September 26, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Muriani

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) saat ini  kian meningkat, termasuk di daerah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Hingga Mei 2022, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mencatat sebanyak 748 orang mengalami gangguan jiwa berat atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kepala Dinas Kabupaten Ketapang, Rustamu melalui Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa, Dina Zakiah mengatakan, ODGJ itu tersebar di berbagai Kecamatan di Kabupaten Ketapang. Menurut Dina, faktor keluarga menjadi salah satu penyebab utama ODGJ terlambat ditangani. Umumnya, mereka menjalani pengobatan setelah kondisi parah. “Masih banyak yang malu dan tidak dapat menerima ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa,” tutur Dina. (pontianak.tribunnews.com, 20/7/2022)

Dina mengatakan bahwa penanganan penyembuhan ODGJ harus rutin minum obat selama 2 tahun. Jika pengobatan tidak rutin atau bolong- bolong, maka sulit untuk sembuh secara total. Dina menyebutkan peran keluarga juga menjadi vital dalam penegakkan disiplin minum obat atau pemberian suntikan kepada ODGJ. Obat berupa tablet harus diminum setiap hari dan suntikan diberikan sebulan sekali.

Salah satu contoh terjadi pada seorang pemuda yang diduga sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berinisial TW (21) di kelurahan Negeri Baru Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Pemuda tersebut diduga menjadi pelaku penganiayaan hingga menyebabkan seorang remaja putri berinisial SWT (14) mengalami luka, pada Kamis (9/7/2022) sekitar pukul 17.00 wib.

Awal kejadian korban remaja putri tersebut bersama ibunya sedang menjaga toko kelontong miliknya. Kemudian toko mereka didatangi oleh pelaku TW dengan mengendarai sepeda motor matic Honda Scoopy warna merah, tiba-tiba pelaku langsung marah-marah dan melakukan pemukulan ke arah wajah korban menggunakan kunci motor sehingga korban mengalami luka di bagian kepala dan mengalami pendarahan. Polsek Benua Kayong bersama Satuan Reskrim Polres masih melakukan pendalaman terkait motif yang dilakukan pelaku tersebut.

Meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa nyatanya tidak hanya terjadi di Kabupaten Ketapang saja, di kabupaten-kabupaten lainnya baik di Kalbar maupun di daerah lain juga menunjukkan kian meningkatnya dengan kasus yang serupa. Salah satunya terjadi di Panceng Gresik, seorang anak yang diduga mengalami gangguan jiwa tega menganiaya ibu kandungnya sendiri.

Semakin banyaknya jumlah penderita gangguan jiwa ini tentu menimbulkan kekhawatiran karena hal tersebut dapat membahayakan orang lain di sekitarnya juga membahayakan dirinya sendiri. Di Indonesia sendiri tercatat sebagai negara yang memiliki 20 % penduduk berpotensi mengalami gangguan jiwa. (Republika.co.id, 6/10/2021)

Kejiwaan Sakit Buah dari Kapitalistik

Masyarakat yang bermental sakit atau memiliki gangguan jiwa memang harus mendapatkan penanganan yang serius, tidak bisa dianggap sebagai perkara yang remeh. Sejatinya setiap manusia menginginkan dirinya hidup secara normal, namun banyak penyebab yang membuat dirinya seakan hilang arah dan pemikiran yang akhirnya membuat depresi.

Banyaknya tekanan hidup dan himpitan ekonomi yang sangat sulit untuk ia selesaikan membuat sebagian masyarakat stress hingga membenturkan akal dan jiwanya. Belum lagi tidak ada dukungan dari orang sekitar baik keluarga, masyarakat, maupun negara yang seharusnya membantu merangkul  dan memahami kondisi yang dialaminya.

Semua problem kehidupan yang sulit dihadapi seseorang sehingga akhirnya ia depresi dan mengalami gangguan jiwa muncul dibawah naungan sistem yang juga sakit. Masyarakat dibiarkan untuk mengatasi persoalan hidupnya sendiri, sementara kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial serta kebutuhan lainnya sulit ia dapatkan di dalam sistem kapitalis saat ini. Terlebih lagi tidak ada bimbingan dari negara untuk menanamkan iman pada masyarakat, justru akidah sekuler-lah yang mempengaruhi mereka yaitu memisahkan agama dari kehidupan, sehingga masyarakat hilang arah dan tujuan dalam mengatasi masalah kejiwaannya.

Mahalnya biaya pengobatan pasien dengan gangguan kejiwaan menyebabkan masyarakat sulit untuk sembuh secara total. Dalam pengobatan orang yang mengalami gangguan kejiwaan harus mendapatkan suntikan, untuk penderita skizofrenia misalnya bisa menelan biaya hingga jutaan rupiah. Padahal, untuk menstabilkan penderita ODGJ diperlukan lebih dari satu kali suntikan, belum lagi ditambah obat- obatan pendamping yang harus dikonsumsinya. (news.detik.com, 11/10/2019)

Inilah sistem kapitalis, segala sesuatu mengutamakan keuntungan semata dengan menyingkirkan nilai-nilai yang lain. Sistem kapitalistik selalu memanfaatkan segala kondisi untuk merauk keuntungan tanpa memikirkan kesehatan jiwa masyarakat yang terancam. Tidak heran jika masyarakat yang sakit kejiwaannya akan sulit sembuh dan bahkan semakin parah dan orang yang sehatpun bisa saja menjadi ikut sakit, sehingga bertambahlah penderita ODGJ di negara ini.

Islam Solusi Menjaga Kewarasan Umat

Menumbuhkan masyarakat yang bermental sehat, cerdas, dan tangguh tentu saja tidak akan pernah terwujud dalam sistem buatan manusia yang hanya mengandalkan hawa nafsu belaka. Butuh sistem yang terlahir langsung dari Sang Pencipta alam semesta sebagai pemilik kehidupan. Satu- satunya sistem yang mewujudkannya yaitu sistem Islam yang dalam hal ini penerapan hukum Islam oleh negara yaitu dalam naungan Khilafah Islam.

Dalam Islam semua kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat wajib dipenuhi, seperti sandang, pangan, papan semuanya dijamin negara. Selain itu negara juga menjamin kebutuhan pokok lainnya yaitu pendidikan, kesehatan, serta keamanan.

Penerapan aturan dalam Islam akan menciptakan individu- individu yang bertaqwa, dan bertawakkal kepada Allah. Akidah menjadi standar kehidupannya, sehingga setiap masyarat akan memahami bahwa persoalan hidup yang dihadapi merupakan ujian dan Allah tidak akan membebankan ujian melebihi kadar kemampuan manusia.

Dalam negara Islam, pemimpin akan senantiasa bertanggung jawab atas amanah yang diembannya sebagai rasa tunduk kepada perintah Allah, seperti Sabda Nabi SAW, “Pemimpin itu adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya“, (HR Bukhari).

Dengan penerapan Islam, masyarakat akan merasakan kesejahteraan dan ketenangan. Tidak akan adanya beban kehidupan yang dipikul kecuali hal itu juga menjadi tanggung jawab negara sehingga kecil kemungkinan seseorang mengalami gangguan kejiwaan. Kalaupun ditemukan ada masyarakat yang mengalami kondisi kejiwaan, maka negara berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pengobatan untuk penyembuhan kepada pasien dan tentu saja ini dilakukan secara cuma-cuma dan gratis.[]

Wallahu ‘Alam Bi Ash- Shawab