October 24, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sulistyowati

Kemiskinan tak ubahnya menjadi persoalan laten diseluruh negara. Tak terkecuali di Indonesia. Apalagi dalam masa pandemi covid – 19 yang semakin mengguncang perekonomian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase angka kemiskinan periode September 2019-Maret 2020 mencapai 9,78 persen atau sebesar 26,42 juta jiwa (antaranews.com, 08/09/2020). Sri Mulyani bahkan menyebut bahwa angka kemiskinan tahun 2020 menjadi angka tertinggi dalam sejarah di Indonesia. Hal tersebut disampaikanya pada saat Rapat Virtual Komite IV DPD RI membahas RUU Pelaksanaan APBN 2019 dan RAPBN 2021, (fobanknews.com/ 09/09/2020).

Sangat ironis dibalik kekayaan sumber daya alam Indonesia, banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Ini menjadi bukti bahwa rezim penguasa yang menganut kapitalis demokrasi hari ini gagal  mengatasi kemiskinan bahkan menolerir kemiskinan massal.

Sistem kapitalis demokrasi tegak di atas asas yang batil yaitu sekularisme yang menafikkan peran agama dalam pengaturan kehidupan tidak ada halal dan haram. Selain itu, tegak di atas pilar yang rusak yaitu prinsip liberalisme dalam urusan kepemilikan, prinsip riba dalam transaksi ekonomi dan prinsip menihilkan peran negara dalam pengurusan urusan rakyat, termasuk dalam distribusi kekayaan di tengah tengah umat.

Jadilah sistem ini sebagai jalan penguasaan kekayaan oleh segelintir orang saja yakni para kapitalis. Kemiskinan justru diproduksi secara struktural. Gap sosialpun semakin tinggi karena yang kaya makin kaya dan yang miskin kian miskin. Dalam konteks dunia global, sistem ini telah terbukti menjadi jalan penjajahan negara besar atas negara yang lebih kecil.

Kondisi hari ini sesungguhnya merupakan konsekuensi logis dari penerapan sistem kapitalisme demokrasi. Sehingga usaha apapun untuk menghilangkan kemiskinan dan gap sosial, hanya akan berujung pada kegagalan. Pengentasan kemiskinan massal adalah hal mustahil dalam sistem demokrasi. Karena dalam sistem ini, kekuatan rezim penguasa lazimnya disetir oleh kekuatan pengusaha alias kekuatan kapitalis. Hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha menjadi sebuah keniscayaan.

Tentu kondisi ini sangat berbeda jika sistem Islam diterapkan. Sebagai dien yang berasal dari Allah, Islam memiliki seperangkat aturan yang mampu menjamin kesejahteraan bagi semua. Sistem ekonomi Islam tegak di atas prinsip kepemilikan yang khas, yaitu terdapat tiga aspek kepemilikan dalam Islam yaitu, kepemilikan individu, umum, dan negara.

Kepemilikan umum semacam kekayaan alam yang jumlahnya tidak terbatas seperti barang tambang, minyak, sungai, danau, hutan, jalan umum, listrik, dll. Semuanya diharamkan untuk dikuasai oleh individu bahkan oleh negara sebagaimana yang justru terjadi pada sistem kapitalisme saat ini. Negara diperintah oleh syariat untuk mengelolanya dan digunakan hasilnya untuk modal menyejahterakan rakyat, khususnya melalui jaminan pemenuhan atas hak kolektif rakyat, semacam kesehatan, pendidikan, keamanan, layanan infrastruktur dan fasilitas umum lain sehingga tercipta lingkungan hidup yang layak dan kondusif, dan lain-lain. Sehingga dari sini saja kita bisa melihat negara dalam sistem Islam akan mempunyai sumber pemasukan keuangan yang sangat banyak.

Semua ini kemudian ditopang oleh aturan-aturan lain yang wajib di terapkan oleh negara. Termasuk penegakan hukum terkait mekanisme penafkahan yang menjadi gerbang awal jaminan kesejahteraan di level individu. Negara wajib menyediakan lapangan kerja yang layak untuk para ayah atau para wali dalam memperoleh harta untuk menafkahi keluarga yang ditanggungnya. Negara akan menerapkan sanksi tegas jika ada pelalaian hak nafkah . Negara akan menjamin penuh hak nafkah orang-orang yang tak memiliki ayah atau penanggungjawab nafkah, seperti orang-orang tua , anak-anak yatim, para janda dan orang-orang berkebutuhan khusus.

Inilah gambaran global bagaimana Sistem Islam menjamin kesejahteraan. Bukan dengan pendekatan rata-rata seperti sistem saat ini tapi justru dengan pendekatan orang per orang. Dengan sistem yang luar biasa inilah, di masa lalu, belasan abad umat Islam hidup dalam taraf kesejahteraan yang tidak bisa dikalahkan oleh sistem manapun.

Maka sudah saatnya kita campakkan sistem kapitalis demokrasi yang terbukti menyengsarakan dan beralih kepada sistem Islam dalam naungan Khilafah yang terbukti mensejahterakan, dengan terus berjuang menyadarkan umat melalui jalan dakwah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW hingga beliau mampu menegakkan sistem Islam. []