July 31, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Ummu Thoriq (Pendidik Generasi)

Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan bahwa pemerintah akan mempromosikan pariwisata komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Luhut beralasan komodo memiliki nilai komersil yang tinggi karena hanya ada di Indonesia (CNNIndonesia, 27/11/2020). Pembangunan “Jurassic Park” di Pulau Rinca itu adalah bagian dari pembangunan infrastruktur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi NTT. Luhutpun berargumen bahwa proyek ini sejatinya untuk merawat habitat Komodo.

Apakah mega proyek ini benar akan menjaga habitat komodo? Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, menyatakan bahwa rencana komersialitas pulau ini sudah memenuhi persyaratan. Namun, hal ini dibantah oleh Umbu Wulang, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT. “Izin lingkungan yang dikeluarkan KLHK tidak melibatkan partisipasi publik dan stakeholder pemerhati lingkungan di NTT yang sejak tahun lalu sudah menolak praktik pembangunan pariwisata skala besar di habitat asli komodo,” tutur Umbu (liputan6.com, 31/102020).

Komodo sebagai spesies endemik terbiasa hidup di rumput terbuka dan hutan belukar. Pembangunan pariwisata premium yang akan dilengkapi dengan pusat penelitian dan penginapan eksekutif ini justru akan mengganggu habitat asli Komodo dan dapat mengancam keberadaannya.

Sangat jelas bahwa proyek ini bertujuan untuk komersialisasi habitat hewan langka yang memang hanya ada di Indonesia. Sebagaimana Luhut sudah menegaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Jakarta, Jumat, 27 November 2020 lalu. Ia menyatakan “Komodo ini satu-satunya di dunia jadi kita harus jual,”. Ini artinya investor -yang artinya adalah para pemilik modal atau kapital- diundang untuk berpartisipasi, menanamkan modal dan mengantongi keuntungan besar.

Di sisi lain, Angelo Wake Kako, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Nusa Tenggara Timur  menyatakan “sebagian besar konsep pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo belum menyentuh pariwisata berbasis komunitas untuk mendongkrak perekonomian masyarakat lokal NTT.” (cirebon.pikiran-rakyat.com, 31/10/2020).

Miris, kedatangan para investor di NTT akan semakin memperpuruk keadaan masyarakat sekitar yang berdampingan dengan pariwisata kelas dunia ini. Walaupun hidup berdampingan, masyarakat lokal tidak diberi wadah untuk mencicipi hasil penjualan wisata dunia ini.

Begitulah sejatinya penerapan dan dampak dari ekonomi kapitalisme. Yakni bertujuan untuk meraup fulus semata. Keberlangsungan hewan langka, kondisi masyarakat lokal dan kritikan dari berbagai pihak tak menggubris nafsu para kapital untuk menghentikan proyek ini. Lalu, apakah isu-isu seperti ini ada aturannya di dalam Islam? Tentu saja ada.

Daulah Islam (red: negara islam) )tidak akan mengeksploitasi daerah-daerah wisata untuk kepentingan bisnis. Kontradiktif sekali dengan sistem kapitalisme saat ini yang mengekploitasi demi keuntungan. Islam menggunakan pariwisata untuk meninggikan kalimat Allah, yaitu sebagai sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Objek wisata dimanfaatkan untuk memahamkan para wisatawan tentang Islam. Sedangkan objek bersejarah, selain membuat takjub para wisatawan tentang Islam, juga akan menguatkan keyakinan umat Islam sendiri terhadap Islam dan peradabannya.

Hal kontras ini bisa terjadi karena sumber perekonomian pada sistem kapitalisme dan Islam sejatinya berbeda. Rezim kapitalis berpangku tangan pada hutang dan pajak yang kian hari semakin mendzolimi umat. Sedangkan Islam memiliki pendapatan tetap negara yang menjadi hak kaum Muslim dan masuk ke dalam Baitul Mal, yaitu  fai’ (anfal, ghanimah, khumus), jizyah, kharaj, ‘usyur, harta milik umum yang dilindungi negara, harta haram pejabat dan pegawai negara, khumus rikaz dan tambang, harta orang yang tidak mempunyai ahli waris dan harta orang murtad. Inilah beberapa pendapatan tetap negara yang akan dikelola untuk kemaslahatan umat Islam dan rakyat secara umum.

Islam adalah agama rahmatan lil alamiin. Yakni akan memberikan rahmat bagi seluruh dunia termasuk alam dan lingkungannya itu sendiri. Segala peraturannya, yang bersumber dari Al-Khaliq, menjamin adanya harmonisasi alam. Berbeda dengan sistem kapitalisme, yang bersumber pada akal manusia. Nyawa seekor kucing pun sangat diperhatikan di dalam Islam.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, tak ada jalan lain selain kembali kepada Islam secara kaffah untuk memperoleh keberkahan ini dan menyelamatkan kita dari kehancuran. Hnaya Islam saja satu-satunya solusi untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang berasaskan kepada sekulerisme (red : pemisahan agama dari kehidupan). Semoga Allah SWT memberikan pertolongannya kepada kita semua. []

Wallahu ‘alam Bishawab.