April 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) telah menuai sukses penayangan perdananya. Meskipun, di tengah-tengah proses pembuatan hingga penayangan tidak sedikit berbagai upaya penghadangan dan penghalangan. Namun, cahaya Islam dengan ajarannya tetap akan mulia sampai kapanpun. Sejak awal pertarungan ide, pemikiran dan konsep Islam sudah unggul daripada yang lain. Khilafah sebagai ajaran Islam mampu membongkar kepalsuan sistem demokrasi, standar ganda, kerusakan dan bahanya bagi umat manusia.

Pelarangan berbagai aktivitas dakwah Islam sesungguhnya merupakan bukti kekalahan telak dari sistem demokrasi, sistem yang mengklaim telah memberi kebebasan kepada siapa saja untuk berpendapat, mengkritik, ternyata hanya bualan dan pemanis bibir saja dan tak mampu menghadapi pemikiran-pemikiran Islam. Sistem demokrasi juga mengklaim penetapan kebebasan sebagai kaedah eksistensi politik mencakup pembatasan kekuasaan negara, dan menghalangi negara bertindak diluar hukum dengan membatasi kebebasan individu.

Namun, sekali lagi, kebebasan individu untuk berdakwah ternyata tidak dilindungi oleh negara. Salah seorang ulama harus menghadapi berbagai persekusi tindakan suul adab, sebagaimana tuduhan terhadap film JKDN yang dianggap tak beradab, kali ini berbalik menikam para pembela demokrasi.

Seharusnya mereka belajar sebagaimana kisah Al-Walid bin al-Mughirah. Al-Walid termasuk orang-orang yang mengejek Rasulullah saw  dan mengganggu dakwah Islam. Berbagai sarana dijadikan senjata pamungkas oleh Al-Walid untuk menyumbat dakwah Islam, namun ternyata berbalik menyingkap tanda kebodohan dan buruk pemikirannya. Tatkala Islam datang berkuranglah wibawanya, beterbanganlah sisi-sisi kesombongan dalam dirinya, maka tumbuhlah kedengkian dalam hatinya terhadap Nabi saw dan Islam.

Ayat-ayat yang disepakati para Mufassir mengenai Al-Walid tertuangan dalam dalam surat Al-Muddattsir, Allah SWT berfirman yang artinya :

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku ]adikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia, Dan Ku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menentang ayat-ayat kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, Lalu dia berkata, ‘(Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).” (QS. Al-Muddatsir: 11-30)

Begitulah bagaimana Allah SWT telah menggambarkan kepada kita metode yang memukau untuk menghancurkan Al-Walid. Dan begitu pula bagaimana Islam juga telah membongkar kerusakan dan kebobrokan demokrasi serta mengembalikan semua tuduhan kepada para penuduh tersebut, dari pelaku korupsi, pemecah belah dan perusak bangsa, suul adab, hingga tindakan radikalisme.

Walhasil, demokrasi telah kalah dan hancur baik dari asas, teori, hingga praktiknya lantas masih kah kita menjadi pemuja dan pembelanya? Buang jauhlah sifat sombong dan kecongkakan kita terhadap kebenaran cahaya Islam, yang InsyaAllah akan memberikan keberkahan dan kemuliaan. Selamat membaca.

Salam Redaksi Beranda Islam