September 27, 2022

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Nanis Nursyifa

Fenomena bunuh diri dikalangan pelajar cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan, tingkat bunuh diri di kalangan anak muda yang masih berstatus pelajar kisaran usia 15-29 tahun menjadi penyebab kematian nomor dua terbesar, setelah kecelakaan. 

Dokter Jiwa Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Tuti Kurnianingsih mengatakan, masa remaja ditandai dengan perubahan pada berbagai aspek dalam waktu bersamaan.  Mulai dari membuat keputusan penting dalam pendidikan maupun pertemanan. 

Seperti yang terjadi akhir-akhir ini salah satunya di kutip dari kompas.com (15/7) karena 7 tahun tak lulus kuliah, salah satu mahasiswa diduga nekat gantung diri. Sebelum ditemukan tewas gantung diri, mahasiswa berinisial BH sempat berkeluh kesah soal kuliahnya selama 7 tahun yang tak kunjung selesai.  Keterangan itu didapat setelah polisi mendalami keterangan dari kakak angkat korban, RD. 

“Dia diajak ngomong baru nyambung. Katanya kuliah 7 tahun enggak lulus-lulus. Ngajukan skripsi ditolak terus sama dosennya. Sehingga dia diduga stres akhirnya bunuh diri,” tutur Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi. Fahrudi menambahkan, berdasar keterangan RD, sejak itu BH tampak lebih sering murung dan menyendiri. (Kompas.com, 15/07/22)

Kasus seperti ini sudah sering kita temukan, dan tentunya menjadi permasalahan besar didalam dunia pendidikan. Namun bukan tanpa sebab, banyaknya kasus bunuh diri dikalangan pelajar adalah bukti nyata sistem sekuler yang jelas gagal membangun kepribadian kuat pada pelajar. Disaat yang sama, sistem sekuler juga membangun masyarakat yang penuh dengan tekanan hidup karena sulit mendapatkan kebutuhan termasuk didalamnya masalah pendidikan. 

Melihat semakin merebaknya kasus tersebut tentunya harus ada penanganan khusus dari negara. Diantaranya adalah mengukuhkan profil kepribadian kuat berdasarkan Islam, hingga mereka akan menjadi generasi yang mulia dan terjaga dari melakukan kesalahan dan kemaksiatan. Dan hal ini akan dapat terwujud apabila pendidikan berasaskan Islam. 

Pertama, akidah. Posisi akidah Islam ibarat akar dari sebuah pohon atau pondasi dari sebuah bangunan. Kuat lemahnya akar (pondasi) akan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya pohon dan bangunan di atasnya. 

Kedua, terikat syariat. Kesadaran generasi untuk terikat pada syariat sebagai konsekuensi iman mereka.  Mereka mempelajari halal dan haram serta mengamalkan di dalam perbuatan sehari-hari.

Ketiga, kelengkapan tsaqofah Islam yang mereka miliki, dan kedekatan mereka kepada Allah yang akan membuat mereka dengan mudah untuk menundukkan nafsu mereka di bawah kendali pemahaman Islam yang mereka miliki. 

Keempat, lingkungan (masyarakat). Lingkungan (masyarakat) yang kondusif untuk tumbuh kembang kepribadian saleh dan mushlih anak-anak.

Kelima, peran negara. Keberadaan negara yang berkarakter ra’in (pemelihara) dan junnah (perisai pelindung) bagi rakyatnya, dengan penerapan kebijakan dan peraturan yang benar sesuai tuntunan-Nya. 

Perbedaan sistem kapitalisme dan Islam bagaikan langit dan bumi. Sistem Islam justru harusnya menjadi solusi terbaik termasuk di dalam masalah pendidikan saat ini, dimana sistem Islam ini mampu menjadikan tujuan pembangunan kepribadian Islam sebagai inti Pendidikan. Tak hanya itu, sistem Islam juga menjamin akses pendidikan pada semua warga negara dan menghasilkan masyarakat yang punya kepribadian kuat, kokoh dan sejahtera.[]

Wallahua’lam