September 17, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Adnan Khan
Sabtu, 2 Shafar 1442 H-19 September 2020 M
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

Berita:

Pada bulan Juli 2020 telah bocor berita diikatnya kesepakatan antara China dan Iran senilai 400 miliar dolar. Perkara tersebut telah menyebabkan banyak kehebohan di media global. China mengamankan sumber energi vital China dan menyediakan jalur kehidupan bagi rezim yang terkepung di Teheran. Hal itu dianggap sebagai tantangan bagi hegemoni AS di wilayah tersebut. Dan meski tidak dipublikasikan banyak detail transaksi itu, namun nampaknya akan diterapkan di lapangan.

Penyebaran bocoran itu dipublikasikan dalam dokumen yang diperoleh New York Times. Dan menurut bocoran tersebut, China akan berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran serta membangun rel kereta api. Sebagai imbalannya, Iran akan memberikan energi ke China dengan diskon khusus hingga 32%. Kesepakatan itu juga mencakup kerja sama militer, meskipun sangat sedikit rincian yang terungkap tentang apa saja yang akan dimasukkan dalam kerja sama ini.

Komentar:

China mengonsumsi 13 juta barel minyak per hari. Tetapi hanya 3,8 juta barel di antaranya berasal dari sumber dalam negeri. Oleh karena itu, China menyalip Amerika sebagai pengimpor minyak global terbesar pada tahun 2017. Ada 45 negara yang bekerja memenuhi kebutuhan minyak China. Sebesar 55% dari jumlah itu berasal dari sembilan negara di Timur Tengah, dengan Arab Saudi memberikan bagian terbesar. Alasan utama kehadiran Cina di Timur Tengah adalah energi. Yang mana energi Iran yang harganya murah akan memberikan sumber energi tambahan bagi China, yang selalu berupaya untuk mendiversifikasi sumber energinya. Iran memberi China opsi hemat biaya untuk memenuhi kebutuhan energinya. Sebab pembelian minyak dengan diskon besar ini akan menguntungkan China. Sebaliknya itu hanya akan sedikit mempengaruhi situasi ekonomi, keuangan dan moneter dari rezim keagamaan di Teheran.

Situasi rezim keagamaan Iran tidak stabil dalam satu jangka waktu. Kesepakatan nuklir pada 2015 telah membuka jalan bagi Iran untuk memasuki pasar global, dan membuka jalan bagi perusahaan asing untuk berinvestasi di Iran. Meski begitu, pemerintahan Trump menarik diri dari kesepakatan tersebut, yang mengembalikan semua sanksi terhadap Iran. Yang mana ekonomi Iran telah mengalami tekanan yang parah sejak saat itu. Dengan cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas terbesar kedua, produksi telah menurun, terutama karena sanksi AS termasuk ancaman untuk memotong akses ke sistem perbankan global bagi setiap perusahaan yang melakukan bisnis di Iran, dengan membuat perdagangannya menggunakan dolar AS ilegal. Karenanya terjadi penurunan produksi energi. Pendapatan untuk rezim keagamaan itu juga turun yang memicu protes pada bulan Desember 2019. Begitulah, China menjadi satu-satunya pilihan bagi Iran ketika Amerika juga mengisolasinya di kawasan itu dan sebagian besar dunia. Karena alasan inilah Iran memberi China diskon besar atas penjualan minyak Iran ke China.

Tidak ada jaminan bagi Iran bahwa mereka akan aman dari eksploitasi China di masa depan. Karena banyak proyek Belt and Road China telah menjadi begitu terstigma. Sementara investasi China dalam minyak dan gas Iran akan memberikan banyak pembaruan baru pada infrastruktur energi yang terganggu, yang sangat dibutuhkan, namun harus dipantau apakah Iran akan mendapat manfaat dari ini dengan adanya diskon besar yang diberikannya itu. Pertanyaan mendasar tetap tentang apakah China dapat diandalkan sebagai mitra strategis?

Bocoran itu telah menyebabkan protes warga Iran terhadap kesepakatan itu dibandingkan dengan kesepakatan Turkmenchaa yang merendahkan, yang ditandatangani oleh negeri Persia dengan Rusia pada tahun 1828 M. Iran di masa lalu telah merujuk ke China untuk mengurangi tekanan ekonomi, tetapi Cina tidak pernah mampu memberikannya, jika malahan pada dasarnya tidak bersedia melakukannya. Bocoran itu menampakkan mungkin tampak komprehensif, tetapi ada sedikit detail tentang proyek individual apa yang akan berjalan.

Karena ini adalah hal yang paling dekat dengan peta jalan. Karena ada banyak janji-janji dan fitur-fitur yang luas tentang apa yang akan dicakup oleh negosiasi di masa depan. Dan karenanya menurut kemungkinan yang lebih besar kita tidak akan melihat aliansi Iran-Cina.

http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/radio-broadcast/news-comment /70601.html