September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ustadz As’ad Mansur

Presiden Turki, Erdogan menghubungi Presiden Entitas Yahudi, Isaac Herzog melalui telepon pada hari Senin (12/7) dan mengucapkan selamat atas terpilihnya sebagai presiden entitas mereka. Erdogan juga mengirim pesan kekerabatan dan kerja sama dengan presiden entitas musuh, dan menyatakan bahwa, “Pentingnya hubungan antara Turki dan Israel untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di Timur Tengah”. Hal ini menyimpulkan adanya “Potensi kerja sama bilateral di segala aspek, terkhusus pada aspek energi, pariwisata, dan teknologi”. Tak sampai di situ, Erdogan juga mengunggah kabar seputar percakapannya dengan presiden Kesatuan Yahudi—perampas Palestina—melalui akun Twitter-nya.

Seolah-olah Erdogan ingin menunjukkan kesetiaannya kepada Entitas Yahudi dan mereka yang berlindung di baliknya, yaitu Amerika dan Barat demi mencapai penerimaan dari mereka, ia berkata, “Saya telah berbicara dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, via telepon hari ini. Kami mendiskusikan perihal hubungan bilateral dan regional, juga kami pastikan akan adanya kemungkinan potensi kerja sama yang tinggi antara Israel dan Turki dalam beberapa bidang. Kami akan mengesampingkan perbedaan pandangan demi kepentingan besar yaitu mempertahankan kelanjutan dialog dan kontak antar kedua negara. Kami yakin, kedepannya, dengan pengambilan langkah positif dalam konflik Palestina-Israel akan membantu mengarahkan kami pada hubungan yang baik.”
Erdogan menyerukan penerapan solusi bagi dua negara (Two-state solution) kepada AS, yaitu pengakuan atas perampasan Yahudi terhadap 80% wilayah di Palestina.

Demikianlah, Erdogan menegaskan pengakuannya atas perampasan yang dilakukan Entitas Yahudi kepada Palestina. Ia juga memberikan dukungannya untuk entitas ini, serta mempererat hubungan antar keduanya. Dengan melupakan hukum Islam, bahwa Palestina adalah negara Islam di mana orang Yahudi tidak memiliki hak di dalamnya. Mereka merampas Palestina dengan konspirasi yang dirancang negara-negara penjajah, yang dipimpin oleh Inggris dan Amerika yang keduanya mengangkat penguasa-penguasa di wilayah, di antaranya adalah penguasa Turki yang turut menjaga Entitas Yahudi ini.

Merupakan suatu kewajiban untuk membebaskan Palestina dari kotoran mereka, sebagaimana Khalifah Abdul Hamid II—semoga Allah merahmatinya—, tidak memberikan satu inci pun tanah Palestina kepada orang-orang Yahudi, di saat mereka menawarkan jutaan lira emas dan pelunasan semua utang Daulah Utsmani.
Kami meminta kepada orang-orang yang bersikeras dan berharap kebaikan pada diri Erdogan, agar menggunakan pemikirannya, tidak menghiasi diri mereka dengan sesuatu yang tidak benar dan menyematkan karakter pahlawan untuk para pengkhianat sehingga mereka menipu diri sendiri, menyentuh perasaan dan emosi dengan perkara-perkara dusta, memberikan keyakinan bahwa pahlawan ini akan membebaskan Palestina untuk mereka dan menyelamatkan umat secara keseluruhan.

Kami bertanya kepada mereka, apakah dengan perkataan ini ada keraguan tentang pengkhianatan dan penipuan Erdogan terhadap mereka yang naif dan sederhana? Apakah orang yang menegaskan urgensi hubungan diplomatik—baik perkataan maupun perbuatan—dengan Entitas Yahudi—perebut tanah (Palestina) yang diberkahi—yang telah digambarkan sebelumnya lewat pernyataan “Hubungan Turki dan Israel adalah hubungan hidup dan mati” yang berarti hubungan utama. Bukankah dia pengkhianat? Seolah-olah hubungan antara Turki dan Israel berkaitan erat dengan ada tidaknya Turki.
Hal ini menunjukkan keterikatan keberadaan Turki dengan Entitas Yahudi. Apakah karena mereka dan selainnya adalah entitas buatan yang didirikan oleh penjajah Inggris di atas puing-puing kekhilafahan yang dia hancurkan melalui agennya, Mustafa Kemal? Dia menjatuhkan syariah yang mulia, menghapus aturan Islam, memisahkan agama dari negara dan politik dengan mendeklarasikan sekularisme dan membuat kedaulatan bagi rakyat ketika dia mendeklarasikan republik dan menerapkan demokrasi, dia juga melepaskan Palestina juga negara-negara Islam lainnya yang dahulu tunduk terhadap Daulah Usmaniyah di bawah Perjanjian Lausanne pada tahun 1923. Ia menyerahkan negara-negara tersebut kepada Inggris dan penjajah lainnya. Rezim Turki merupakan salah satu negara pertama yang mengakui Entitas Yahudi.

Sejak 20 tahun Erdogan memerintah Turki, dia belum membatalkan pengakuan ini. Sebaliknya, dia malah melanjutkan hubungan dengan Entitas Yahudi dan mengintimidasi mereka. Bahkan Erdogan bertindak sebagaimana ayah baptisnya, karena dia menjadi penengah antara Yahudi dan Suriah pada tahun 2008 untuk melakukan perjanjian damai di antara mereka, namun dia tidak dapat melanjutkan pembicaraan dengan rezim Suriah setelah agresi Yahudi di Gaza pada tahun 2009.

Entitas Yahudi telah membunuh sepuluh orang Turki di atas Kapal Mavi di Marmara pada tahun 2010 disaat mereka hendak memberi bantuan ke Gaza. Erdogan pun tidak membalas dendamnya kepada Yahudi, ia malah menolak untuk mempertimbangkan para syuhada itu. Pada serangan terakhir Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsa dan Gaza, Erdogan tidak mampu melakukan apapun kecuali mengeluarkan pernyataan kecaman, sebagaimana para penguasa muslim lainnya. Mereka itulah yang termasuk bekerja sama dengan Yahudi dan mengakui entitas mereka.

Maka kami katakan kepada orang-orang yang bersikeras, apakah pernyataan dan tindakan Erdogan berbeda dengan Khalifah bin Zayed al-Nahyan, putra mahkota Zayed, pemimpin Uni Emirat Arab yang dibenci semua orang? Apakah berbeda pula, pernyataan dan tindakannya dengan Presiden al-Sisi sang pembantai? Erdogan mulai memperbaiki hubungan dengan al-Sisi, ia menjilat ludahnya setelah mengutuk al-Sisi dalam kudeta 2013 saat pembantaian di wilayah Rabaa. Dia mempererat hubungan dengan al-Sisi ketika tangannya masih berlumuran darah kaum muslimin dengan mengeluarkan kebijakan hukuman mati terhadap mereka.

Ataukah perkataan dan tindakan Erdogan berbeda dengan raja Yordania, Bahrain, dan Maroko? Yang masih menjadi pengkhianat, dan tidak mengizinkan siapapun untuk mengkritik mereka. Atau dengan pemerintah Sudan yang menjual negaranya dengan beberapa dirham atau menukarnya dengan kekuasaan yang bengkok. Bukankah dalam pernyataannya, Erdogan menegaskan bahwa dia akan menjamin keamanan dan keberadaan Entitas Yahudi seperti orang-orang dari kalangan penguasa yang terbuang? Lantas, mengapa kaum muslimin masih mencintai dan berusaha mendekati Erdogan yang meninggalkan dan membenci mereka? Sebenarnya, bagaimana cara kalian menilai?

Erdogan adalah presiden dengan masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah Turki. Periode pemerintahannya melebihi pendiri Republik Turki sendiri yaitu Mustafa Kemal, yang telah melakukan perubahan-perubahan fundamental juga kriminal terhadap hak-hak Islam dan pemeluknya. Padahal, jika Erdogan ingin melakukan perubahan-perubahan fundamental yang benar, maka hal itu memungkinkan untuk dilakukan, terlebih setelah kegagalan upaya kudeta padanya, yang terjadi pada Jumat (15/07/2016) lalu. Sesungguhnya rakyatlah yang menggagalkan upaya kudeta tersebut, mereka keluar ke jalanan untuk menghadapi pengudeta dengan takbir, tahlil, doa, dan melakukan sholat di masjid hingga subuh.
Ketika dia melihat perasaan Islam telah menguat, perasaan takut mulai menghampirinya. Maka dia ingin meniadakan kebenaran, dengan menyerukan pawai demokrasi dan menyeru untuk berpartisipasi dengan Partai Rakyat Kemalis dalam pawai demokrasi. Ia menganggap langkah ini sebagai upaya untuk memenangkan demokrasi, dan bagi mereka yang terbunuh dianggap sebagai martir demokrasi. Apakah di dalam kekafiran terdapat syuhada? Istilah Ini adalah istilah Islam yang hanya digunakan bagi mereka yang terbunuh dalam jalan meninggikan firman Tuhan saja.
Kami menyeru kepada orang-orang yang tertipu oleh Erdogan agar tersadar dari kelalaian mereka dan segera menggunakan akal mereka. Allah SWT telah memerintahkan dan mewajibkan manusia untuk berpikir, menjadikan perasaan untuk senantiasa terikat dengan berbagai pemikiran. Allah pun juga menyeru orang-orang yang berakal dan orang-orang cerdas dalam ratusan ayat, dan telah menetapkan hukum dari setiap perbuatan juga segala sesuatu adalah perintah dan larangannya. Dia yang menghancurkan segala macam berhala, baik itu berupa batu atau sosok manusia yang dianggap sebagai sesembahan selain Allah, dan menganggap bahwa ucapannya merupan ucapan Tuhan, serta perbuatannya merupakan perbuatan Tuhan. Hal ini tidak ada perdebatan di dalamnya, karena berasal dari pemimpin yang menginspirasi mereka, yang cintanya telah membutakan hati, mirip dengan Abdul Nasser—sebelumnya—dan Erdogan baru-baru ini.

(وَهَـٰذَا صِرَ ٰ⁠طُ رَبِّكَ مُسۡتَقِیمࣰاۗ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَذَّكَّرُونَ)

Dan inilah jalan Tuhanmu yang benar, “Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami untuk kaum yang menerima peringatan.”

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 348, terbit pada Rabu, 11 Dzulhijjah 1442 H/21 Juli 2021 M

Sumber :
https://mediamuslimtimurtengah.wordpress.com/2021/08/01/ekualitas-pengkhianatan-erdogan-dan-para-penguasa-muslim-atas-permasalahan-palestina/#more-463

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6217-erdogan-and-muslim-rulers-in-the-betrayal-of-the-palestinian-cause-both