August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Anita Rachman – Pemerhati Sosial Politik

Para pengungsi Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar setelah tindakan keras militer yang dimulai sejak tiga tahun lalu. Para penyelidik PBB menyatakan sebanyak 10.000 orang tewas dan lebih dari 730.000 terpaksa mengungsi (Viva.co.id, 06/12/2020).

Saat ini lebih dari 1600 pengungsi Rohingnya di Bangladesh akan dipindahkan ke pulau yang dinilai tak layak huni. Kelompok-kelompok HAM telah lama berpendapat bahwa pulau tersebut terbentuk secara alami oleh lumpur Himalaya di Teluk Benggala, sekitar 60 kilometer dari daratan. Dan juga rentan terhadap bencana alam serta tidak cocok untuk pemukiman manusia. Human Rights Watch, Amnesty International dan Fortify Rights sangat menentang relokasi para pengungsi ke pulau tersebut. (Okezone.com, 05/12/2020).

Banyak sumber menyebutkan, konflik berkepanjangan ini sudah berlangsung jauh sebelum tahun 2017. Mereka dikabarkan mengalami kekerasan, penindasan, pemerkosaan, pembakaran rumah-rumah hingga pembatasan akses terhadap fasilitas publik. Terbayang jika kita berada di posisi mereka, betapa sulitnya untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Apa Bedanya Mereka dengan Kita?

Pernahkah kita membayangkan seandainya mereka adalah ibu dan ayah kita? Kakak atau adik kita? Atau bahkan kita? Tidakkah dalam hati kecil kita kemudian berteriak? Lantas di mana saudara-saudara seiman yang katanya ada 2 milyar tersebar di seluruh penjuru bumi?

Apakah kita pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan di Indonesia? Di negeri yang saat ini masih dalam kondisi tenang, damai, dan jauh dari konflik? Tentu tidak. Itu adalah takdir Allah yang tak bisa kita pilih. Begitupun mereka, saudara kita yang Allah takdirkan terlahir dan besar di daerah konflik. Mereka tak bisa memilih ataupun menolak.

Bukankah semua hamba Allah berhak atas kenyamanan dan kedamaian seperti yang kita rasakan hari ini? Mengapa mereka tidak bisa menikmatinya? Dan apa yang bisa kita lakukan? Ingin sekali bisa menolong mereka, membebaskan mereka dari segala bentuk penjajahan, merangkul mereka, bersama-sama menjalani hidup dalam kedamaian dan beribadah dengan tenang. Namun apa daya, konflik Rohingnya dan juga berbagai konflik di negeri-negeri muslim lainnya mustahil dapat diselesaikan oleh indivudi atau sekelompok kecil yang terpisah-pisah. Bantuan-bantuan  yang diberikan pun hanya sebatas logistik dan obat-obatan serta memberikan doa terbaik.

Bukankah Sesama Muslim itu Bersaudara?

Padahal, sejatinya sesama muslim itu bersaudara. Persaudaraan umat muslim tak tersekat tempat, tak terpisah wilayah. Tidak hanya terhadap sesama muslim dalam satu daerah atau negeri saja, tetapi di seluruh wilayah bumi. Dimana pun mereka berada, mereka semua adalah saudara. Layaknya saudara, maka sudah seharusnya suka dan duka pun harusnya dirasakan bersama-sama, melangkah bersama, berjuang bersama. Inilah persaudaraan yang hakiki.

Persaudaraan hakiki itu kini tak lagi ada. Disadari atau tidak, umat muslim seluruh dunia, baik sebagai individu, masyarakat maupun negara, tak lagi terikat dalam pikiran, perasaan dan aturan yang satu, yaitu Islam. Jika pikiran dan perasaan masih bisa bersatu, namun jika aturannya tidak satu, yaitu aturan Islam, maka persaudaraan hakiki tetap tidak akan terwujud.

Kita lihat hari ini, secara invividu ada yang merasa tak perlu memikirkan saudara muslim kita di Rohingya dan negeri-negeri muslim lainnya yang terjajah, karena mereka sudah berbeda negara. Bahkan ada juga yang merasa masalah pribadi saja sudah cukup berat, apalagi harus ditambah memikirkan masalah orang di negara lain. Dalam lingkup lebih luas, yaitu masyarakat dan negara, dalihnya selalu sama, bahwa tidak bisa terlalu jauh untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Alhasil, hanya sebatas mengeluarkan pernyataan kecaman dan anjuran untuk mengakhiri konflik melalui lisan semata.

Runtuhnya Persatuan Umat

Persatuan umat saat ini telah runtuh. Hal ini terjadi akibat dampak dari runtuhnya sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah Islamiyah. Umat Islam yang dulu bersatu dalam satu kepemimpinan di bawah sang Khalifah, kini di pecah belah menjadi negara-negara kecil atau negara-bangsa. Masing-masing negara terikat dengan aturan internasional di bawah kendali barat, termasuk dalam hubungan antar negara-bangsa tersebut. Negara-bangsa dalam balutan nasionalisme telah menghancurkan ukhuwah Islamiyah yang pernah meliputi dua pertiga dunia selama berabad-abad lamanya.

Sementara itu, organisasi-organisasi dunia yang dibentuk atas nama perlindungan hak asasi manusia dan sejenisnya juga tidak pernah mampu untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, seperti konflik Rohingnya, Palestina, Uighur, Afganistan, Suriah, dan sebagainya. Banyak pihak juga menyoroti bahwa konflik yang terjadi tidaklah semata-mata permasalahan agama, atau ulah ekstrimis dan teroris seperti yang sengaja diopinikan selama ini. Namun konflik terjadi justru berkaitan dengan politik dan ekonomi. Dari sisi ekonomi fakta negeri-negeri muslim memang menyimpan sumber daya alam yang melimpah, yang kemudian diperebutkan oleh banyak negara.

Islam Kembalikan Persatuan Umat

Sungguh, hanya Islamlah yang mampu menyelesaikan konflik-konflik tersebut secara tuntas hingga ke akar-akarnya. Membebaskan seluruh umat muslim dari segala bentuk penjajahan dan kezaliman. Konflik-konflik tersebut tak akan selesai hanya dengan kecaman ataupun perundingan damai. Di bawah komando kepemimpinan sang Khalifah, potensi kekuatan umat muslim apabila bersatu tak diragukan lagi akan mampu meruntuhkan kesombongan bangsa-bangsa penjajah yang selama ini menindas umat muslim.

Hal ini pula yang membuat musuh-musuh Islam terus menghadang bangkitnya persatuan umat, karena mereka paham betul, jika umat bersatu, maka mereka tak akan mampu lagi menancapkan hegemoninya atas negeri-negeri muslim. Tidakkah ini membuat kita sadar, bahwa bersatu dalam naungan khilafah menjadi sesuatu yang urgen untuk diperjuangkan? Hingga akhirnya Allah menurunkan pertolongan, yaitu sebuah kemenangan. Islam memimpin bukan untuk menguasai, namun untuk mengurusi seluruh umat manusia, apapun agamanya, demi mewujudkan Islam rahmatan lil‘alamin. []

Wallahu’alam bishawab.