October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Soal:

Menteri Luar Negeri Turki Mevlud Cavusoglu pada 8/10/2020 mengungkap tentang tercapainya kesepakatan antara Turki dan Yunani. Dalam pernyataannya sesuai yang dikutip oleh Turkey Now, Cavusoglu mengatakan, “bahwa dia sepakat dengan sejawatnya menlu Yunani Nikos Dendias tentang pelaksanaan pembicaraan eksploratif di antara kedua negara. Hal itu ada dalam pernyataan pasca pertemuannya dengan Dendias di sela-sela partisipasinya dalam Forum Keamanan Global Bratislava di Slovakia. Dia menjelaskan bahwa Turki akan menjadi tuan rumah pembicaraan, sementara Yunani mengusulkan tanggal pelaksanaannya …” (website Turkey Now, 08/10/2020). Sebelumnya, Turki telah sangat memperburuk hubungannya dengan Yunani dan menantangnya dengan mengirim kapal eksplorasi Turki dengan dikawal oleh kapal perang … Apa hakikat krisis antara Turki dan Yunani ini? Apa hakikat sikap-sikap internasional terhadap krisis ini? Apakah Amerika ada di belakang hal itu atau Turki bertindak sendiri? Kemudian apa penjelasan peningkatan eskalasi besar itu di awal kemudian berakhir dengan menerima berdialog? Terima kasih.

Jawab:

Memandang krisis Turki Yunani harus dilakukan dari sisi sebab-sebab dan dampak lokalnya di Turki dan juga dimensi ekonomi dan internasionalnya … Dan untuk memahami hal itu maka harus dipaparkan perkara-perkara berikut, dimulai dari perjanjian Lausanne pada kuartal pertama abad lalu:

Pertama: Perjanjian Lausanne:

1- Turki memiliki partai terpanjang di laut Aegea dan Mediterania timur. Tetapi perjanjian Lausanne yang ditandatangani pada 24/7/1923 oleh perwakilan penjahat abad itu Mushthafa Kamal atas nama Pemerintahan Majelis Nasional Agung Turki di Ankara yang memisahkan diri dari Khilafah di Istanbul. Perjanjian inilah yang membatasi Turki di laut Aegea. Hampir saja Turki meninggalkan pantainya yang mana laut Aegea semuanya atau sebagian besarnya menjadi milik Yunani! Hal itu ketika Mushthafa Kamal mengirimkan wakilnya ke Lausanne di Swiss mengusulkan kepada Sekutu agar pemerintahannya di Ankara yang memisahkan diri dari Khilafah di Istanbul bisa menandatangani dengan mereka, yakni Sekutu, perjanjian yang mereka inginkan! Begitulah, perjanjian Lausanne ditandatangani di Swiss antara perwakilan Inggris, Prancis dan negara-negara lain dengan perwakilan Mushthafa Kamal yang dipimpin oleh Ishmet Inönü atas nama Pemerintahan Majelis Nasional Agung di Ankara …

2- Dan terdapat hal-hal menakjubkan dalam perjanjian yang disepakati oleh Mushthafa Kamal dan perwakilannya. Di antaranya, yang tertuang dalam Pasal 12, yang mana semua atau sebagian besar pulau di laut Aegea adalah milik Yunani, padahal beberapa di antaranya berjarak 600 km dari daratan Yunani, sementara dari daratan Turki kadang kala hanya berjarak dua kilometer seperti dalam kasus pulau Meis, yang menjadi milik Yunani dan mereka menyebutnya pulau Castillo Rose, di lepas kota Kas, di provinsi Antalya. Perjanjian inilah yang memberi Yunani (legitimasi) untuk menuntut Turki agar tidak mengeksplorasi lepas pantai Turki karena itu adalah hak eksklusif Yunani menurut perjanjian Lausanne!  Kemudian Pasal 15 menyatakan bahwa Turki menyerahkan kepada Italia semua hak dan kepemilikan atas pulau-pulau berikut: Stambalia (Astrabalia), Rhodes (Rhodes), Kalki (Kharke) … dll. Dan Pasal 20 menyatakan, Turki mengakui aneksasi Siprus kepada pemerintah Inggris yang dideklarasikan oleh Inggris pada November 1914 M. Dan juga apa yang dinyatakan dalam Pasal 23 yang menyatakan bahwa Para Pihak (Tinggi) yang menandatangani perjanjian Lausanne telah sepakat untuk mengakui dan mendeklarasikan prinsip kebebasan lintas dan navigasi, melalui laut dan udara, di masa damai maupun di masa perang, di selat Dardanella, Laut Marmara dan Bosporus! Begitulah, Turki memiliki garis pantai terpanjang di Mediterania timur, tetapi kehilangan kebebasan bergerak di sekitar pulau-pulau di laut ini.

Itulah yang diingatkan Erdogan hari ini sebagai (tanah air “biru”nya yang dirampas)! Dia mengeluh tentang hal itu pada saat gambar penjahat abad itu Mushthafa Kamal, yang menyetujui konsesi ini di Lausanne, menghadap ke arah kepalanya. Meski dengan semua ini dan itu, Erdogan tidak berani menyebut Mushthafa dengan satu kata pun yang menyakitinya!! Sebaliknya, dia menggelitik emosi orang-orang Turki dengan menamai kapal-kapal eksplorasi itu dengan nama para pemimpin besar Utsmani, al-Fatih dan al-Qanuni, meskipun semua kebijakannya sangat jauh dari para pemimpin besar ini! Dia menyatakan, “Semua orang menyadari bahwa Turki secara politik, ekonomi, dan militer mampu “merobek dokumen dan peta yang tidak adil berdasarkan amoralitas dan pertengkaran melawannya”. Dia menambahkan bahwa negaranya siap untuk mengklarifikasi ini “melalui pengalaman yang menyakitkan, baik di meja perundingan atau di lapangan” (al-Jazeera, 9/5/2020). Tetapi dia merasa cukup dengan itu dan berpikir bahwa dia melakukannya dengan baik! Barangkali saja orang-orang Turki melihat bahwa Yunani, yang hampir tidak memiliki pasukan yang berpengaruh, mengirim tentaranya ke pulau Meis. Perlu dicatat bahwa Perjanjian Lausanne menetapkan bahwa pulau ini merupakan daerah demiliterisasi, namun demikian dia tidak menghadapi Yunani dengan kekuatan yang pantas!

3- Meskipun perjanjian ini merupakan kesepakatan pengkhianatan yang ditandatangani oleh Mushthafa Kamal dengan Sekutu, tetapi Mushthafa Kamal menandatanganinya atas nama pemerintah Majelis Nasional Agung di Ankara. Inggris belum puas dengan itu. Bahkan Inggris ingin dari Mushthafa Kamal agar menyempurnakan syarat-syarat yang telah ditetapkan Inggris untuknya, terutama penghapusan Khilafah sepenuhnya dan persetujuan atas sekularisme negara. Mushthafa Kamal memenuhinya dan kemudian hal itu dilakukan pada pagi hari tanggal 3 Maret 1924, ketika dia mengumumkan penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari negara. Pada malam hari yang sama, Mushthafa Kamal mengirim perintah kepada gubernur Istanbul yang menetapkan agar Khalifah ‘Abdu al-Majid meninggalkan Turki sebelum fajar keesokan harinya. Gubernur pun pergi dengan diiringi satu garnisun polisi dan tentara ke istana Khalifah di tengah malam, dan di situ dia memaksa Khalifah untuk masuk ke mobil yang membawanya melintasi perbatasan ke arah Swiss … Dua hari setelahnya, Mushthafa Kamal mengumpulkan semua pangeran dan putri Khalifah dan dideportasi ke luar negeri. Semua jabatan keagamaan dihapuskan. Wakaf kaum Muslim diubah menjadi milik negara. Sekolah-sekolah keagamaan diubah menjadi sekolah sipil dan berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan. Dengan ini, Mushthafa Kamal memenuhi empat syarat yang diminta Lord Curzon dari Mushthafa Kamal, yaitu: penghapusan Khilafah secara penuh, pengusiran Khalifah ke luar perbatasan, penyitaan hartanya, dan pendeklarasian sekularisme negara. Dan kemudian perjanjian Lausanne yang telah dikukuhkan sebelum penghapusan Khilafah dan sempurna dilaksanakan setelah penghapusan Khilafah …! Begitulah, perjanjian Lausanne dipuncaki dengan penghapusan Khilafah, negara-negara mengakui kemerdekaan Turki, dan Inggris menarik diri dari Istanbul dan selat. Akibatnya, salah seorang anggota Parlemen Inggris memprotes Curzon di House of Commons atas pengakuannya terhadap kemerdekaan Turki. Curzon menjawabnya dengan mengatakan: “Masalahnya adalah Turki telah dihancurkan, dan tidak akan tegak kembali, karena kita telah menghancurkan kekuatan moral di dalamnya: Khilafah dan Islam”. Begitulah, Inggris telah berhasil menghancurkan Khilafah dan Islam melalui Mushthafa Kamal, membuat marah kaum Muslim di seluruh bumi pada umumnya, dan kaum Muslim di Turki pada khususnya. Dengan begitu, berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan pun tertutup dari seluruh penjuru bumi, dan hukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan terus bertahan, hukum kufur terus menaungi, dan hukum thaghut saja yang terus mengendalikan semua orang, dan diterapkan di seluruh dunia!

Kedua: berikut ini adalah perjanjian yang ditandatangani oleh perwakilan Mushthafa Kamal di kota Lausanne Swiss yang mana Turki dibelenggu di laut Aegea, pulau-pulau dan pantainya dijadikan milik Yunani dan berikutnya Turki dilarang melakukan eksplorasi di sana! Perkara ini telah berlangsung sekitar seratus tahun dan Turki tunduk padanya, lalu apa yang menggerakkan Turki sekarang ini? Orang yang mendalami jalannya perkara menjadi jelas baginya bahwa krisis ini dilatarbelakangi oleh dua faktor; faktor dalam negeri disebabkan situasi ekonomi Turki, dan faktor luar negeri di belakangnya adalah Amerika Serikat:

1. Faktor dalam negeri:

a. Turki merupakan negara konsumen energi bukan produsen. Belakangan, produksi minyaknya mencapai 35 ribu barel perhari (kantor berita Anadul, 25/7/2020). Itu merupakan angka yang sangat kecil dibandingkan impornya yang mencapai satu juta barel perhari (al-‘Arabi al-Jadid, 22/4/2020). Turki memproduksi gas sekira 475 juta meter kubik dan mengimpor lebih dari 45 miliar meter kubik (al-Jazeera.net, 31/8/2020). Begitulah, Turki berdiri di depan faktur tagihan sangat besar untuk minyak dan gas yang diimpornya yang mencapai 41 miliar dolar pada tahun 2019 menurun dari 43 miliar untuk tahun 2018 disebabkan penurunan relatif pada harga energi secara global (surat kabar Daily Shabah Turki, 27/2/2020). Dan ini merupakan faktor yang sangat menekan perekonomian Turki.

b. Turki terletak di antara negara-negara penghasil minyak di kawasan Arab, Iran dan Azerbaijan, dengan negara-negara yang konsumen minyak, yaitu, negara-negara Eropa. Karena itu, Turki telah membangun banyak strategi energinya atas dasar keberadaannya sebagai “negara koridor”. Pelabuhan Ceyhan di Turki telah menjadi pelabuhan untuk ekspor minyak Azerbaijan. Jaringan pipa telah dibangun di situ dan melaluinya. Jaringan pipa as-Sayl Turki bukanlah yang terakhir untuk mengalirkan gas Rusia ke Turki barat dan dari sana ke Eropa, yang dibuka resmi pada 8/1/2020. Meskipun ada retribusi (biaya) yang dikumpulkan Turki sebagai koridor energi, namun tagihan minyak dan gas masih sangat membebani bagi perekonomian Turki.

c. Sejak tahun 2009, entitas Yahudi dan perusahaan internasional telah mengeluarkan pengumuman baru tentang penemuan jumlah gas yang sangat besar di Mediterania timur. Di ladang Tamar 80 km sebelah barat Haifa, ditemukan 9 triliun kaki kubik gas yang dapat diekstraksi. Kemudian beberapa bulan berikutnya, di ladang Dalit di sebelah barat Palestina tengah yang sedang diduduki ditemukan cadangan gas sebesar 500 miliar kaki kubik. Dan pada 2010, jumlah yang melebihi imajinasi ditemukan di ladang Jonathan di Palestina barat, sebesar 16 triliun kaki kubik. Surat kabar Foreign Policy Amerika mengatakan pada saat itu, “Ini adalah penemuan gas alam terbesar di dunia dalam satu dekade terakhir”.

d. Oleh karena itu, Turki berinisiatif untuk memiliki dan membeli kapal eksplorasi modern dan besar dari Korea Selatan, kapal “al-Fatih”, yang berlayar pertama kali pada tahun 2011 dan mulai melakukan eksplorasi minyak dan gas. Dan kemudian mulai terjadi serangkaian krisis antara Turki dengan Siprus dan Yunani dengan dasar klaim bahwa Turki melakukan pengeboran di wilayah maritim eksklusif Siprus, sementara Turki beralasan dengan orang-orang Siprus Turki dan hak-hak mereka. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Turki telah meningkatkan kecepatan pekerjaan eksplorasi setelah membeli kapal eksplorasi lain (pengeboran lepas pantai) dari Inggris, agar Turki memiliki armada kapal pengeboran laut dan survei geologi yang mampu mencari dan mengebor secara bersamaan di Laut Hitam, pantai barat Turki dan selatan Siprus di Mediterania timur.

e. Begitulah, Turki perlu memperbaiki situasi ekonominya dengan jalan mengeksplorasi minyak dan gas …

Mungkin juga harus disebutkan bahwa ekonomi Turki mengalami pukulan besar, yang menampakkan kelemahannya dalam hal penurunan terus menerus mata uang Turki, “Lira”, yang mendorong Presiden Erdogan untuk meningkatkan laju eksplorasi gas dengan harapan ia akan menemukan secercah harapan bagi perekonomian ini agar ia dapat mempertahankan popularitasnya yang menurun akibat jatuhnya nilai Lira dan pembangkangan para pemimpin partainya melawannya dan pembentukan partai-partai oposisi yang menggerogoti popularitas Erdogan. Oleh karena itu, pekerjaan eksplorasi Turki bersifat komprehensif untuk Laut Hitam dan tidak hanya terbatas pada wilayah-wilayah yang dipersengketakan dengan Yunani di Mediterania.

2. Faktor luar negeri:

a. Amerika Serikat mendukung peluncuran upaya Turki ini. Hal itu dari dua sudut pandang: Pertama, adalah lokal, yaitu bahwa orangnya di Turki, Erdogan, akan berada pada posisi yang lebih baik jika ia mampu menghilangkan hambatan ekonomi, meningkatkan popularitasnya dan mengembalikannya ke level tinggi seperti sebelum 2014. Dan ini membuatnya lebih mudah untuk menjalankan kebijakan Amerika, seperti dalam intervensinya di Libya, yang mana ia dapat membiayai intervensi regionalnya untuk kepentingan Amerika. Kedua, pada saat Amerika, tidak ingin Eropa berada di bawah pengaruh politik gas Rusia, Amerika juga tidak ingin Eropa independen dalam masalah gas. Yunani dan Siprus adalah anggota Uni Eropa dan jaringan pipa dari keduanya ke Eropa. Semua itu tidak diinginkan bagi Amerika. Maka Amerika mendukung ancaman bagi independensi Eropa dalam soal gas melalui Turki. Dalam artian, Presiden Turki Erdogan mengancam Yunani dan melakukan eksplorasi di wilayah yang dianggap oleh Yunani sebagai wilayah maritim eksklusifnya tanpa kesepakatan dengannya dengan dukungan tersembunyi dari Amerika. Oleh karena itu, kapal perang Amerika berpartisipasi dalam manuver latihan militer Turki. Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan partisipasi kapal perusak (destroyer) Amerika USS George Washington dalam manuver tersebut (surat kabar Turkey Now, 26/8/2020). Semua itu terlepas dari rasa malu Amerika untuk mendukung negara dalam aliansi NATO-nya melawan negara Eropa, yang juga di dalam NATO. Dan itu sebagai respon atas partisipasi Prancis, yang merupakan negara lain dari negara-negara NATO, dalam manuver militer Yunani. Manuver-manuver itu, beberapa konsentrasi militer dan nada pembangkangan … Semua itu menciptakan situasi berbahaya di Mediterania timur yang mengancam akan meletus menjadi konfrontasi militer antara negara-negara NATO, yaitu antara Turki, yang didukung oleh Amerika dari balik tirai, dan Yunani, yang secara terang-terangan didukung oleh Prancis, seandainya masalah ini nanti tidak terkendali.

b. Di sisi lain, toleransi Amerika untuk terjadinya konflik besar yang hampir berkembang menjadi aksi-aksi militer antara dua negara anggota aliansi NATO yang dipimpinnya tanpa memberikan bobotnya untuk menyelesaikan krisis, hal itu menunjukkan kesibukannya dengan masalah dalam negerinya seperti masalah virus Corona dan pemilihan umum … Dan menunjukkan bahwa saat ini AS mempercayakan tindakan kepada Eropa ini, terutama Yunani, kepada Erdogan dengan dukungan AS kepadanya dengan cara yang memperhitungkan rasa malu Amerika karena keberadaan Turki dan Yunani adalah anggota NATO yang dipimpin oleh Amerika. Itulah mengapa Amerika berpartisipasi dengan Turki dalam manuver militer sebagai dukungan untuk Turki dalam situasi ini. Ini dari satu sisi. Sementara dari sisi yang lain, Pompeo melakukan kunjungan kilat ke Siprus Yunani. RT melansir, “Pompeo meminta Turki untuk menarik pasukannya dari Mediterania timur, tempat di mana kapal eksplorasi Turki beraktifitas dengan didukung oleh kapal fregat” (RT, 13/9/2020). Artinya, Amerika yang mendukung Turki, mendapati dirinya berada di depan rasa malu yang besar terhadap sekutu Eropa-nya, dan terpaksa meminta Presiden Turki Erdogan untuk menarik kapal eksplorasi, dan seperti itulah yang terjadi.

Kemudian Turki pergi ke dialog dan negosiasi dengan Yunani, karena Yunani mensyaratkan penarikan kapal pengeboran Turki untuk dialog tersebut.

Ketiga: sikap-sikap negara lain:

1. Sikap Prancis adalah sikap Eropa terkuat. Prancis sejak saat pertama mengumumkan berdiri di sisi pihak Yunani. Prancis bergerak secara sepihak. Presiden Prancis Macron berkata, “Saya memutuskan untuk sementara memperkuat kehadiran militer Prancis di Mediterania timur dalam beberapa hari mendatang berkerjasama dengan mitra Eropa, termasuk Yunani” (kantor berita Anadul Turki, 13/8/2020 M). Prancis melakukan manuver angkatan laut bersama dengan Yunani dengan partisipasi pesawat Rafale yang dikerahkan di Siprus. Kemudian Prancis melakukan manuver lain pada 26/8/2020 M, bersama dengan Italia selain Yunani dan Siprus “Romawi”. Semua ini terlepas bahwa Prancis tidak memiliki pengaruh di wilayah tersebut!  Semua ini menunjukkan bahwa Prancis berusaha membangun kembali pengaruh yang signifikan untuknya. Manuver militernya dengan Yunani pada saat Amerika berpartisipasi dalam manuver dengan Turki di dalamnya ada tantangan implisit terhadap Amerika. Dan keterlibatannya dengan Italia menunjukkan bahwa ia merekrut negara-negara Eropa bersamanya melawan Turki. Demikian juga pertemuan yang dilakukannya untuk beberapa negara Eropa Mediterania (Italia, Malta dan Spanyol selain Yunani dan Siprus Romawi), dan tekanannya di dalam Uni Eropa dan NATO untuk mengambil sikap tegas terhadap Turki. “Dan Presiden Prancis berkata: “Kita sebagai orang Eropa, kita harus jelas dan tegas terhadap pemerintahan Presiden Erdogan, yang melakukan perilaku yang tidak dapat diterima” … Dan dia berpandangan bahwa “Turki tidak lagi menjadi mitra di wilayah ini” (Frans 24, 9/10/2020). Demikian juga “Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan bahwa pertemuan Dewan Eropa berikutnya didedikasikan untuk menghukum Turki. Dia mengindikasikan bahwa Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, terus meningkatkan eskalasi dengan Yunani untuk menutupi situasi ekonomi negaranya yang sulit” (the Independent arabic, 7/9/2020 M).

Terlepas dari keberanian sikap anti-Turki Prancis dan upayanya untuk mematahkan tulang presiden Turki, dan terlepas dari kenyataan bahwa Presiden Turki Erdogan bukanlah “al-Fatih” atau “al-Qanuni” yang dia gunakan untuk menamai kapal Turki sesuai nama mereka berdua, dan dia tidak memberi Prancis pelajaran di Mediterania dan tidak menenggelamkan satu kapal milik Prancis minimalnya sebagai balasan terahdap ribuan mil yang ditempuh oleh kapal dan pesawat Prancis untuk mematahkan tulang Erdogan di halaman rumahnya sendiri … Terlepas dari semua itu, politik Prancis tetap bersifat improvisasif dan kurang mendalam. Sebab Malta bergegas untuk menyangkal aliansinya dengan Prancis. Menteri Luar Negeri Malta Evarist Bartolo dalam konferensi pers yang dia selenggarakan dengan mitranya dari Turki Mevlud Cavusoglu mengatakan “Uni Eropa harus melihat hubungannya dengan Turki dari sudut pandang strategis”. Bartolo menambahkan, “Saya kira sudah saatnya Uni Eropa berinteraksi serius dengan Turki, terutama dalam perdagangan, hak asasi manusia, dan pemberantasan terorisme” (kantor berita Anadolu Turki, 9/12 / 2020 M).

2. Adapun Inggris, tidak mengomentari ketegangan di Mediterania timur, yang meningkatkan kekhawatiran Prancis. Sebaliknya, sejak “Brexit”, Prancis memandang curiga pada peran Inggris. Prancis terkadang melihat Inggris sebagai oposisi, seperti di Aljazair. Dan jika pasar keuangan yang besar di London memberi Inggris tempat di pasar minyak dan gas, terutama dalam penentuan harga karena hubungannya dengan minyak mentah Brent dan berikutnya harga untuk jenis minyak lain, dan bahkan gas alam juga, maka Prancis, yang melihat Inggris meninggalkan Uni Eropa, sedang mencari tempat untuk dirinya sendiri di sektor yang sangat vital secara internasional ini. Oleh karena itu, Prancis memutuskan untuk memantapkan dirinya di Yunani, dengan harapan hal itu mungkin akan membantunya menjadi aktor, bukan hanya konsumen, dalam masalah energi.

Di sisi lain, Inggris, yang melihat apa yang tampak seperti kebijakan menghukum dari Uni Eropa terhadapnya karena keluar dari Uni Eropa, Inggris sedang membuat jalan dan menarik merumuskan politik untuk dirinya sendiri, dan mungkin Inggris khawatir akan terjadi peningkatan ketegangan yang tiba-tiba di Mediterania timur. Oleh karena itu, Inggris tidak mengambil posisi konfrontasi dengan Turki. Yunani tidak ada artinya bagi Inggris dibandingkan dengan kepentingan Turki-nya. Dan hanya seorang fanatik buta seperti Prancis yang menaiki gelombang Yunani! Dibandingkan dengan Inggris dan Jerman, Prancis tidak memiliki pandangan ke depan, yang menyebabkan dia kembali dengan tangan kosong setelah aksi politik sulit yang dia lakukan. Karena semua itu, presiden Turki menyerangnya dengan keras, dengan mengatakan: “Tuan Macron, Anda akan memiliki lebih banyak masalah dengan saya secara pribadi”. Dia menambahkan: “Anda tidak memiliki informasi sejarah. Dan anda tidak punya pengetahuan bahkan tentang sejarah Perancis. Jadi jangan sampai Anda sibuk dengan Turki dan rakyatnya“ … (Al-Quds Al-Arabi, 9/12/2020).

3. Adapun Jerman, juga tidak tergelincir di belakang sikap Prancis yang konfrontatif melawan Turki. Jerman menawarkan mediasi, dalam hal yang sebagian pihak menafsirkan Jerman sedang memainkan peran yang seharusnya dimainkan Washington. Dan Jerman terus menjauhkan diri dari sikap Prancis, menengahi dan menyerukan dialog. Sikap Jerman paling jauh melawan Turki adalah apa yang dinyatakan oleh Heiko Maas saat berkunjung ke Athena, “Mengenai eksplorasi Turki di Mediterania Timur, kami memiliki posisi yang sangat jelas … Hukum internasional harus dihormati. Oleh karena itu, kemajuan dalam hubungan Uni Eropa dengan Turki hanya akan mungkin jika Ankara menghentikan provokasi di Mediterania Timur”. Dia melanjutkan, bahwa pengeboran Turki di lepas pantai Siprus harus berhenti (Frans 24, 7/22/2020 M).

4. Adapun Rusia, Rusia telah menawarkan untuk menggunakan hubungan baiknya dengan Turki untuk menengahi antara kedua pihak. Namun seperti kebiasaannya, Rusia tidak dapat mengambil tindakan sendiri, meskipun Rusia mengumumkan manuver militer di Mediterania timur sebagai tanggapan atas manuver Prancis. Dan mungkin Rusia ingin mengingatkan dirinya sendiri, (Rusia dijadwalkan untuk memulai Latihan angkatan laut militer dengan amunisi aktif di Laut Mediterania Selasa depan, berlangsung hingga 22 September, dan satu lagi dari 17 hingga 25 September, menurut lansiran Bloomberg Agency, mengutip dari Angkatan Laut Turki. Juru bicara Angkatan Laut Rusia Igor Degalo mengatakan, “Kami memiliki hubungan ekonomi dan pertahanan yang kuat dengan Turki. Tetapi kebijakan kami adalah menghindari mendukung kedua pihak”. Manuver Rusia dilakukan pasca latihan militer lainnya yang dilakukan oleh Prancis di wilayah tersebut, yang mana Prancis mengerahkan pesawat militer dan kapal perang untuk mendukung Yunani dan Siprus dalam konflik tersebut (the Independent arabic, 9/7/2020). Artinya, posisi Rusia tetap marjinal, menunggu sinyal dari balik lautan, tetapi Rusia mengingatkan kekuatannya.

Keempat: karena semua itu maka krisis Turki Yunani, jika berkepanjangan, akan menyebabkan keretakan yang dalam dalam hubungan internasional. Dari sisi hubungan di sisi Atlantik, negara-negara Eropa ingin melihat tempat mereka di dunia yang Amerika ditarik dari kepemimpinannya menuju fokusnya pada China dan masalah internalnya yang meningkat. Negara-negara itu sedang mencari peran yang terlepas dari Amerika. Dan Amerika di bawah pemerintahan Trump tidak mundur dari mengancam terhadap kepentingan Eropa dengan menggunakan orang lain, seperti dalam peran Rusia dan Turki di Libya saat ini. Negara-negara Eropa sangat khawatir, krisis Mediterania Timur akan mengarah pada hancurnya impian mereka tentang sumber gas alam yang aman jika Turki mengontrol sebagian besarnya, dan karena Turki didukung di belakang layar koalisi oleh Washington, maka politik Prancis di Mediterania timur berusaha menolak peran yang dirumuskan di Washington untuk Turki dan juga untuk Rusia.

Perselisihan trans-Atlantik ini tak kurang dari perselisihan lain di dalam Eropa itu sendiri. Sikap Jerman lah yang menghalangi Prancis untuk mendorong Eropa menghukum Turki. Artinya, Prancis tidak berhasil menemukan persetujuan di dalam Uni Eropa melawan Turki, maka Prancis pergi dan mengumpulkan negara-negara Eropa Mediterania! Jerman banyak memikirkan kepentingannya, dan bahkan sejarahnya dengan Turki. Jerman dan Daulah Utsmaniyah bertempur berdampingan melawan sekutu dalam Perang Dunia I. Dan hubungan Jerman tetap kuat dengan Turki, hanya tercemar oleh (distorsi) Presiden Erdogan yang didorong oleh politik Amerika dalam banyak kesempatan … Ini ditambah lagi adanya komunitas keturunan Turki dalam jumlah besar di Jerman.

Kelima: Mengenai apakah krisis sudah berakhir atau belum, Turki telah mengumumkan penemuan penting gas di Laut Hitam, sebesar 320 miliar meter kubik. Dan ini mendorongnya untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut di Laut Hitam dan Mediterania timur. Jadi upaya Turki untuk mengurangi beban ekonominya terus berlanjut. Dan dukungan Amerika untuk itu terus berlanjut untuk mengganggu dan menekan Eropa, terutama Prancis sehingga tidak bertindak jauh dalam mengkontradiksi politik AS di kawasan dan mengacaukannya!

Tetapi yang menyedihkan bahwa negeri-negeri Islam selama seratus tahun terakhir setelah hilangnya Khilafah, Daulah Islamiyyah yang benar dan yang membangkitkan kemuliaan kaum Muslim, negeri-negeri Islam telah menjadi berada di belakang ekor umat-umat lain. Orang-orang kafir imperialis mempermainkan nasib negeri-negeri Islam menggunakan alat-alat mereka para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim!! Meski demikian, cahaya fajar pasti menyingsing setelah gelapnya malam, apalagi bahwa Hizbut Tahrir berjuang di negeri-negeri kaum Muslim untuk mengembalikan Khilafah dengan izin Allah sebagaimana dahulu yang diliputi oleh kemuliaan, kemenangan dan cahaya.

﴿إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ * وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ﴾

“Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi” (TQS Shad [38]: 88) .

24 Shafar al-Khayr 1442 H

11 Oktober 2020 M

http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/71006.html