May 7, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

BerandaIslam.com, Ramadhan segera datang. Sudah selayaknya kita bergembira untuk menyambutnya. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang agung. Bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Rasulullah saw. bersabda :

Sungguh telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadar). Siapa saja yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung) (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Imam Ibnu Rajab berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira saat pintu-pintu surga dibuka? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah SWT) tidak gembira saat pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira saat setan-setan dibelenggu?” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâif al-Ma’ârif, hlm. 174).

Jadi apabila diantara kita umat Islam tidak bergembira saat Ramadhan datang? Patut dipertanyakan dimana keimanan kita? Padahal Allah SWT telah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang memang meminta dan berdoa pada bulan tersebut.

Ramadhan merupakan bulan yang pernuh kemuliaan karena pada bulan ini merupakan kesempatan untuk mewujudkan ketakwaan. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah [2]: 183).

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Mereka semua diwajibkan berpuasa guna mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa manusia memiliki kelebihan dibandingkan hewan, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya dari umat para nabi terdahulu agar memperoleh derajat takwa dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan. Pada bulan inilah Al-quran telah diturunkan. Allah SWT berfirman : “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185).

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya untuk pertama kali diturunkan Al-Qur’an pada lailatul qadar, yaitu malam kemuliaan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang salah.

Maka dari itu Allah SWT telah menurunkan Al-quran sebagai petunjuk dan pedoman utama selain daripada hadis Rasulullah saw. Dengan Al-quran dan Al-hadis seharusnya menjadi sumber dalam menerapkan hukum, kebijakan dan aturan di berbagai negeri-negeri kaum Muslimin saat ini.

Sebagaimana hal ini juga telah dilakukan oleh Rasulullah saw, para sahabat, Khulfaurrasyidin dan kekhilafahan setelahnya. Semuanya berupaya untuk menerapkan Islam sebagai aturan dalam kehidupan. Tidak hanya untuk negeri-negeri Muslim saja tetapi juga agar dapat diterapkan di seluruh penjuru dunia.

Saat ini umat Islam telah kehilangan Khilafah Islamiyah. Yaitu negara yang wajib menerapkan Islam yang berdasarkan Al-quran dan Al-hadis. Oleh karenanya menjadi suatu keharusan dan kebutuhan untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam.

Ramadhan juga adalah bulan maghfiroh. Yaitu bulan pengampunana dosa. Rasulullah saw. bersabda : “Siapa saja yang berpuasa pada Bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR al-Bukhari dan Muslim). Termasuk bulan ini adalah bulan agar kita sebagai umat Rasulullah diselamatkan dari siksa api neraka. Nabi saw. bersabda: “Bagi Allah banyak orang-orang yang dimerdekakan dari Neraka. Hal itu terjadi setiap malam” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Ramadhan juga adalah bulan penuh dengan rahmat Allah SWT. Yaitu bulan yang dikabulkan segala pinta dan doa. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah di sela-sela menjelaskan tentang hukum-hukum puasa. Allah SWT berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS al-Baqarah [2]: 186).

Oleh karena itu tentu tidak selayaknya Ramadhan kita sia-siakan. Agar tidak sia-sia, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangannya. Dengan begitu kita tidak termasuk orang yang disabdakan Rasulullah saw., “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ahmad).

Penting juga bagi kita untuk membulatkan niat dan memiliki himmah ‘aliyah (cita-cita tinggi) di bulan suci Ramadhan ini sebagai tempat untuk memperbaiki perkataan dan perbuatan, bersungguh-sungguh dalam ketaatan, menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal shalih dan berpuasa dengan sebenar-benarnya.

Termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini pun berkaitan dengan al-Quran; membaca, memahami dan merenungkan al-Quran. Dan yang paling utama adalah mengamalkan al-Quran. Karena itu pula, hal yang paling tercela adalah meninggalkan al-Quran (hajr al-Qur’an), baik dengan tidak membaca dan mempelajari al-Quran, apalagi tidak mengamalkan al-Quran.

Negeri ini belum mengamalkan al-Quran, termasuk negeri-negeri Muslim lainnya. Yang ada justru al-Quran dimusuhi. Bukan memusuhi fisiknya, namun hukum-hukumnya. para pengemban dakwah untuk menyampaikan wajibnya menerapkan Al-quran dituduh intoleran, sumber terorisme, radikal, ekstrem, dan pemecah-belah. Saat yang sama, hukum-hukum thaghut ditegakkan dan dibela-bela. Padahal jelas tindakan tersebut merupakan kejahatan dan dosa besar.

Terkait hal tersebut Nabi saw. bersabda: “Shalat lima waktu, shalat Jumat hingga shalat Jumat berikutnya, dan Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya dapat menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama dosa-dosa besar ditinggalkan” (HR Muslim dan Ahmad). Artinya, siapa saja yang masih melakukan dosa besar, meski dia berpuasa Ramadhan, hal itu tidak akan berujung pada pengampunan dosa-dosanya.

Faktanya saat ini syariah Islam dimusuhi dan digantikan dengan hukum-hukum kufur, dosa-dosa besar menjadi sangat lumrah dilakukan oleh kebanyakan masyarakat. Hukum-hukum Islam juga tidak dapat ditegakkan. Padahal apabila kita mengabaikan hukum-hukum Allah maka pelakunya bisa terkategori zalim, fasik bahkan kafir (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44, 45, 47). Sayangnya, inilah yang terjadi di negeri ini termasuk di negeri-negeri Muslim lainnya.

Jangan sampai kita malah menjadi hamba yang rugi karena datangnya bulan suci Ramadhan. Mengapa rugi? Karena kita tidak mendapatkan ampunan dari Allah SWT gara-gara kita melakukan dosa besar, yaitu tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Betapa rugi seseorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dia diampuni.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Oleh sebab itu, kita wajib meninggalkan semua itu, lalu bersegera untuk mengamalkan dan menerapkan syariah Allah SWT secara kaffah, agar kita dapat masuk ke pintu rahmat dan ampunan-Nya, khususnya pada bulan yang penuh berkah ini. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua.

Akhirnya, kami seluruh crew tim Beranda Islam mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan. SemogaAllah menerima seluruh amal sholih kita di bulan Ramadhan dan kita semua mendapatkan ampunan serta rahmat Allah SWT. Aamiin. []

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb .