August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Sri Wahyu Indawati, M.Pd (Inspirator Smart Parents, Founder Smart Islamic Parenting, Penulis Buku dan Opini Islam)

Ulasan ini akan mengupas bagaimana peran Khilafah bagi perempuan di Nusantara. Sebelum keruntuhan Khilafah di tahun 1924 yang dilakukan oleh Mustafa Kemal, Khilafah telah banyak mengutus para ulama untuk mengajarkan Islam di Indonesia. Ajaran Islam pun sampai kepada kaum perempuan hingga tokoh perempuan seperti RA. Kartini, yang saat itu terbelenggu adat istiadat dan sistem patriarki.

Kartini turut serta mempelajari Islam meskipun sedikit namun mendalam dan meluruskan paradigmanya tentang kehidupan. Hal ini dapat kita perhatikan komentar Kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut :

Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“.

Begitu juga surat Kartini yang ditujukan kepada Ny. Van Kol, yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” (21 Juli 1902)

Setelah mengenal kesempurnaan Islam, RA. Kartini juga mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan mengecapnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut suatu peradaban. Bahkan ia sangat membenci Barat dan konsepnya terutama kebebasan dan penjajahan. Karena lahirnya pemikiran feminisme berasal dari sistem kehidupan Barat yang merendahkan kaum perempuan. Kartini pun mengutarakan kritikan melalui suratnya kepada Abendanon, yang isinya berbunyi:

“Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?” (27 Oktober 1902).

Di tahun-tahun terakhir sebelum wafat, RA. Kartini mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam pikirannya, yang selama ini belum ia temukan jawaban sebenarnya. Dengan mendalami ajaran Islam dan mengkaji isi Al-Quran melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT yang artinya:

“…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”(QS. Al Baqarah [2]: 257)

Hal tersebut diistilahkan oleh Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang.

Begitulah Islam mampu mencerahkan pemikiran siapa saja yang ikhlas mempelajarinya. Andaikan Khilafah yang hancur itu hadir kembali, tentu para pejuang hak perempuan tidak perlu berlelah-lelah meneriakkan kesetaraan. Karena sesungguhnya yang diperjuangkan terhadap nasib kaum perempuan sudah mampu diakomodir oleh syariah Islam karena menjadi tugas dari instiusi besar yang disebut Khilafah. Wallahu a’lam[]