September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

.
Oleh : Kholid Mawardi
.
.
Ketika membaca perjalanan kehidupan Rasulullah SAW saat menjelang perang Badar, kita akan menemukan sebuah fragmen dialog yang menunjukkan komitmen perjuangan dahsyat yang diteladankan oleh tokoh Madinah Sa’ad bin Mu’adz ra.
.
Sa’ad bin Mu’adz ra merupakan pemuka Suku Aus di Yatsrib (sebelum diubah nama menjadi Madinah) yang masuk Islam setelah menerima dakwah dari Mush’ab bin Umair ra.
.
Dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dikisahkan saat menjelang perang Badar, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan kaum Muslim baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar.
.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, bantulah diriku!” Ucapan tersebut sebenarnya ditujukan kepada kaum Anshar. Mereka telah berjanji saat Baiat Aqabah akan melindungi Rasulullah SAW sebagaimana mereka melindungi anak-anak dan istri-istri mereka.
.
Ketika kaum Anshar menyadari bahwa yang dimaksud adalah mereka, maka Sa’ad bin Mu’adz ra menoleh kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Demi Allah, seakan-akan yang anda maksud adalah kami, wahai Rasulullah!” Rasul menjawab: “Tentu saja”.
.
Sa’ad berkata lagi: “Kami sungguh mengimani dan membenarkanmu. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau datangkan adalah benar. Atas dasar itu, kami memberikan kepada engkau janji dan kebulatan tekad untuk selalu mendengar dan menaati. Karena itu, lakukanlah wahai Rasulullah apa yang engkau inginkan, kami akan tetap bersama engkau”.
.
Sa’ad pun melanjutkan: _”Demi Dzat Yang mengutus engkau, seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, pasti kami turut terjun bersama engkau. Tidak seorang pun dari kami yang akan berbalik dan kami tidak benci jika besok hari engkau mempertemukan kami dengan musuh kami. Sesungguhnya kami pasti sabar dalam peperangan, benar dalam pertemuan”
.
Kalau kita telaah, fragmen tersebut memberikan gambaran komitmen luar biasa kaum Anshar dalam ketaatannya kepada Rasulullah SAW.
.
Sejatinya, musuh yang akan dihadapi adalah orang-orang kafir Quraisy yang sejak awal memusuhi dakwah Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin saat di Makkah samasekali tidak ada kaitan permusuhan dengan orang-orang Madinah (kaum Anshar).
.
Akan tetapi, ketika keimanan sudah tertancap kuat di hati kaum Anshar, kaum kafir Quraisy yang menjadi musuh Rasulullah SAW juga menjadi musuh kaum Anshar.
.
Padahal dalam sebuah riwayat disebutkan sebelum masuk Islam Sa’ad bin Mu’adz ra bersahabat dengan seorang pemimpin Quraisy Umayyah bin Khalaf. Bahkan saking dekatnya, ketika Sa’ad sedang berada di Makkah ia akan tinggal di rumah Umayyah dan juga sebaliknya, ketika Umayyah ke Madinah, ia akan tinggal di rumah Sa’ad.
.
Keimanan telah mengubah siapa kawan dan siapa lawan. Harusnya begitulah sikap orang Mukmin. Kaum Anshar telah meneladankan. Bagaimana dengan kita?[]