September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

• Masyarakat dan para analis politik berpikir bahwa para pemimpin negara sedang berada di bawah krisis Lebanon dan jejaringnya. Padahal hakikatnya, bukan Hariri, Aoun, Berri, Pasukan Lebanon, Jumblatt, atau bahkan partai politik lokal regional lainnya seperti Iran, Arab Saudi, Turki, Qatar, atau Irak yang dapat memutuskan sesuatu tentang apa yang sedang terjadi di Lebanon, terlepas dari orientasi kebijakan Amerika di sana.

Mereka tidak lain adalah alat dan pion dalam permainan catur politik internasional di sana, terutama bagi Amerika. Jika Hariri tidak dapat membentuk kabinet, itu karena Amerika tidak menginginkannya. Jika Aoun dibiarkan untuk berdiri di belakang Hariri untuk mendorongnya meminta maaf karena telah membentuk pemerintahan, hal tersebut terjadi karena sesuai dengan kebijakan dan kepentingan Amerika. Dibentuk atau tidaknya pemerintahan yang dipimpin oleh Najib al-Mikati—atau yang selainnya—ini, semuanya dikelola oleh Amerika sesuai dengan agendanya.

Jika partai Iran memegang tali permainan politik di Lebanon dan mengendalikan sendi-sendinya di bawah ancaman senjata, itu karena dalam perpolitikannya, Amerika berafiliasi dengan Iran—yang mana merupakan salah satu negara di kawasan yang tunduk pada kebijakan dan pengaruh Amerika—. Jadi, politik Amerika adalah pemain aktif di Lebanon. Tidak ada konflik internasional yang terlalu penting untuk disebutkan di sana.

• Karena hilangnya kebenaran ini, masyarakat, para insan pers, analis politik, dan pemegang opini mengambil posisi yang menyesatkan—termasuk posisi mereka di organisasi masyarakat sipil—, mereka menganggap bahwa mereka adalah alat baru yang bisa dipakai untuk kekuasaan dan bahwa keselamatan akan datang melalui mereka.

Sementara, organisasi masyarakat sipil sekuler telah menjadi inti dari kebijakan neokolonial Barat untuk kawasan secara keseluruhan. Mereka menjadikan itu sebagai alat baru untuk memerintah kawasan dan menjauhkan Islam dari kekuasaan.

Bahkan dalam hal ini, terjadi persaingan antara Kedutaan Besar Prancis dan Kedutaan Besar Amerika. Kita akan melihat bagaimana para duta besar dan delegasi internasional berkumpul dengan logo dan identitas organisasi ini, mengingat bahwa mereka akan menjadi para penguasa baru dan pelopor perubahan, serta tuduhan para politisi tradisional kepada mereka bahwa mereka adalah “anak-anak kedutaan”.

• Dari indikasi yang ada, tampak bahwa Amerikalah yang menciptakan krisis Lebanon dan mengendalikannya, bahwa krisis keuangannya terletak di balik kebijakan keuangan yang diikuti oleh Bank Sentral Lebanon.

Gubernur Bank Sentral Lenanon, Riad Salameh, menganggap Amerika sebagai garis merah yang tidak mengizinkan pejabat politik mana pun untuk menyentuh posisinya. Telah diketahui bahwa kebijakan keuangan yang ia ikuti adalah kebijakan yang membawa Lebanon jatuh ke dalam cekungan, yang dengan demikian memperlihatkan bahwa ia telah melayani Amerika.

• Sesungguhnya, telah tampak bahwa Amerika bersikukuh memosisikan warga Lebanon dengan krisis yang dialaminya. Mereka mengadopsi panglima tentara serta mendemonstrasikan kandidat kepemimpinan setelah Michel Aoun dan pendukungnya, mendukung tentara dengan senjata, dan terkadang menyediakan atau mengizinkan agar pemerintahannya diperpanjang dengan memberi dukungan uang untuk menangani krisis hidup tiap anggotanya.

• Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Amerikalah yang mengatur krisis Lebanon—yakni yang mengendalikan kondisi tersebut atau yang menolong Lebanon dengan pertolongan yang bersifat sementara—, serta melarang negara-negara teluk dari Saudi, UAE, hingga Qatar untuk meminjamkan bantuan keuangan kepada Lebanon meskipun meringankan dalam jumlah yang sedikit dari tekanan krisis keuangannya. Kemudian membiarkan Lebanon tanpa dukungan obat-obatan, makanan, ataupun minyak. Sebaliknya, mereka memungkinkan dealer untuk bermain dengan harga mata uangnya, sehingga tidak ada jalan keluar atau ruang untuk Lebanon bernapas.

• Dengan adanya pemerintahan Amerika dalam krisis Lebanon dan administrasinya, sesungguhnya Amerika melarang Lebanon untuk melakukan pekerjaan serius agar mengekstraksi minyak dari blok-blok di seberang pantai yang mengandung minyak dalam jumlah besar dan menjanjikan. Padahal, dengan itu cukup untuk menyelesaikan masalah keuangan Lebanon untuk beberapa bulan bahkan tahun.

• Ini mengindikasikan bahwa penggunaan gambaran tragis mengenai krisis keuangan, ekonomi, dan kehidupan di Lebanon ini adalah tindakan untuk menunda perannya di kawasan itu demi menghadirkan peran Israel setelah memaksakan perdamaian di kawasan tersebut dengannya. Hal ini memerlukan penghancuran area penting yang bersaing dengan Israel seperti pelabuhan, bank, dan pariwisata.

Kesimpulannya, saat ini Lebanon dan negara-negara lain di kawasan itu tunduk pada rencana Amerika yang sedang dilaksanakan. Ia berusaha untuk membentuk setiap negara dari kawasan tersebut menjadi kelompok rasisme sektarianisme untuk bisa memainkan tali kaum minoritas, memperburuk perbedaan di antara mereka, serta turut campur dalam perlindungannya. Pada waktu yang sama, ia juga berusaha memecahkan permasalahan Palestina dan mengakui Israel serta memasukkannya ke dalam bagian negara di kawasan itu.

Maka dari itu, jika kita menelisik pergerakan Kedutaan Prancis dan kunjungan para pejabat Prancis, hal itu merupakan upaya Prancis untuk bermain dalam politik Lebanon, dan tampaknya mereka sedang mencari kehormatan yang hilang di sana.

Pergerakan Prancis ini jelas membuat Amerika mengawal dan menggugurkannya dalam buaian mereka. Tidak ada kunjungan Presiden Prancis, menteri luar negerinya, ataupun utusan-utusannya sehingga Amerika diam-diam bergerak menuju agendanya di kawasan itu, mereka tidak mempermasalahkan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan baginya.

Inilah tragedi atau kisah penjajahan yang begitu tragis, yang tak hanya berhenti di Lebanon saja, akan tetapi juga terjadi di setiap negeri kaum muslimin, bahkan di semua negeri yang terjajah.

Yang ingin kami katakan adalah: Sesungguhnya AS tidak akan mampu untuk memberikan solusi atas apa pun yang ia lakukan. Sebab, seratus tahun telah berlalu dengan apa yang telah mereka lakukan mulai dari menjajah, melakukan cuci otak (brain wash) dan penyesatan terhadap rakyat seperti merusak perasaan mereka, memiskinkan, membodohkan, mempermainkan berbagai problematika mereka, juga memecah belah negeri mereka serta memisahkan para penduduknya. Nyatanya, mereka tidak mampu memperoleh apa pun.

Siapa pun yang pada hari ini menyaksikan AS yang senantiasa berpikir untuk melakukan penjajahan gaya baru pada wilayah lain, seratus tahun yang akan datang pun ia akan terus dipenuhi dengan berbagai permasalahan yang akan mendekatkan ia pada ajalnya. Oleh karena itu, jelas ia tidak akan abadi atau bertahan selamanya.

Siapa pun yang menyaksikan peradaban Barat, akan menyaksikan bahwa peradaban itu pada dasarnya sungguh telah bangkrut. Sehingga ia hanya menunggu kabar kematiannya bersamaan dengan kabar buruk atas kematiannya tersebut.

Barang siapa yang melihat bangsa, penduduk, atau masyarakat Barat, akan melihat bahwa masyarakatnya sungguh telah lanjut usia dan tidak siap untuk menjaga peradabannya, apalagi mempertahankan keberlangsungan hidupnya terlebih menyebarkannya.

Siapa pun yang melihat pada sebaliknya, yaitu lebih berhaknya agama ini (Islam) beserta kemampuannya, keimanan kaum muslimin padanya, dan kembalinya mereka dengan kekuatan, sungguh kaum muslimin akan berbahagia dengan kebaikan yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah saw., bahwasanya pada akhir zaman ini Islam akan tegak kembali, yaitu Khilafah Rasyidah ‘ala minhajinnubuwwah.

Maka, tidak ada satu pun kebaikan di dalam bumi, kecuali akan ia keluarkan. Tidak ada kebaikan dari langit, kecuali akan ia turunkan. Dengan itulah penduduk langit dan bumi ini akan rida.

لمثل هذا فليعمل العاملون

“Maka, (untuk kemenangan) serupa ini, hendaklah orang-orang yang beramal itu berusaha.” (QS. Ash-Shaffat:61). []

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 419, terbit pada bulan Zulhijah 1442 H/Juli 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/15/krisis-struktural-di-lebanon-dan-kebenaran-yang-hilang-di-dalamnya-bagian-2/

http://www.al-waie.org/archives/article/17810