August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Keagungan Nabi saw

Di dalam al-Qur’an, tidak ada seorang nabi yang dipuji begitu tinggi, melebihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam satu ayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut sebagai teladan yang baik (uswah hasanah), yakni model peran, role model (QS. Al-Ahzab: 29). Dalam ayat yang lain, tidak tanggung-tanggung, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut Baginda Rasul sebagai manusia dengan pribadi yang benar-benar agung. (QS. Al-Qalam: 4). Mungkin ada yang bertanya, dari mana keagungan itu dicapai oleh Nabi SAW?

Keterangan dalam al-Qur’an surah al-An`am bisa menjadi kunci jawabannya. Dalam surah ini, diceritakan nabi-nabi terdahulu, mulai dari Nuh, Ibrahim, Ya`qub, Yusuf, dan lain-lain. Pendeknya, ada 18 Nabi dikemukakan di situ. Pada ayat ke-90, setelah cerita nabi-nabi itu, lalu Allah menegaskan: “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An`am: 90). Para Nabi dan Rasul Allah itu adalah mereka yang mendapat bimbingan dari Allah.

Maka Ikutilah petunjuk mereka,” firman-Nya. Jadi, Baginda Rasul mewarisi kemuliaan dan keistimewaan nabi-nabi terdahulu, sehingga membentuk akumulasi keagungan yang benar-benar agung.    

Bahkan Imam al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitabnya, al-Syifa, menyatakan ijmak bahwa orang yang melecehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya haram dan orang yang melakukannya wajib dihukum mati. Hukum dan hukuman ini diambil dari ayat-ayat al-Quran maupun ijmak para shahabat Nabi.

Al-Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan bahwa di samping berdasarkan ijmak, hukuman atas orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdasarkan qiyas. Karena perbuatan menyakiti hati Rasulullah atau mengurangi derajatnya menunjukkan bahwa pelakunya merupakan orang yang sakit hatinya dan sekaligus termasuk bukti keburukan niat dan kekafirannya.

Hak-hak Nabi saw Yang Harus Kita Tunaikan

  1. Wajib Mencintai Beliau Melebihi Kecintaan kepada Segala Sesuatu

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-Taubah: 24)

Al-Qadhi Iyadh menyatakan, ayat ini cukup menjadi anjuran dan bimbingan serta hujjah untuk mewajibkan mencintai beliau dan kelayakan beliau mendapatkan kecintaan tersebut, karena Allah menegur orang yang menjadikan harta, keluarga dan anaknya lebih dicintai dari Allah dan RasulNya dan mengancam mereka dengan firmanNya:

 فتربصوأ حتى يأتى الله بأمره

“Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.”

Kemudian di akhir ayat menamakan mereka sebagai orang fasik dan memberitahukan, bahwa orang tersebut termasuk sesat dan tidak mendapatkan petunjuk Allah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari)

  • Mengimani Beliau Secara Rinci

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Ketahuilah, barang siapa mencintai sesuatu, pasti dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, berarti kecintaannya tidak dianggap benar, hanya pengakuan belaka. Orang yang benar pengakuan cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang menampakkan tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda cinta kepada Rasulullah adalah meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang beliau (contohkan), baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan lapang maupun sempit.” (al-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, 2/24)

Keimanan secara rinci terhadap ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi empat hal:

Pertama: Membenarkan seluruh berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apa pun yang diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk akal atau tidak, bisa disaksikan indra atau tidak, wajib diyakini kebenarannya. Sebab, ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm: 3-4)

Kedua dan Ketiga: Menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengamalkan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangannya.

Wajib bagi umat manusia menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ayat al-Qur’an yang menegaskan kewajiban ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad:33)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda bahwa taat kepada beliau menyebabkan seseorang masuk jannah Allah Subhanahu wata’ala.

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا:يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ :مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, dialah yang enggan.” (HR. al-Bukhari)

Keempat: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala selain dengan syariatnya.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah (apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), jangan mengamalkan amalan-amalan baru (yang tidak ada contohnya dari Rasulullah). Sungguh (petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah cukup bagi kalian.”

  • Mencintai Ahlul Bait dan Para Shahabat Beliau

Mencintai ahli bait dan shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan merupakan cinta yang wajib. Barang siapa membenci ahli bait atau shahabat beliau yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ia telah membenci Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara langsung maupun tidak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, itu tidak akan mengalahkan satu mud (dua telapak tangan ditangkupkan, -pen.) sedekah mereka, bahkan setengahnya.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

  • Bershalawat kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikat- Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56). []

Wallahu’alam Bisshowwab

Sumber : Disarikan dari PPT Ust. Yuana Ryan Tresna Yang Berjudul “Keagungan Nabi dan Hak-haknya Yang Harus Kita Tunaikan”