October 18, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh Pay Jarot Sujarwo (Sastrawan KalBar)

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Begitu bunyi lirik lagu untuk soundtrack tayangan televisi Keluarga Cemara. Tentu saja bunyi liriknya begitu sebab film yang ditayangkan adalah tentang keluarga.

Berbeda ceritanya misalnya drama berseri tersebut bercerita tentang pengerukan emas oleh perusahaan Amerika di tanah Papua yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan tidak belum diketahui kapan akan berakhir. Bisa jadi soundtracknya akan berbunyi, harta yang paling berharga adalah emas. Istana yang paling indah adalah yang berlapis Indah. Puisi yang paling bermakna adalah puisi Emas. Mutiara tiada tara adalah gunung emas.

Jadi soundtrack lagu tergantung pesanan lakon apa yang dimainkan.

Ngomong² soal keluarga, kami tidak tahu apakah ini bisa menjadi harta yang berharga atau tidak. Tapi yang pasti patokan kami adalah amal sholih. Ketundukan akan syariat secara menyeluruh. Ketika itu terjadi di keluarga kami maka bisa jadi keluarga ini bisa menjadi sesuatu yang berharga.

Tiap hari kami sekeluarga berikhtiar untuk terus melakukan amal sholih dengan standart syariat. Meski kami sadar ini bukanlah kontribusi yang berarti bagi ketaatan komunitas masyarakat bahkan manusia dalam suatu negeri.

Sering kita dengar agar sebuah negeri menjadi baik, maka harus dimulai dari diri sendiri. Jika pribadi baik, lanjut keluarga akan baik, lalu bisa ditularkan ke tetangga, komunitas masyarakat, sampailah penduduk suatu negeri akan menjadi baik.

Saya dan istri sering bercakap² tentang ini. Betul, untuk memulainya, tentu saja diri pribadi harus baik dulu. Tapi ini bukan jadi pedoman untuk mengubah kaum suatu negeri menjadi baik.

Berapa banyak keluarga kita saksikan. Di rumah, anaknya dididik dengan standard syariat, tetapi begitu keluar rumah syariat tak berlaku. Di sekolah SD aurat lelaki dan perempuan dipertontonkan lewat seragam celana pendek dan rok yang hanya menutup lutut. Padahal mereka muslim. Aturan Tuhan yang memerintahkan agar manusia menutup aurat, tidak berlaku di sekolah yang diselenggarakan negara.

Tak cukup sampai di situ,  dalam mata pelajaran, Allah tak dilibatkan. Ini pernah disinggung dalam salah satu ceramah ust Budi Ashari dulu. Katanya di sekolah² para siswa diajarkan tentang proses terjadinya hujan kurang lebih seperti ini: Proses terjadinya hujan dimulai dengan penguapan air di laut, kondensasi menjadi awan, dan turun menjadi air hujan.

Dimana Allah di pelajaran sains sekolah-sekolah negeri? Tidak ada. Tak ada keterlibatan Allah dalam pelajaran sains di sekolah² negeri. Padahal quran jelas mengatakan bahwa hujan itu terjadi karena Allah. Begini kata quran: “Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah mengarak awan? Kemudian mengumpulkan (bagian-bagiannya), kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya (awan). Allah juga menurunkan butiran-butiran es bermula dari langit (yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakannya kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkannya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan,”. (An Nur 43)

Allah yang mengarak awan. Allah yang mengumpulkan lapisan² awan. Allah menurunkan butiran² es. Allah punya kehendak atas segala.

Tak hanya sains, materi ajar sosial juga begitu. Teori evolusi dipaksakan diajarkan di sekolah². Kita semua tahu bahwa asal manusia dari Allah yang menciptakan Adam. Tapi karena teori ini harus hadir di sekolah², maka akhirnya diajarkan. Tak hanya meniadakan Allah, tetapi juga menghadirkan narasi bohong tentang manusia berasal dari evolusi kera.

Tak ada Allah di pelajaran² sekolah.

Allah hanya hadir sepekan 2 jam lewat pelajaran Agama Islam, itu pun hanya mengulas serba sedikit dari ibadah mahdhah. Di pelajaran lain Allah tak ada. Pelajaran olah raga, siswa senam campur baur lelaki dan perempuan. Perintah nabi tentang tundukan pandangan tak berlaku di sini.

Ya, Allah tak terlibat. Lalu bagaimana ketaatan terhadap keluarga itu bisa bertahan? Siapa yang bisa menjamin anak yang sudah taat di rumah kemudian juga taat saat berada di sekolah? Belum lagi soal hubungan sosial. Berapa sering sudah kita dengar berita tentang prostitusi anak, narkoba anak, perkelahian anak, caci maki anak dan seterusnya dan seterusnya. Tak berhenti. Padahal katanya di rumah tak lepas dari pengawasan orang tua.

Dalam kasus ini, saya dan istri sepakat bahwa keluarga belum bisa dijadikan harta yang berharga jika sistem sosial juga sistem pendidikan melepaskan diri dari standar syariat.

Ini sistemik. Pemecahannya tak bisa parsial. Di rumah, saya dan istri tak henti membicarakan perkara ini. Sebab ini bukan menyelamatkan aqidah anak sendiri, tetapi juga ratusan juta manusia yang mengaku beraqidah Islam dan tak berperilaku Islam. Menuliskan kata Islam di kartu penduduknya tetapi tak memiliki pola pikir dan pola sikap Islam.

Percakapan suami istri di rumah lagi² tak berarti banyak, jika tidak dikeluarkan ke publik. Tak akan muncul kesadaran komunal jika kesadaran individual hanya diutarakan di dalam rumah saja. Kalau ikut perintah Rasul, inilah yang disebut dakwah.

Di televisi, sepertinya keluarga cemara menjadi keluarga ideal yang senantiasa ingin dicontoh banyak orang. Tapi hidup ini tak selebar kotak televisi. Ada realitas yang bisa kita indra tentang ditinggalkannya Tuhan dalam kehidupan. Tak dilibatkannya Tuhan dalam sistem pemerintahan yang tentu saja terus merembet ke sistem ekonomi, sosial, pendidikan, politik, and so on.

Dan kita masih saja berleha-leha?