February 23, 2024

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Konser Coldplay: Matinya Empati Secara Sistemik

Oleh: Khairani (Aktivis Muslimah Pontianak)

Antusiasme masyarakat Indonesia sangat besar dengan adanya gelaran konser Coldplay yang akan diadakan di Stadion Utama GBK, Jakarta, pada Rabu, 15 November 2023 mendatang.

Untuk harga tiket konser Coldplay yang termahal adalah jenis Ultimate Experience (CAT 1) sebesar Rp11 juta ditambah pajak 15% menjadi Rp13.200.000. Sedangkan tiket yang termurah adalah Numbered Seating (CAT 8) sebesar Rp800.000 yang menjadi Rp960.000 setelah dikenakan pajak.

Meskipun harga tiket konser sangat tinggi, akan tetapi tidak mengurangi antusiasme masyarakat. Hal ini terbukti masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkannya tiket, bahkan tiket termahal ludes hanya dalam hitungan beberapa menit saja.

Bahkan faktanya, tidak sedikit sebagian dari mereka yang membeli tiket harus mengambil tabungan, mencari pekerjaan sampingan, menjual barang berharga, bahkan rela meminjam uang ke pinjol. Selain karena merupakan fans Coldplay, adanya efek FOMO (fear of missing out) alias khawatir melewatkan euforia Coldplay mendorong masyarakat berbondong-bondong untuk war ticket.

Konser: Just For Fun!

Oleh sebagian orang, mengikuti konser merupakan sesuatu yang sah-sah saja untuk dilakukan. Sudah lelah bekerja, maka tak ada salahnya untuk memberikan reward pada diri sendiri, semisal dengan mengikuti konser. Meskipun harus merogoh kocek yang dalam.

Saat ini konser adalah sesuatu kesenangan yang dicari-cari, namun sudah tidak lagi memperdulikan perkara halal-haram, yang penting senang. Tidak peduli apakah terdapat ikhtilat atau khalwat, yang penting bisa bergembira melepas penat yang ada. Bahkan meskipun harus mencari pinjaman uang, dimana kemungkinan besar mengandung riba yang merupakan dosa besar. Belum lagi isu yang beredar, bahwa grup band ini mendukung L68T, adalah suatu aktivitas yang dilaknat oleh Allah SWT.


Bersenang-senang akhirnya menjadi tujuan hidup kebanyakan manusia. Merekapun lupa akan tujuan ia diciptakan di dunia, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT dan kembali kepada-Nya. Mereka lupa bahwa setiap aktivitas yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Matinya Empati

Penyelenggaraan konser menunjukkan matinya empati penyelenggara dan pihak pemberi ijin. Sebab pada waktu yang sama, saat ini terdapat berjuta nyawa masyarakat Indonesia yang sedang mengalami penderitaan akibat ditimpa berbagai problem kehidupan. Misalnya saja problem kemiskinan. Jika mengikuti standar Bank Dunia, sebanyak 110 juta jiwa atau 40% penduduk Indonesia terkategori miskin. (CNBC Indonesia, 11 Mei 2023).

Jika memang peduli terhadap masyarakat yang kesulitan, maka seharusnya program yang diadakan adalah membantu masyarakat yang miskin, sehingga beban merekapun bisa berkurang bahkan masalah kemiskinan bisa dituntaskan. Bukan malah mengadakan suatu acara yang sejatinya menghambur-hamburkan uang di saat ada kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Di sisi lain, antusiasisme masyarakat yang tinggi membuktikan lebarnya jurang kesenjangan kesejahteraan. Bagi yang kaya dengan mudahnya mengeluarkan uang belasan juta untuk membeli tiket konser. Belum lagi outfit yang dikenakan, biaya transportasi, penginapan, konsumsi, dll. Sedangkan disisi yang lain, ada yang dengan uang sebesar itu justru untuk menghidupi diri dan keluarga yang mungkin untuk kebutuhan setahun.

Harus disadari, ekonomi Indonesia memang sangat timpang. Menurut World Inequality Report 2022, dalam 20 tahun terakhir, kesenjangan ekonomi di Indonesia tidak ada perubahan signifikan. Selama periode 2001-2021, sebanyak 50% penduduk Indonesia hanya memiliki kurang dari 5% kekayaan rumah tangga nasional. Sementara itu, 10% penduduk lainnya memiliki sekitar 60% kekayaan rumah tangga nasional. (Katadata, 30 Juni 2022).

Walhasil, perekonomian nasional dikuasai oleh segelintir kapitalis. Harta empat orang miliarder di Indonesia setara dengan gabungan harta 100 juta warga termiskin. (DW, 23 Februari 2017).

Hidup untuk Meraih Ridha Allah

Bagi seorang muslim, sungguh tidak layak bagi kita untuk menutup mata bahkan bersenang-senang sedangkan orang lain sedang menderita. Sebab, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara (Lihat QS Al-Hujurat: 10).

Rasulullah saw. Juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam.”

Islam sudah mengatur bagaimana seorang muslim dapat menikmati hidup sekaligus memiliki empati atas nasib sesama. Seorang muslim paham bahwa tujuan dari kehidupan ini adalah untuk meraih ridho Allah. Maka ia akan sangat peduli terhadap saudaranya yang kesulitan atas dorongan ketakwaan. Bahkan kepedulian ia dapat membantu saudaranya adalah suatu kebahagian dan kesenangan yang karenanya Ia pun berlomba-lomba untuk meraih tiket menuju surga.

Di sisi lain, Islam juga mewajibkan negara untuk tidak membiarkan masyarakatnya melebur dalam kemaksiatan. Negara akan mengatur kehidupan masyarakat sesuai hukum syara’, sehingga masyarakat akan selalu terjaga dalam koridor ketataan. Selain itu, negara juga menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi atas setiap individu. Sehingga kebutuhan asasi mereka, baik sandang, pangan, papan, maupun pendidikan, kesehatan, dan keamanan terpenuhi. Rakyat pun akan sejahtera secara merata. Begitu indahnya hidup dibawah naungan Islam.[]

Wallahu a’lam bish-shawab