salah satu mereka berkata,”kita katakan Muhammad adalah penyihir”. Yang lain berkara,”kita katakan ia adalah dukun”. Yang ketiga berkata,”kita katakan ia adalah penyair”. Yang lain berkata,”kita katakan ia adalah pendusta”. Al Walid menolak semua propaganda tersebut dan menjelaskan kebatilan apa yang mereka ucapkan tersebut.

Setelah berfikir keras, al Walid kemudian menetapkan pendapatnya,”kita katakan bahwa Muhammad adalah penyihir yang fashih berbicara dan ucapannya dapat memisahkan seseorang dengan keluarganya juga istrinya”. Mereka lalu menyiarkan propaganda tersebut ke hadapan kabilah-kabilah yang ada, propaganda untuk memerangi Muhammad SAW.

Berkaitan dengan ini, turunlah wahyu Allah SWT untuk mengungkap konspirasi mereka

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (۱۱) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا (۱٢)

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak” (TQS. al-Mudatstsir: 11-12)

Allah juga berfirman

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (۱۸) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (۱۹) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢۰)

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?” (TQS. al-Mudatstsir: 18-20)

Kemudian firmanNya

فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢۵)

“lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.” (TQS. al-Mudatstsir: 24-26)

Al-Quran menyingkap makar mereka, menggagalkan konspirasi dan mengungkapkan kenyataan sebenarnya sebagaimana firmanNya

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا (۱٥) وَأَكِيدُ كَيْدًا (۱۵) فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا (۱۷)

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.” (TQS. ath-Thariq: 15-17)

Wallahu a’lam bi ash shawab

Rujukan:
Abu ‘Ubadah. Cetakan ke 2. 2016. Ta’shil at-Thariqah an-Nabawiyyah fi Iqomah ad-Dawlah al-Islamiyyah

Muhammad Husain ‘Abdullah. Cetakan ke-2. 2002. ath-Thariq asy-Syar’iyyah li Isti’naf al-Hayah al-Islamiyyah

Muhammad Ahmad an-Nadi. Cetakan ke-2. 2010. Taysir al-Wushul ila Sabil ar-Rasul Shallallahu ‘alayhi wasallam

Hafizh Shalih. Tanpa tahun. Nahj al-Quran al-Karim fi ad-Da’wah