July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Shinta Putri (Muslimah Peduli Peradaban)

Berita tentang anak yang menggugat orang tua tengah marak terjadi di negeri ini. Kasus di Bandung, Jawa Barat yang sempat menjadi sorotan masyarakat. Deden tega melaporkan dan menggugat ayahnya, Koswara ke pengadilan untuk minta ganti rugi senilai Rp 3 miliar. Sebuah nilai gugatan fantastis yang diajukan seorang anak kepada orang tuanya sendiri (Pikiran-rakyat.com, 21/1/2021).

Sungguh sangat tega, orang tua yang sudah berusia lanjut harus menanggung derita lahir dan batin, mengurus gugatan anak ke pengadilan sehingga beliau harus menjalani persidangan yang sangat melelahkan. Hanya karena masalah tanah warisan ayahnya yang akan dijual, sedangkan Deden anak dari Koswara sebagai ahli waris pemilik tanah yang mendirikan bangunan toko untuk usaha di atas tanah tersebut tidak terima jika tanahnya dijual, karena Deden merasa sudah ada perjanjian kontrak tanah secara lisan dengan ayahnya.

Kasus yang lain di Nusa Tenggara Barat seorang anak melaporkan ibunya karena ada perselisihan rumah dan tanah peninggalan ayahnya. Si anak meminta harta ayahnya untuk dibagi ke anak-anaknya, sedangkan si ibu bersikukuh tidak menjual dan membagi rumah tersebut sesuai wasiat terakhir almarhum suaminya (Kompas.com, 23/12/2020).

Dari dua kasus di atas masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua nya adalah masalah harta. Di saat sekarang ini keberadaan materi sangat dibutuhkan, bahkan seakan-akan tidak bisa hidup tanpa  materi. Demi materi rela menjadi anak durhaka.

Ada apa dengan zaman sekarang? Ketika teknologi yang sudah sangat canggih serta gaya hidup serba modern, akan tetapi akhlak manusia jauh dari keberkahan dan kebaikan. Sangat tega sekali, orang tua yang sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya bisa dipermasalahkan. Buah hati yang sangat disayangi dari dulu sampai saat ini dengan tega memperlakukan orang tua yang sudah renta. Orang tua yang sudah bekerja banting tulang (baca : bekerja keras), mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya supaya bisa sukses, akan tetapi jerih payah orang tua dibalas dengan kedurhakaan.

Perbuatan anak yang durhaka kepada orang tua adalah hasil dari nilai-nilai agama yang dijauhkan dari kehidupan (sekulerisme). Aturan kehidupan berasaskan materialisme dan kebebasan berperilaku yang digunakan menjadi asas dalam setiap amal perbuatan, sehingga tak heran hanya karena materi berani berbuat apapun, tanpa peduli hal itu dilarang atau tidak oleh Sang Maha Pencipta.

Kehidupan yang seperti ini tentu saja akan menimbulkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri karena telah berbuat zalim kepada orang tua dan tentunya akan dilaknat oleh Allah. Dibalik ridha orang tua juga terdapat ridhanya Allah. Jika orang tua rela dengan perbuatan kita tentu Allah  juga akan rela, sehingga Allah akan selalu memberi keberkahan dan kebaikan. Sekulerisme menjadikan anak jauh dari nilai agama dan jauh dari keterikatan terhadap aturan untuk taat kepada orang tua.

Hal ini sangat berbeda dengan aturan kehidupan dalam Islam, seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al Quran Surat Lukman ayat 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Begitulah Islam menjaga betul akhlak anak kepada orang tuanya, karena landasan keimanan yang menancap di dalam dada menimbulkan katerikatan bahwa perintah Allah harus dilaksanakan, karena juga ketakutan akan adanya azab dari Allah yang telah juga memperingatkan manusia jika lalai terhadap perintah-Nya. Tatanan dalam keluarga yang harmonis pasti akan terbentuk jika selalu mengedepankan taqwa kepada Allah SWT.

Hanya Islam yang bisa menjaga kedamaian dan keharmonisan anak dengan orang tua. Tentunya kita harus memperjuangkan supaya aturan Islam ini bisa tegak kembali memimpin dunia. Demi mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi.[]

Wallahu a’lam bishowab