April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sri Suarni A.Md (Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Kamis, 20 Agustus 2020 kemarin, bertepatan dengan momen penting umat Islam sedunia yaitu Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah. Meskipun di tengah pandemi yang masih terjadi, namun umat Islam tak surut langkah untuk merayakannya. Pemutaran film dokumenter tentang sejarah Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) menjadi pengalaman spesial dalam rangka memperingati datangnya Tahun Baru Hijriah.

Penayangan tersebut dilakukan secara virtual melalui siaran langsung di berbagai sarana media sosial. Berbagai iklan juga telah di gaungkan jauh hari sebelum penayangan. Antusias masyarakat  ‘membanjiri’ hingga menjadi trending topik di Twitter. Tepat dihari penayangan JKDN terdata hingga 250 ribu orang yang mendaftar untuk menonton. Sejak awal penayangan yang di mulai sekitar pukul 10.00 WIB, rasa penasaran dan bahagia yang menggebu berbaur jadi satu hingga episode demi episode disaksikan semakin mengaduk hati dan pikiran. Rasa kagum, penasaran, sedih dan haru semua meluap tak bisa digambarkan.

Ustadz Rokhmat S. Labib yang menjadi pemateri awal sebelum penayangan film, menyampaikan nasihat dan menjelaskan perihal sejarah penetapan 1 Muharram. Penetapan ini di sandarkan kepada peristiwa hijrahnya Baginda Rasulullah Shalallahualaihi wa Sallam dari Makkah ke Madinah. Sejak itulah momen untuk memisahkan antara yang haq dan yang batil. Keduanya tak akan pernah bisa bersatu, layaknya siang dan malam.

Sejak saat itu pula kaum Muslim dipimpin Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam di bawah institusi pemerintahan Daulah Islam. Rasulullah saw yang memutuskan kapan berjihad (berperang di jalan Allah SWT), dan kapan berdamai. Beliau pula yang mengangkat para pemimpin daerah yang disebut sebagai wali (gubernur). Aktivitas-aktivitas tersebut semakin mempertegas bahwasanya Rasulullah saw bukan hanya sebagai Nabi melainkan juga sebagai kepala negara.

Menjadi renungan bagi kita tentang bagaimana membuktikan cinta kita kepada Rasulullah saw. Siapa saja yang mencintai Rasulullah dengan benar pastilah akan berupaya mengikuti apa-apa yang dicontohkan beliau, termasuk upaya melanjutkan kepemimpinan negara dengan menegakkan Khilafah. Bagaimana malunya kita kepada Baginda Rasulullah saw karena mengaku cinta tapi tidak mau menerapkan syariah secara kaffah. Penerapan syariah secara kaffah hanya akan terwujud dengan Khilafah.

Sedangkan, Ustadz Ismail Yusanto yang turut hadir juga mengingatkan betapa pentingnya sejarah. Sebab jika kebenaran sejarah bisa diungkap kebenarannya maka akan mendapatkan ibroh, yakni pelajaran yang bisa dipetik sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan. Tentu saja ibroh tersebut hanya mampu didapatkan bagi mereka yang berpikir.

Penting bagi kita mengkaji sejarah adalah tidak menjadikannya sumber hukum atau pemikiran. Sejarah merupakan objek pemikiran yang dijadikan sebagai objek pelengkap, pendukung ataupun bukti guna memperkuat ajaran. Sebagaimana jejak Khilafah di Nusantara adalah sebagai bukti dari penerapan atau implementasi pemikiran Islam. Sehingga, meskipun jika tidak ada jejak Khilafah di Nusantara bukan berarti Khilafah tidak penting untuk diterapkan atau diperjuangkan.

Jejak Khilafah benar-benar nyata. Jejaknya terbentang dari Indonesia bagian barat hingga bagian timur. Tokoh Wali Songo yang selama ini kita kenal sebagai tokoh yang menyebarkan Islam di tanah jawa ternyata adalah utusan Khilafah yang bertugas mengeluarkan masyarakat Nusantara dari kejahiliyahan menuju kemuliaan. Begitu pula kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Kerajaan Aceh Darusaalam, Kerajaan Maluku, dan lainnya, kesemuanya memiliki hubungan erat secara politik kepada pemerintahan Khilafah saat itu.

Buya Hamka sendiri menolak pandangan teori Gujarat yang menyatakan Islam masuk di abad ke-13. Beliau meyakini Islam masuk ke Nusantara  pada abad ke-7. Khilafah telah masuk ke Nusantara di masa Khulafaurrasyidin. Hubungan baik, persahabatan, tolong menolong, dan ukhuwah yang berdasar kepada akidah Islam antara Nusantara dengan Khilafah telah lama terjalin.

Film JKDN ini dibuat berdasarkan riset penelitian. Data pustaka dikonfirmasi dengan kebenaran lapangan termasuk keterangan tokoh telah dikemas dengan apik sehingga membuat penonton merasakan semangat dan ruh perjuangan Khilafah sampai pada titik yang mengesankan. Film ini sudah seharusnya disebar luaskan, dikembangkan serta didukung oleh seluruh kaum Muslim. Khususnya bagi penguasa atau pemimpin muslim hari ini, mengingat bahwa pemimpinlah yang bertanggung jawab atas arah pemikiran rakyatnya.

Khilafah adalah perintah Allah SWT yang wajib diperkenalkan, diperjuangkan dengan mengikuti thoriqoh dakwah Rasulullah saw. Sedangkan berkaitan dengan uslub atau cara diperbolehkan selama sesuai dengan syariah. Salah satu uslub dakwah adalah melalui penayangan Film JKDN yang menjadi ajang untuk mengedukasi umat tentang sejarah Islam yang telah kabur bahkan terkubur.

Bahwa dahulu Islam pernah berjaya, kaum Muslim pernah menjadi negara adidaya dan menjadi sebaik-baiknya umat. Hingga suatu saat Khilafah diruntuhkan dan akan kembali berjaya sebagaimana sabda Rasulullah saw yang lisannya tidak pernah berdusta,

…, Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti Manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Semoga film ini bisa membangkitkan ghiroh (semangat) dan membuka mata dalam menjawab perdebatan soal ketidaktahuan umat tentang Khilafah di era saat ini. Semoga juga Allah SWT meridhoi, dan mencatat sebagai amal shalih bagi siapa saja yang mensukseskan film tersebut.

Wallahua’lam