December 7, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Lathifah (Pontianak-Kalbar)

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, bertolak ke Amerika Serikat (AS) untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Association of South East Asian Nation (ASEAN) – AS, 11 – 13 Mei 2022. Beberapa agenda yang ikuti di antaranya, pertemuan dengan anggota Kongres, para CEOs besar Amerika, Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris dan Tim Perubahan Iklim Amerika, serta Pertemuan Tingkat Tinggi Pemimpin ASEAN dan Presiden Amerika Serikat, Josef R Biden sebagai koordinator kemitraan ASEAN – AS periode 2021-2024 (www.suarapemredkalbar.com, 10/05/2022).

Indonesia berharap, KTT Khusus ini akan menghasilkan kerja sama yang dapat berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan. Relasi ASEAN-AS yang sudah berusia lebih dari empat dekade menunjukkan KTT ini penting dan strategis. AS tentu akan mengamankan kepentingannya di kawasan Asia.

Bisa kita lihat, penyelenggaraan KTT ini bertepatan dengan terjadinya perang Rusia-Ukraina. Perkiraan seorang pakar, ASEAN akan menolak konflik Rusia-Ukraina masuk dalam agenda pembahasan di KTT. AS pun perlu mengintensifkan fokusnya di kawasan Indo-Pasifik karena adanya “tantangan yang meningkat” sebagai dampak kebangkitan Cina.

Pun sebagaimana kita ketahui, AS saat ini masih terdampak Covid-19, inflasi di AS telah mengalami meningkat dan pertumbuhan ekonomi AS terhambat. Maka bisa dikatakan, KTT khusus Asean-AS ini juga adalah bagian dari rekayasa AS untuk mengamankan ekonomi AS karena kondisi saat ini sedang kepepet.

Sebenarnya saat ini adalah momentum yang sangat tepat untuk melepaskan diri dari kampiun kapitalisme AS yang sudah menguasai ekonomi maupun politik negeri-begeri Muslim. Asalkan negeri-negeri kaum Muslim tersebut, termasuk Indonesia, bersatu dan memiliki ideologi yang sepadan untuk melawannya, yaitu ideologi Islam. Dan bukan malah turut hadir mendukung AS dalam KTT ASEAN-AS.

Titik pemungkas kelemahan kapitalisme global sungguh kian tampak. Negeri-negeri muslim semestinya harus segera sadar sehingga mampu berbalik arah dan melawan ideologi kufur kapitalisme.

Dunia Islam semestinya juga fokus untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah karena Khilafah adalah letak urgensi kedaulatan ideologis baik secara ekonomi maupun politik di negeri-negeri muslim agar tidak membebek, disetir, ataupun menjadi kaki tangan negara penjajah dan negara adidaya AS.

Negeri-negeri muslim harus bersatu sehingga mampu menjadi negara mandiri dan berdaulat, yaitu bersatu dalam naungan negara Islam yakni Khilafah. Di mana jaminan keamanan berada di tangan kaum muslim dan aturan yang diterapkan hanyalah aturan Islam.[]