July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Nur Rahmawati, S.H – Praktisi Pendidikan

Baru-baru ini beredar vidio yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Dalam rekaman video diduga telah terjadi tindakan persekusi. Tindakan ini dilakukan oleh anggota Banser kepada seorang ustadz bernama Zainullah. Beliau dicerca berbagai pertanyaan dengan nada tinggi, namun ditanggapi dengan tetap tenang dan sabar.

Kejadian ini mendapatkan tanggapan positif dari Menag Fachrul Razi sebagai bentuk apresiasi. Sebagaimana dikutip dari fixindonesia.com Menag menyatakan, (22/8) “Saya memberi apresiasi atas langkah tabayyun yang dilakukan oleh Banser PC Ansor Bangil yang mengedepankan cara-cara damai dalam menyikapi gesekan yang terjadi di masyarakat terkait masalah keagamaan,” ungkap Fachrul Razi di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2020.

Namun, apresiasi tersebut tak lantas ditanggapi positif bagi yang lain, justru yang ada beberapa pihak sangat menyayangkan kejadian tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah (tagar.id, 22/08/2020).  

“Menag semestinya punya kemampuan membedakan tabayyun dan persekusi. Memaksa seseorang mengakui aktivitas yang tidak terbukti di muka hukum adalah persekusi,” ujar Dedi ketika dihubungi Tagar, Sabtu, 22 Agustus 2020. Beliau pun meminta, pemerintah dalam hal ini Menag Fachrul, bisa menjadi penengah dan mampu membedakan tabayyun dengan persekusi.

Memang tidak berlebihan, jika tanggapan Dedi atas sikap Fachrul tersebut. Jika kita pahami apa yang dimaksud dengan tindakan persekusi yakni memburu seseorang atau golongan tertentu. Apalagi bila kita perhatikan, mencerca pertanyaan dengan nada tinggi tidaklah etis untuk dilakukan terlebih kepada orang yang lebih tua daripada kita. Bahkan, kita bisa memahami bahwa tindakan tersebut juga tidak pantas dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini kepolisian, karena masih bersifat tuduhan dan dugaan.

Kemudian, bagaimana seharusnya sikap seorang menteri? Apa lagi dalam hal ini adalah Menteri Agama, yang semestinya dapat bertindak sebagai penengah malah justru mengapresiasi perbuatan yang salah. Terlebih, hal itu berkaitan dengan urusan keagamaan yang menjadi bidang Kemenag. Menag semestinya punya kemampuan membedakan tabayyun dan persekusi. Memaksa seseorang mengakui aktivitas yang tidak terbukti di muka hukum adalah persekusi.

Terlebih, hal tersebut juga tidak sesuai dengan norma kesopanan yang berlaku. Memang, kebebasan berpendapat menjadikan salah satu sebab merebaknya persekusi. Begitupun dengan kebebasan berperilaku ala demokrasi, membuka ruang terciptanya tindakan yang melanggar agama tapi diberikan kebebasan untuk melakukan dalam sistem demokrasi. Inilah sistem yang lahir dari asas sekularisme yaitu memisahkan antara kehidupan dengan agama. Sehingga menempatkan agama hanya sekedar pengaturan ibadah ritual belaka.

Selain itu, demokrasi juga memberikan payung hukum yang nyata dalam bentuk Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Di dalamnya memuat pengaturan kebebasan, salah satunya kebebasan berpendapat yang berpotensi memberi ruang gerak bebas bagi siapapun untuk melecehkan atau menodai agama. Kemudian kebebasan berperilaku, memberikan potensi untuk melakukan apa saja yang dia mau selama tidak merugikan orang lain sekalipun bertentangan dengan agama. Jadi, standar boleh tidaknya bukan lagi ajaran agama tetapi selera manusia.

Itulah, mengapa sistem saat ini perlu dirubah. Kita telah merasakan meningkatnya kasus persekusi, bahkan terjadinya kesalahan sikap, seperti apresiasi oleh Menag dan tebang pilih dalam kasus-kasus serupa.

Berbeda dengan sistem Islam, standar benar salah terletak pada syariah-Nya bersandarkan pada Al Quran, As Sunnah, Ijma Sahabat dan Qiyas. Keempatnya merupakan pilar hukum dalam Islam. Sehingga manusia tidak disibukkan memutarbalikkan hukum, atau bahkan mengatur kehidupan dengan nafsunya. Aturan hukum Islam tidak lagi memandang siapa yang melakukan kesalahan, tetapi lebih kepada perbuatan apa yang melanggar syariah-Nya.

Tabayyun dalam Islam

Tabayyun atau didefenisikan juga sebagai penelitian terhadap kebenaran berita, dilakukan kepada orang yang membawa kabar atau melakukan suatu tindakan. Jadi tabayyun dimaksudkan untuk cross check atau memvalidasi suatu informasi dan peristiwa.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (TQS. Al-Hujurat : 6).

Jika ada orang fasik, munafik atau orang yang membawa suatu kabar atau melakukan suatu tindakan tertentu maka perlu dilakukan tabayyun kepastian dan kabar tersebut. Hal ini pun harus dilakukan dengan benar, seperti bertanya dengan bahasa yang sopan dan santun. Sebagaimana dikutip dari republika.co.id (6/5/2017), tabayyun yang berhasil adalah apabila mampu mengungkapkan fakta yang bisa dijamin akurasinya, dan analisis yang jernih.

Sayangnya, masih sering kita temui orang atau bahkan sekelompok tertentu melakukan tindakan persekusi bahkan menuduh sesat tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu, atau bahkan salah memaknai arti tabayyun. Perbuatannya kadang disertai dengan hujatan, penghakiman sepihak, dan berprasangka tanpa meneliti kebenarannya. Hal ini adalah sikap apriori atau masa bodoh apabila berprasangka dan mensikapi orang lain hanya berdasar pada sangkaan-sangkaan negatif atau isu-isu yang beredar atau bisikan dari orang lain. Sikap demikian sama saja dengan tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tabayyun Representasi Akhlaq Seorang Muslim Sejati

Seorang Muslim tidak bisa lepas dari agama yang dianutnya, artinya agama Islam akan memiliki citra yang baik bisa tergantung dari pemeluknya yang berupaya mengamalkan Islam baik di mata seluruh kaum muslimin, dan seluruh umat manusia. Begitupun sebaliknya, citra yang buruk bila pemeluknya melakukan perbuatan yang buruk. Islam adalah agama yang suci dan mensucikan, namun akhlak seorang Muslim akan mempengaruhi pandangan manusia terhadap agama yang dianutnya. Dan apabila baik akhlak seorang Muslim berarti ia baik dalam menerapkan dan mengamalkan agamanya.

Masalah tabayyun, hendaknya kita senantiasa waspada apabila mendengar berita yang disebarkan oleh pihak lain sehingga kita memiliki prasangka yang buruk. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita agar senantiasa berbaik sangka dan menjauhi buruk sangka. (TQS. al-Hujurat [49]: 12).

Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ايّاكم والظنّ فانّ الظنّ اكذب الحديث

“Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Al-Bukhori No.5144).

Oleh karenanya, perlu ada kerjasama antara sesama manusia, masyarakat terlebih lagi peran dari negara, dalam menyikapi suatu permasalahan yang datang. Negara merupakan pihak penengah dan sebagai penentu dalam mendamaikan serta menyelesaikan permasalahan umat. Maka sistem yang tepat untuk diterapkan agar hal di atas tidak terulang kembali adalah dengan beralih pada sistem Islam yang sempurna menyelesaikan segala permasalhan khususnya persekusi.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.