August 4, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Profesor Sulaiman Al-Muhajiri

Kunjungan delegasi Oman menuju Sana’a dalam rangkaian gerakan diplomatis yang dilakukan oleh kedua belah pihak –yang sedang berkonflik– Anglo-Amerika di Yaman telah tiba. Semua itu dilakukan sesuai dengan kepentingan dan pandangannya demi mencapai solusi yang sepadan.

Para pengamat peristiwa dan gerakan politik dari kedua belah pihak akan mendapati bahwa keduanya berusaha menghentikan peperangan, mengusulkan perundingan damai dan penyelesaian politik di Yaman yang masih tersendat hingga saat ini. Namun di balik itu, mereka memiliki agenda masing-masing. Memang benar bahwa keduanya telah sepakat untuk sampai kepada pernyataan gencatan senjata, tapi keduanya tentu memiliki perbedaan motif untuk mencapai tujuan dan kepentingannya.

Inggris terus berusaha dengan segala cara dan prasarana yang canggih untuk melindungi Ma’arib Kota Migas, baik melalui langkah-langkah diplomatik dan memperdayakan negara-negara Eropa, maupun dengan mengikuti Amerika –seperti biasanya– ke dua arah, di antaranya:

Pertama, menggunakan Uni Eropa bersamanya, terutama di Provinsi Ma’arib dan sekitarnya seperti Shabwa, perusahaan minyak Austria (OMV) dan perusahaan Total, milik Prancis di Balhaf. Hal itu dilakukan demi mengacaukan kepentingan Amerika. Inilah yang telah terjadi, langkah-langkah diplomatik Eropa bertepatan dengan memuncaknya serangan Houthi di Ma’arib pada awal Februari lalu. Hal itu dilakukan atas nama gencatan senjata, pemindahan berkas usulan perdamaian dan penyelesaian politik yang terhalang di Yaman. Delegasi Eropa –termasuk Duta Besar Uni Eropa, Prancis, Belanda dan Swedia– di Yaman telah melakukan kunjungan ke Aden dan Sana’a, di mana ia bertemu dengan penanggung jawab pemerintahan Hadi dan sejumlah pemimpin senior Houthi (Emirates Policy Center, 2/4).

Kedua, akhir bulan lalu, Menteri Inggris untuk permasalahan Timur Tengah dan Afrika Utara, James Cleverly, mengadakan beberapa pertemuan, dan pertemuan yang paling penting adalah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Yaman.

Kantor berita resmi Yaman ‘Sabaa’ melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Yaman, Ahmed Awad berdiskusi di ibu kota Saudi, Riyadh, bersama dengan Menteri Inggris untuk permasalahan Timur Tengah dan Afrika Utara, James Cleverly, mengenai perkembangan politik di Yaman dan kerja sama antara kedua pemerintahan untuk membangun perdamaian, memulihkan keamanan, stabilitas dan gencatan senjata, dimulai dengan melakukan perdamaian yang komprehensif dan langgeng di Yaman (23/5).

Ketiga, kunjungan Menteri Luar Negeri Pemerintahan Hadi, Ahmad Awad bin Mubarak ke Kesultanan Oman untuk membahas upaya pemberhentian perang. Menteri Luar Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa kunjungan itu “Bertujuan untuk mengoordinasikan upaya bersama mengenai isu-isu regional dan mendorong proses politik, terlebih setelah Houthi menolak inisiatif segala jenis perdamaian regional dan internasional.”

Keempat, peran para antek dalam membela kepentingannya dan mengimbangi Amerika. Peran ini tampak jelas dengan adanya kunjungan delegasi Oman ke Sana’a dan pertemuannya dengan para petinggi Houthi. Kunjungan ini bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Yaman, Ahmad Aud bin Mubarak ke Muscat. Di waktu yang sama, Emir Kuwait, Syekh Ahmad Nawaf As-Shabah mengirim pesan kepada pemimpin Yaman, Abd Rabbah Manshur Hadi untuk berupaya menyegerakan solusi, dan seperti inilah gerakan diplomatik berlangsung.

Sebagaimana yang nampak dari tindakan ini dan pergerakan yang dilakukan Inggris melalui rekan, agen dan pengikutnya. Ia berusaha melakukan gencatan senjata dan melindungi Kota Minyak Ma’arib dari kekuasaan Houthi dan menjaga kepentingannya, karena Ma’arib dianggap sebagai wilayah vital di Yaman. Hanya saja, Amerika menggagalkan (pergerakan)nya melalui para pengikut dan agen-agennya juga.

Adapun terkait Amerika, langkah-langkah diplomatik yang dilakukan oleh wakilnya ke Yaman tidak menyeriusi gencatan senjata, bahkan jika mereka mengklaim bahwa mereka berusaha untuk melakukannya. Mantan Duta Besar Amerika, Patrick Theros pernah berkata di siaran pers, “Perang yang terjadi di Provinsi Ma’arib akan menjadi faktor penentu arah konflik di Yaman.” (Aden Gad, 30/5)

Sebagaimana yang nampak, pertempuran di Ma’arib adalah titik penentu bagi Amerika, pengikut dan para anteknya. Oleh karena itu, tujuan Amerika bukanlah untuk melakukan gencatan senjata ataupun ikut campur dalam negosiasi politik saat ini, dan juga bukan untuk mendukung apa yang disebut oleh pemerintahan Hadi, akan tetapi Amerika ingin mengulur waktu sampai Houthi menguasai Ma’arib, lalu muncul sebagai kekuatan yang berpengaruh di Yaman.

Bukti dari hal ini adalah kegagalan terakhir delegasi Oman di Sana’a, dengan adanya ledakan kuat –membantah para koalisi bahwa mereka ada di balik kejadian ini– di markas besar Divisi Lapis Baja ke1 (First Armored Division) di ibu kota san’a.

Kepulan asap membubung tinggi dari tempat tersebut setelah terjadinya ledakan, sementara itu ambulans-ambulans dan truk pemadam kebakaran terlihat menuju ke lokasi kejadian.

Tujuan dari ledakan tersebut adalah untuk menggagalkan upaya kedatangan delegasi Oman dan untuk menampakkan kelompok Houthi di hadapan delegasi Oman bahwa merekalah yang diserang dan mereka berhak atas haknya.

Perlu dicatat bahwa gerakan diplomatik dan politik kedua belah pihak dalam konflik Anglo-Amerika di Yaman belakangan ini sebenarnya bukanlah untuk melakukan gencatan senjata, akan tetapi setelah Inggris mengkhawatirkan kepentingan nya di Ma’arib, ia bergegas menyelamatkan (kepentingannya) setelah memindahkan beberapa negara Eropa yang memiliki perusahaan minyak di Ma’arib, Karena itu, ia juga memindahkan duta besarnya untuk Yaman dan Menteri Negara Inggris untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, dan selannjutnya adalah Kesultanan Oman yang tunduk pada Inggris.

Langkah-langkah ini tidak banyak membuahkan hasil karena posisi internasional Inggris yang lemah di hadapan Amerika.

Sementara Amerika, jika serius terkait gencatan senjata seperti yang diklaimnya, pasti akan memberlakukan hal tersebut, sebagaimana yang pernah ia lakukan untuk menyelamatkan Houthi dalam Perjanjian Stockholm tahun 2018 di Hudaidah. Ketika itu agen Inggris maju di Hudaidah –yang merupakan garis hidup bagi Houthi dan Amerika, melalui Kerajaan Saud– menekan Hadi untuk menyetujui Konferensi Swedia dan menyetujui apa yang diputuskan olehnya.
Namun saat ini, ia ingin Houthi menguasai Ma’arib, dan setelah itu nego siasi serta pengendalian Amerika atas Houthi akan menjadi kuat.

Dengan demikian, konflik Anglo-Amerika di Yaman diperkirakan dengan perangkat lokal dan regionalnya akan terus berlanjut, selama sistem kapitalisme global dan pandangannya tentang maslahat dan manfaat masih mendominasi di tengah-tengah masyarakat. Inilah yang kami simpulkan dari berlangsungnya peperangan dan pergerakan di Kota Ma’arib yang menjadi krusial bagi kedua belah pihak, yaitu agen Inggris –yang diwakili oleh apa yang disebut legitimasi– dan agen Amerika –yang merupakan milisi Iran di Yaman. Jika kota ini serta penguasaannya menyebabkan peperangan yang krusial, maka penghentian perang oleh salah satu pihak bukanlah hal yang mudah, karena semua orang telah banyak berkorban karenanya.

Wahai saudara-saudara kami di Yaman, selama tujuh tahun berturut-turut, kedua pihak konflik Anglo-Amerika baik lokal maupun regional terus berjanji kepada kalian. Kemudian setelah janji-janji itu, kalian tidak akan mendapatkan apa pun selain krisis di semua aspek kehidupan.

Wahai saudara-saudara kami di Yaman, “Bukankah Rabb kalian telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagi kalian ataukah kalian menghendaki agar kemurkaan dari Rabb kalian menimpa kalian?” (TQS Taha: 86)

Sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan kita kemenangan, kekuatan dan kepemimpinan di bumi dengan menolongnya menerapkan hukum-Nya dengan Daulah Khilafah yang kedua sesuai dengan metode kenabian, karena hanya itulah satu-satunya solusi dan jalan keluar rasional dari kegelapan sistem kapitalisme yang kotor, yang telah mewariskan perselisihan dan kemunafikan pada kalian. Maka kami menyeru kalian untuk berjuang bersama Hizbut Tahrir, apakah kalian berkenan?

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 344, terbit pada Rabu, 12 Dzulqa’dah 1442 H/23 Juni 2021 M

Sumber :

https://www.alraiah.net/index.php/political-analysis/item/6149-what-is-behind-the-recent-political-moves-between-the-two-sides-of-the-conflict-in-yemen