October 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Radhiyah Abdullah

Kami akan melanjutkan apa yang telah kami mulai di episode sebelumnya dalam topik pendidikan kedokteran, pelatihan profesi, dan penelitian ilmiah.

Karena ilmu kedokteran saat ini mengalami kemajuan yang besar, Daulah juga harus mendorong para dokter untuk terus mengikuti dan mempelajari semua penemuan atau inovasi yang mereka dapati, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dan tercanggih. Hal ini dilakukan dengan mendukung dan mendorong publikasi ilmiah secara berkala dan mendistribusikannya kepada para dokter, serta melalui konferensi dan kursus intensif berkala bagi para dokter, masing-masing dalam bidang spesialisasinya. Sebab ketidaktahuan tentang sebagian perkembangan medis dapat mengakibatkan dharar dan kerugian bagi pasien. Nabi saw menyebut ketidaktahuan (kebodohan) sebagai penyakit, dan obatnya adalah bertanya dan belajar.

Di dalam riwayat Abu Dawud dari Atha’ dari Jabir, dia berkata: “Kami keluar dalam sebuah perjalanan. Lalu salah seorang pria dari kami terkena batu di kepala, lalu dia mimpi basah, dan bertanya kepada temannya: “Apakah engkau dapati untukku ada rukhshah dialam tayammum?” Mereka berkata: “kami tidak mendapati rukhshah untukmu dan kamu mampu terkena air”. Maka dia mandi dan mati. Ketika kami tiba di di hadapan Nabi saw hal itu diberitahukan kepada beliau. Beliau bersabda:

«قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ، أَلا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ -أَوْ يَعْصِبَ، شَكَّ مُوسَى- عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ»

“Mereka mencelakainya celakalah mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu? Karena sesungguhnya obat ketidaktahuan tidak lain adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayamum dan memeras -membalut, Musa ragu- lukanya dengan potongan kain dan mengusapnya dan membasuh (mencuci) seluruh tubuhnya yang lain”.

Di sini kita melihat bahwa Nabi saw melekatkan ancaman kepada orang-orang yang memberi fatwa atas dasar ketidaktahuan dengan mendoakan kecelakaan atas mereka dan menjadikan mereka berada dalam dosa orang yang mencelakainy.

Nabi saw memerintahkan asy-Syifa’ binti Abdullah untuk mengajari Hafshah istri beliau ruqyah an-namlah. Abu Dawud telah meriwayatkan dengan sanad yang dishahihkan oleh al-Albani dari asy-Syifa’ binti Abdullah ra, dia mengatakan: “Rasulullah saw masuk menemuiku dan aku sedang bersama Hafshah, lalu beliau bersabda kepadaku:

«أَلا تُعَلِّمِينَ هَذِهِ رُقْيَةَ النَّمْلَةِ كَمَا عَلَّمْتِهَا الْكِتَابَةَ»

“Tidakkah engkau ajarkan kepadanya ruqyah an-namlah ini seperti engkau ajari dia menulis”.

An-namlatu adalah bisul yang keluar dari satu atau dua sisi. Di dalam hadits ini ada isyarat dari Nabi saw kepada pengajaran ilmu kedokteran dan cara-cara pengobatan.

Tidak cukup dengan memonitor apa yang baru saja, tetapi Daulah Islamiyah harus berada di garis terdepan negara-negara dalam penelitian dan inovasi ilmiah dan medis.

Meskipun semua individu rakyat berhak mendirikan laboratorium ilmiah dalam semua urusan kehidupan termasuk medis, tetapi Daulah Islamiyah harus membangun laboratorium ini. Daulah harus menyiapkan perpustakaan dan sarana ilmu pengetahuan lain selain sekolah dan universitas untuk memungkinkan mereka yang ingin melanjutkan penelitian di bidang kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya dan untuk melanjutkan inovasi, penemuan dan sebagainya, sehingga ada sekumpulan orang yang mujtahid, kreator dan penemu di tengah umat, dan untuk mendorong para ilmuwan dan dokter untuk mengerahkan upaya dalam berkreasi dan berinovasi untuk mencapai keunggulan di bidang ilmiah. Bahkan Daulah Islamiyah mendirikan dana hadiah medis dari Baitul Mal yang memberikan penghargaan kepada para ilmuwan dan dokter yang menemukan pengobatan dan vaksin. Dan dana ini menawarkan hadiah terbesar bagi produsen pelayanan atau metode pencegahan penyakit yang paling berbahaya dan tersebar luas di dunia.

Daulah Islamiyah, memberikan dukungan untuk penelitian ilmiah khusus tentang beberapa penyakit dan bidang medis, seperti penyakit epidemik yang meluas atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Daulah Islamiyah tidak boleh melihat hasil materi dari penemuan atau inovasi ilmiah di bidang-bidang ini seperti yang dilakukan oleh Barat dan mereka yang telah terkooptasi oleh tsaqafah Barat. Mereka menundukkan industri farmasi kepada logika profit sama seperti industri lain, dan tunduk kepada kontrol mutlak perusahaan farmasi multi nasional. Perusahaan-perusahaan ini berusaha memaksimalkan keuntungan mereka dengan segala cara yang memungkinkan, baik legal maupun ilegal, sedangkan pertimbangan kemanusiaan telah benar-benar hilang dari industri ini, yang pada semestinya bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup umat manusia.

Selain itu, banyak perusahaan farmasi yang enggan memproduksi antibiotik baru. Karena obat ini biasanya diberikan untuk jangka waktu terbatas hingga tercapai kesembuhan dan dengan begitu keuntungan dari obat-obatan ini tidak seberapa dibandingkan dengan obat-obatan yang dikonsumsi terus menerus!

Menteri Pembangunan Internasional Inggris Claire Short mengkritik kegagalan perusahaan farmasi untuk berinvestasi dalam obat-obatan dan vaksin yang mengobati penyakit orang miskin yang telah membunuh jutaan orang di dunia berkembang  -menurut klaimnya- seperti malaria, tuberkulosis dan AIDS, dan bahwa sebagian besar upaya ditargetkan pada penyakit yang diderita oleh dunia industri karena merekalah yang mendatangkan keuntungan besar.[]

Sumber :
http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/radio-broadcast/others/71871.html