May 18, 2024

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Ibu-Ibu Mengaji Kok Dinyinyiri?

Oleh: Zawanah FN (Kalimantan Barat)

Pada saat Kick Off Pancasila dalam Tindakan ‘Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting’ yang digelar BKKBN beberapa waktu lalu, Megawati Soekarnoputri menyindir ibu-ibu pengajian. Pernyataan ketua umum PDI Perjuangan itu terekam dalam sebuah video dan beredar luas di media sosial.

Presiden kelima RI itu memang tidak bermaksud untuk melarang ibu-ibu mengikuti pengajian. Namun, ia menekankan agar ibu lebih memprioritaskan mengurus keluarga dan anak dalam sebuah manajemen tertentu.  (haluankalbar.com.19/02/2023 ).

Pernyataan kontroversi tersebut tidak hanya sekali ini. Sebelumnya, ia pernah mengeluarkan pernyataan yang kerap dianggap blunder dan kontroversial. Pada Januari 2022 lalu misalkan, Megawati menyinggung soal emak-emak dan minyak goreng. Kala itu, Megawati mengaku bingung dengan aksi emak-emak yang saling berebut untuk mendapatkan minyak goreng. Menurutnya, ada cara memasak lain yang bisa dicoba, seperti mengukus atau merebus.

Tingginya angka stunting merupakan akibat buruknya riayah (pengurusan) negara. Sehingga paradoks problem anak stunting dan kurang gizi tak terhindarikan. Terjadi di negeri berlimpah kekayaan sumber pangan dan energi, tetapi miskin pemimpin amanah yang bertanggung jawab menyejahterakan rakyatnya.

Maknanya, stunting tidak ada hubungannya dengan keaktifan ibu-ibu di pengajian. Mengaitkan pengajian sebagai sebab stunting bukan sekadar tidak nyambung, tetapi terkesan lempar tanggung jawab. Seolah-olah, apa pun masalahnya, selalu rakyat yang salah.

Pernyataan Megawati itu tentu sangat menyakiti hati umat Islam. Betapa tidak, mengkaji Islam merupakan sebuah kewajiban yang Allah Swt. dan Rasulullah saw. perintahkan. Mengkaji Islam penting bagi setiap muslim agar selamat di dunia dan akhirat.

Oleh karenanya, merupakan hal aneh ketika ada yang menganggap buruk aktivitas mengkaji Islam dan menudingnya sebagai penyebab stunting. Tak heran jika sikap politisi ini menunjukkan gejala islamofobia yang membutuhkan optimalisasi dakwah kepada umat seluruhnya agar tidak mengikuti salah fikir tersebut.[]