August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ditulis oleh al-ustadz As’ad Manshur

Surat Kabar ar-Rayah: 07-10-2020

Masalah diskriminasi rasial, yang mengakar dalam pada rakyat Amerika, meledak. Protes terjadi setelah seorang Amerika kulit hitam dicekik oleh seorang polisi kulit putih pada 25/5/2020, yang menunjukkan sajauh mana keburukan diskriminasi rasial di Amerika dan kegagalan Amerika alam melebur anak-anak bangsanya yang beragam dari sisi ras, kebangsaan, dan mazhab mereka ke dalam satu wadah. Terbenuk organisasi-organisasi baru untuk perubahan seperti “Antifa” menyusul protes pada tahun 2011 menentang kontrol para pemilik modal di bawah slogan “Occupy Wall Street”. Tampaknya orang-orang di Amerika mulai menyadari bahwa yang memerintah, mengontrol dan merampas kekayaan mereka adalah para pemilik modal besar yang terkonsentrasi di Wall Street Stock Exchange di New York. Sebab orang-orang kaya di Amerika merupakan 1% dari bangsa tetapi menguasai 99% kekayaan negara, seperti yang disebutkan dan diungkapkan oleh para pengunjuk rasa di slogan mereka “Occupy Wall Street”. Para pengunjuk rasa mulai menurunkan simbol-simbol rasisme. Massa pengunjuk rasa juga menjatuhkan patung penemu Italia Christopher Columbus di Saint Paul, Minnesota, AS, pada 6/11/2020, di tengah protes mereka menentang rasisme.

Tewasnya seorang pria kulit hitam karena dicekik oleh seorang perwira polisi Amerika yang sombong telah menggerakkan Amerika dan dunia melawan rasisme, yang mendorong orang-orang untuk melawan ketidakadilan yang dilakukan terhadap mereka di semua bidang disebabkan sistem kapitalis yang mengakui diskriminasi di semua perbedaan dalam masyarakat. Sebagaimana kapitalisme mengakui diskriminasi rasial dalam warna kulit, kapitalisme juga mengakui diskriminasi kelas antara orang kaya dan orang miskin, yang kaya diperlakukan dengan sangat hormat dan mengontrol segalanya, sementara yang miskin dihina dan tidak dianggap. Kapitalisme mengakui perbedaan antara kebangsaan dan tidak menyamakan mereka di dalam sistemnya. Suku bangsa mayoritas di negara mengendalikan kebangsaan lain dan memaksakan adat istiadat, budaya dan pendapat mereka pada suku-suku bangsa lainnya. Kapitalisme juga mengakui diskriminasi antara orang-orang dari agama dan aliran yang berbeda. Penganut agama atau aliran yang dominan di negara itu memperlakukan buruk penganut agama atau aliran lain, terutama terhadap kaum Muslim.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengeluh tentang berlanjutnya “rasisme di Amerika”. Dia menyatakan “itu endemik dan tertanam dalam diri kita”. Dia berkata, “Mayoritas orang memiliki poin fundamental yang mengakhiri diskriminasi ini, dan pembunuhan orang berdasarkan warna kulit mereka adalah masalah nyata. Apakah ini yang membuat Amerika hebat? Saya tidak berpikir demikian”. Perlu diketahui bahwa Amerika dibangun atas dasar diskriminasi rasial sejak era kolonialisme Inggris terhadap negara tersebut dan sejak hari pertama pendiriannya. Orang-orang kulit putih Eropa, terutama Protestan Anglo-Saxon, orang kaya kulit putih, diberi hak eksklusif di segala bidang. Sementara imigran Eropa selain Protestan mengalami diskriminasi rasial hingga awal abad kedua puluh.

Para imigran dari negara-negara di Timur Tengah dan Asia juga menghadapi diskriminasi rasial terhadap mereka. Kaum Muslim juga menghadapi diskriminasi dan masih terus menghadapinya. Adapun orang kulit hitam, mereka adalah budak yang tidak memiliki hak. Pada awal tahun 1863 dikeluarkan deklarasi pembebasan budak dan penghapusan perbudakan, tetapi orang kulit hitam tetap diperlakukan seolah-olah mereka masih budak. Mereka direndahkan dan diperlakukan dengan buruk dan diskriminasi rasial hingga hari ini. Perlu dicatat bahwa Amerika dibangun di atas tengkorak penduduk asli, karena mereka dimusnahkan tanpa ampun. Jumlah korban dari suku Indian mencapai puluhan juta. Mereka bangga dengan perbuatan mereka itu dan mereka perbagus dengan film-film Holywood cowboy seolah-olah mereka punya hak memperlakukan orang dengan kejam dan wajib membunuh mereka!

Presiden AS Trump yang merepresentasikan wajah asli dari rezim Amerika yang bercirikan rasisme, kesombongan dan arogansi, menuntut agar tentara diturunkan untuk untuk menumpas protes anti diskriminasi rasial dengan menerapkan hukum pemberontakan, dengan menganggap protes tersebut sebagai pemberontakan terhadap negara. Namun Menteri Pertahanannya Mark Esper membalasnya pada 6/3/2020 bahwa dia “tidak mendukung penggunaan Insurgency Act”. Dia menggambarkan pembunuhan pria kulit hitam, George Floyd sebagai “kejahatan yang mengerikan” dan menekankan bahwa “rasisme adalah sebuah kenyataan di Amerika”.

Orang Amerika tidak akan bisa menyelamatkan diri dari diskriminasi rasial dengan ideologi kapitalisme yang mereka emban. Dan tidak ada keselamatan bagi mereka kecuali dengan menerima Islam yang tidak membeda-bedakan orang dan mengharamkan dengan tegas segala bentuk diskriminasi. Daulah Islam dibangun atas dasar ketakwaan keapda Allah bahwa semua orang adalah sama, tidak ada perbedaan antara orang berkulit hitam dan orang berkulit putih. Kepemimpinan intelektual dalam Islam adalah satu-satunya yang berhasil dengan meleburkan semua bangsa dengan ras, warna kulit dan suku bangsa mereka dalam satu wadah peleburan. Ketika Khilafah Rasyidah didirikan kembali, akan terealisir kesuksesan seperti yang telah dicapai di masa lalu dan lebih banyak lagi, dengan izin Allah.

Pemikir terkenal Amerika Noam Chomsky membuat pernyataan tentang situasi negaranya, dengan mengatakan: “Amerika Serikat sedang menuju bencana sebagai akibat dari kurangnya strategi federal dalam menghadapi virus Corona, kurangnya jaminan kesehatan untuk semua orang, serta tidak mengakui bahaya perubahan iklim”. Dia mengaitkan apa yang terjadi di negaranya, Amerika, negara yang paling terdampak oleh virus corona yang baru muncul, dengan kurangnya manajemen yang koheren. Dia berkata, “Gedung Putih dipimpin oleh seorang sosiopat, megalomaniak, yang hanya peduli pada kekuasaan dan capaian elektoral. Dia pasti harus mempertahankan dukungan basisnya yang mencakup kekayaan besar dan majikan yang paling terkemuka”. Dia mengatakan, “kita akan keluar dari pandemi dengan harga yang sangat tinggi. Tetapi kita tidak akan pernah pulih dari mencairnya lapisan es di kutub, naiknya permukaan laut, dan efek negatif lainnya dari perubahan iklim. Apa yang harus kita lakukan terhadap hal itu? Setiap negara melakukan sesuatu, tetapi tidak melakukan yang cukup. Amerika Serikat, pada bagiannya, melakukan banyak hal, menuju jurang dengan cepat dengan membatalkan program dan undang-undang yang akan berdampak meringankan dampak bencana”. Dia manambahkan, “Ini situasi saat ini, tapi itu bisa berubah. Masih ada kekuatan global yang terus berjuang. Pertanyaannya bagaimana kekuatan ini akan muncul (dari krisis) di masa depan. Ini yang akan menentukan nasib dunia imbuhnya. (AFP, 25/5/2020). []

Sumber :

http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/alraiah-newspaper/70920.html

http://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/5532-2020-10-06-18-29-58