September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat


Oleh : Abu Yasna (Intelektual Muslim)

Sungguh sangat mengehrankan di tengah pandemi Covid-19, penduduk kaya dan superkaya di Indonesia justru meningkat. Melansir data dari lembaga keuangan Credit Suisse, jumlah penduduk dengan kekayaan bersih 1 juta dollar AS atau lebih di Indonesia mencapai 171.740 orang pada tahun 2020. Angka tersebut melonjak 61,69 persen year on year (yoy) dari jumlah pada tahun 2019 yang berjumlah 106.215 orang. (Kompas.com, 13/7/2021)

Lembaga tersebut juga mencatat, jumlah orang Indonesia sangat kaya atau dengan kekayaan tercatat lebih dari 100 juta dollar AS pada tahun 2020 mencapai 417 orang atau naik 22,29 persen dari tahun sebelumnya. Untuk Indonesia, lembaga tersebut menggunakan sistem survei, bukan data HBS. Pasalnya, bila tidak menggunakan survei, sering kali data kekayaan yang muncul malah jauh lebih rendah. (Kompas.com, 13/7/2021)

Lebih dari lima juta orang menjadi jutawan di seluruh dunia pada tahun 2020 meskipun ada pelemahan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. Sementara banyak orang miskin yang makin miskin. Berdasarkan penelitian Credit Suisse tersebut ditemukan bahwa jumlah miliarder meningkat sebanyak 5,2 juta orang, menjadikan total miliarder di dunia saat ini berjumlah 56,1 juta orang. (BBC.com, 23/6/2021)

Diketahui bahwa pada tahun 2020, lebih dari 1% orang dewasa di seluruh dunia telah menjadi miliarder untuk pertama kalinya. Shorrock Anthony, Ekonom dan penulis Laporan Global Wealth Report juga mengatakan bahwa pandemi memberikan dampak jangka pendek yang cukup besar pada kondisi pasar global. Meski jumlah orang kaya bertambah selama masa pandemi, Shorrocks menemukan bahwa kesenjangan antara ‘si kaya’ dengan ‘si miskin’ menjadi semakin lebar. Dengan kata lain yang kaya menjadi semakin kaya sedangkan yang miskin menjadi semakin miskin.

Sedangkan menurut Nannette Hechler-Fayd’herbe, kepala investasi di Credit Suisse, mengatakan bahwa fenomena ini dapat terjadi karena adanya penurun suku bunga yang dilakukan oleh banyak bank-bank sentral di seluruh dunia. Dengan adanya penurunan suku bunga dari bank sentral di tiap-tiap negara dapat membantu meningkatkan harga saham dan harga rumah selama masa pandemi. Peningkatan harga saham dan harga rumah inilah yang menjadi alasan utama sejumlah orang dapat meraup ‘untung’ semasa pandemi.

Sangat miris, selama pandemi ini yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Sejumlah orang kaya yang memiliki sejumlah aset saham atau rumah mengalami peningkatan kekayaan, sedangkan bagi mereka yang tidak punya aset-aset tersebut terpaksa harus berjuang melawan ‘siksaan’ ekonomi semasa pandemi. (Finance.Detik.com, 23/6/2021)

Sederte orang-orang kaya di Asia Tenggara diantaranya di Brunei dengan Sultan Hasanal Bolkiah, Raja dan pengusaha minyak memiliki 500 mobil rolls-royce dengan kekayaan (Rp392,4 triliun). Indonesia dengan Robert Budi Hartono (Rp260,6 triliun), Thailand dengan Dhanis Chearavanont (Rp245,6 triliun), Malaysia dengan Robert Kuok (Rp173,7 triliyun), Singapura dengan Robert dan Philip Ng, juragan tanah, developer dan pengusaha hotel (Rp169,5 triliun), Vietnam dengan Pham Nhat Vuong, industri makanan, perumahan dan peralatan kesehatan, (Rp112,1 triliun), Filipina dengan Manuel Villar, pengusaha Mall terbesar dan kontraktor (Rp95,2 triliun), Kamboja dengan Kith Meng, pengusaha holding dan politisi, (rp22,4 triliun), Myanmar dengan Tay Za, CEO Hto Group dan pengusaha pertambangan dan perhotelan, (Rp16,8 triliun), Laos dengan Khamtai Shipandon, mantan presiden Rp12 triliun). (IMCNews.id, 22/04/20)

Sedangkan di tingkat Asia, Cina menghasilkan Wang Jianlin, Real Estate (US$ 29,9 miliar) dan Jack Ma alibaba.com. (US$26,5 Miliar), India terdapat Mukesh Ambani, Petrokimia dan minyak (US$24,8 miliar), Arab Saudi menghasilkan Alwaleed bin Talal bin Abdul Aziz al Saud, Kingdom Holding Company US$22,5 Miliar), Hongkong terdapat Li Ka-shing diversifikasi investasi (US$19,5 miliar).

Para penguasa ekonomi di Asia ataupun Asia Tenggara adalah mereka yang menikmati skema ekonomi politik kapitalisme yang menjadikan kebijakan pemerintah dan sistem ekonomi yang menguntungkannya. Sistem ekonomi kapitalislah yang menghasilkan orang-orang kaya yang sering disebut sebagai “Crazy Rich ASEAN’s” yang sangat luar biasa kekayaannya itu.

Berbagai kritik tentu sudah disuarakan oleh para ahli ekonomi baik dari dalam sistem ekonomi kapitalisme maupun sistem non-kapitalisme. Dan pada akhirnya dipahami bahwa memang sistem ekonomi kapitalisme ternyata membawa jurang kesenjangan ekonomi yang semakin melebar.

Sistem kapitalisme mewujudkan kemiskinan massal pada individu, keluarga dan negara. Sistem ini memasilitasi kerakusan pemilik modal untuk melipatgandakan kekayaan pribadinya. Sistem ini mencetak kesengangan permanen yang rentan melahirkan masalah baru di masyarakat seperti maraknya kriminalitas dan problem sosial lainnya.

Jika digali lebih dalam, prinsip dasar dari kapitalisme adalah motivasi individu yang didorong oleh dorongan untuk meraih keuntungan finansial. Misalnya, seorang pengusaha mau mengambil risiko untuk mendirikan perusahaan karena mereka telah memperhitungkan secara jeli akan mendapatkan keuntungan dari operasional usahanya. Namun konsep meraih keuntungan ini mengorbankan pihak lain dilakukan dengan berbagai cara. Aturan dan ketentuan dapat menyesuaikan keuntungan tadi.

Kesalahan dari sistem ini juga adalah upaya penghapusan kemiskinan yang difokuskan hanya pada peningkatan produksi, baik produksi pendapatan negara ataupun perkapita, bukan pada masalah distribusi. Negara selalu mengarahkan pandangannya pada pertumbuhan produksi, serta peningkatan pendapatan rata-rata penduduk, namun tidak pernah memberi perhatian pada persoalan bagaimana kekayaan tersebut di distribusikan dengan adil di tengah masyarakat.

Dari waktu ke waktu seiring meningkatnya produksi, telah terjadi penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Pihak yang kuat meraih kekayaan lebih banyak melalui finansial yang mereka miliki. Sedangkan yang lemah semakin kekurangan dan tidak pernah mendapatkan kesempatan, yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin serakah.

Islam memberikan penyelesaian masalah kesenjangan ekonomi ini dengan cara harus ada pola distribusi yang adil. Secara ekonomi negara harus memastikan bahwa kegiatan ekonomi baik yang menyangkut produksi, distribusi maupun konsumsi dari barang dan jasa berlangsung dengan ketentuan syariah, dan di dalamnya tidak ada pihak yang didzolimi atau terdzolimi. Islam menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, yang memungkinkan setiap orang memiliki akses untuk mendapatkan kekayaan tanpa dirugikan dan merugikan orang lain.[]

Wallahu’alam Bisshowwab