April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Fitri Khoirunisa,A.Md ( Aktivis Back To Muslim Identity )

Ulama adalah sosok yang semestinya menjadi pewaris para nabi dalam mendakwahkan Islam kepada seluruh umat manusia, tanpa harus takut tekanan yang di dapatkan, seperti beraninya para ulama terdahulu dan para sahabat yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk Islam. Namun kini rezim berusaha mengebiri peran MUI (menyingkirkan yg kritis, dianggap main politik). Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa sistem sekuler makin kuat dan dominan mewarnai pengambilan kebijakan yang harus di terapkan saat ini.

Dalam pidato yang disampaikan oleh wakil presiden Ma’ruf Amin bahwa sampai saat ini di Indonesia belum ada satu orang pun yang mampu tampil sebagai imam umat Islam. Ma’ruf Amin juga mengatakan sejauh ini yang ada adalah imam atau pemimpin dari organisasi masyarakat (ormas) seperti FPI,NU, maupun Muhammadiah. Belum ada orang yang mampu tampil sebagai Imamah saksiyah (imam kepribadian) menjadi imam umat Islam. Yang ada hanya imamah saja. (TribunNews.com, 27/11/2020)

Pernyataan Ma’ruf Amin tersebut seakan tidak ada ulama yang pernah menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, dan melupakan apa yang terjadi pada ulama ketika menyampaikan kezaliman yang di lakukan oleh penguasa dan menyerukan Islam kepada penguasa tersebut. Padahal Wapres Ma’ruf Amin sendiri adalah bagian dari ulama yang saat ini menjadi penguasa dan dapat menyampaikan dakwah apabila terdapat kebijakan yang bertentangan dengan Islam.

Dari Abu Dzar berkata, “Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah , lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.” Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu?” Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan.” [Musnad Ahmad, 35/222]

Anas ra. juga meriwayatkan, “Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” [HR al Hakim]

Hadis di atas menggambarkan kemuliaan ulama terletak pada kehati-hatian mereka terhadap harta, kekuasaan, dan ilmu yang mereka sampaikan. Jika salah menyampaikan berakibat fatal. Ilmunya bisa menyesatkan manusia.

Maka dari itu, ulama semestinya tidak boleh terjebak dengan narasi yang membingungkan umat. Ulama harus mewaspadai upaya mengaburkan dan memisahkan Islam dari ajaran yang sesuai risalah Nabi Saw. Ulama juga tidak boleh terjebak dalam politik pragmatis demokrasi. Terkungkung dalam arus kepentingan penguasa. Terbawa alur demokrasi yang penuh tipu daya.

Ulama tak boleh gentar, justru harus ada kesadaran bahwa Majelis Ulama wajib mencontohkan sikap menentang kezaliman dan muhasabah lil hukkam (politik dalam Islam). Ulama juga wajib mewaspadai arus moderasi yg memanfaatkan posisi mereka untuk  menyesatkan umat.

Kita harus ketahui bahwa ulama itu mata hatinya umat. Ucapannya berhikmah. Lisannya adalah Al-Qur’an dan Sunah. Sikapnya mewarisi sifat Nabi. Seruannya adalah tegaknya syariat Islam di muka bumi. Itulah ulama akhirat. Tidak takut terhadap celaan. Tak gentar menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim. Zaman memang berbeda tapi yang di perjuangkan oleh Islam tetap sama yaitu menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Ulama itu layaknya Imam Hasan al Bashri yang tegas dan berani menentang kezaliman penguasa Irak kala itu, Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Ulama itu seperti Imam Abu Hanifah ra. yang menolak tawaran jabatan dan harta dari Abu Ja’far Al Manshur. Keteguhannya menjaga ilmu dan kepercayaan umat membuatnya rela dihukum cambuk hingga meregang nyawa karenanya.

Rasulullah ﷺ saw. bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR al-Imam at-Tirmidzi, Ahmad, ad Darimi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah]

Pewaris Nabi adalah mereka yang menyeru tegaknya hukum Allah sebagaimana seruan para Nabi dan Rasul. Merekalah para ulama yang mewarisi ilmu dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah.

Ulama harus berani untuk menyerukan tinggalkan demokrasi kapitalisme, tegakkan Islam kaffah yaitu menerapkan dua warisan Nabi yang tercantum dalam sabdanya, “Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” [HR Malik, Al-Muwaththa’, No. 1594]

Itulah fokus kiprah ulama. Sedangkan untuk menghentikan kerusakan akibat sistem rusak dan menerapkan syariah Islam atau Islam kaffah tak bisa diserahkan pada umat Islam atau ormas saja, akan tetapi hanya bisa dijalankan sempurna dengan kekuatan politik dari negara yang berdasarkan Islam yaitu Khilafah islam dengan pemimpinnya yaitu seorang Kholifah.[]

Wallahu’alam bisshowwab