April 14, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Berbagai kesepakatan menjalin hubungan normalisasi antara Arab, Timur Tengah dan Israel telah membuka pengkhianatan baru para penguasa negeri Muslim terhadap Islam dan umat Islam. Kesepakatan yang terjadi antara Israel dan UEA atau pun Bahrain merupakan bukti hubungan penguasa-penguasa Arab dengan Israel baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa. Langkah ini menjadikan jumlah negara Arab yang mengakui Israel sebanyak empat negara (Mesir melakukannya pada 1979, Yordania pada 1994, UEA-Bahrain 2020).

Kesepakatan pengkhianatan baru ini datang untuk semakin memperjelas keadaan para penguasa yang telah mendominasi kehidupan umat islam. Para penguasa-penguasa Arab sama seperti para penguasa kaum Muslim lainnya. Mereka hanyalah alat murah di tangan musuh-musuh umat Islam. Mereka melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka tanpa ragu atau malu.

Berbagai bentuk kesepakatan maupun normalisasi hubungan sejatinya merupakan pengkhianatan. Maka yang akan didapatkan adalah kehinaan di dunia serta siksaan di akhirat yang lebih pedih dan menghinakan. Para penguasa Muslim sama dalam pengkhianatan. Mereka secara terbuka menormalkan dan membangun hubungan; menyerukan solusi dua negara, legitimasi internasional dan keputusan internasional sebagai dasar untuk menyelesaikan masalah bumi yang diberkati (Palestina). Ada inisiatif Arab yang kental aroma pengkhianatannya. Juga ada keputusan internasional. Semua mengarah pada akibat yang sama, yaitu pengkhianatan, pengabaian dan penyerahan sebagian besar wilayah bumi yang diberkati.

Kesepakatan Arab-Israel yang terjadi saat ini bukanlah hasil dari diplomasi yang rumit. Semuanya dilakukanpun sejalan dengan AS dan agenda politik dari pemerintahan Trump. Justru Israel dan para pemimpin Arab di Teluk Persia telah diam-diam membina hubungan selama bertahun-tahun. Dan Amerika merupakan aktor utama dibalik berbagai kesepakatan-kesepakatan yang ada. Perjanjian dan kesepakatan yang terjadi sama dengan Perjanjian Camp David dan masalah bumi yang diberkati adalah masalah umat yang besar dan mengakar.

Bagi AS dan sekutu-sekutunya baik itu Inggris, Prancis, Rusia dan yang lain, merawat dan menjaga entitas Israel merupakan harga mati dalam politik luar negeri mereka. Karena itu mereka tidak akan membiarkan penguasa negeri Muslim yang menjadi boneka melakukan tindakan yang mengancam eksistensi penjajah Israel.

Jauh sebelumnya Trump dan AS juga sudah mengumumkan Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Dan pengumuman tersebut termasuk hubungan normalisasi tidak akan ada halangan yang cukup berarti, mengapa? Jawabannya jelas, karena para penguasa negeri Muslim tidak akan berani melakukan apapun.

Pengkhianatan ini semakin nyata dengan tindakan-tindakan penyesatan politik untuk menutupi kelemahan mereka. Mereka seolah-olah tampil sebagai pembela Palestina atau umat Islam dengan memberikan solusi dua negara. Padahal hal tersebut sama juga dengan mengakui negara Israel berdiri, yang justru merupakan masalah utamanya. Di sisi lain Israel dibiarkan dengan leluasa melakukan serangan-serangan terhadap rakyat dan umat Islam di Palestina, semakin parahnya hal ini berulang kali dilakukan dengan melanggar kesepakatan damai.

Termasuk bagian dari lembaran pengkhianatan adalah melakukan penyesatan politik terhadap negeri Muslim yaitu dengan mengikuti arahan dan kebijakan politik dan strategi Barat. Pada tahun 2003, lembaga think-tank (gudang pemikir) AS, yakni Rand Corporation mengeluarkan sebuah kajian teknis yang berjudul Civil Democratic Islam. Rand Corporation membagi umat Islam menjadi 4 kelompok, yakni kelompok Muslim Fundametalis (radikal), Tradisionalis, Modernis dan Sekularis. Strategi berikutnya adalah melakukan politik belah bambu (pecah belah umat Islam), yakni dengan mendukung satu pihak serta membenturkan antar kelompok tersebut. Begitu juga dokumen yang diterbitkan pada tahun 2007 yang berjudul Building Muslim Networks, yaitu sebuah dokumen untuk membangun jaringan Muslim moderate yang mendukung berbagai program dan agenda dari Barat.

Jelas sudah, perang melawan radikalisme adalah proyek Barat, dan penguasa negeri Muslim berkhianat pula dengan mengikuti proyek ini. Adapun tujuan Barat menjalankan strateginya tidak lain untuk menguasai dunia dan merampok kekayaan negeri-negeri Muslim dan menancapkan nilai-nilai Barat yang terpancar dari ideologi Sekular-Kapitalisnya.

Siapa yang rugi? Jelas umat Islam secara keseluruhan, tidak terkecuali bagi kelompok-kelompok yang memang selama ini aktif dalam perjuangan penerapan syariah dan penegakkan Khilafah serta membongkar rencana jahat dan penyesatan politik maupun berbagai makar dari Barat. Oleh karena itu umat Islam harus bangkit dan bersatu melawan hal tersebut dengan dakwah tanpa kekerasan yang mengikuti metode kenabian.

Dakwah yang dimaksud adalah dakwah politik Islam. Politik Islam dibangun di atas dasar akidah Islam. Politik islam tak lain untuk melaksanakan, menerapkan Islam di dalam negeri dan mendakwahkannya ke luar negeri. Dengan kata lain, politik Islam hakikatnya adalah pengurusan urusan umat berdasarkan syariah Islam.

Dalam hal ini pula, umat seharusnya tidak diam, melainkan harus bergerak untuk mengakhiri periode pengecualian ini dalam kehidupan umat Islam, dan menghilangkan mendung agar matahari Khilafah bersinar, yang akan menghancurkan Trump dan para penguasa budaknya. “Berkata ‘Kapan itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.” (TQS al-Isra’ [17] : 51)”.[]