August 1, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Dedah Kuslinah, S.T ( Muslimah Ideologis Khatulstiwa)

Bagian Pertama

Khilafah adalah hak bersama kaum Muslimin, bukan dominasi bangsa tertentu. Bahkan HOS Tjokroaminoto menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia. Ia memahami betapa vitalnya peranan khalifah bagi umat Islam. Maka, ia menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka, “seolah-olah badan tidak berkepala”.

Khilafah tidak lain adalah sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk menerapkan seluruh syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dakwah Islam sebagai aktivitas yang mendasar dan wajib bagi umat muslim. Islam pernah menguasai dua pertiga dunia selama tiga belas abad lebih, maka kekuasaan tersebut ‘bukan kaleng-kaleng’ istilah para milenial saat ini, artinya bukan sembarangan.

Dakwah Islam pun tiba di bumi Khatulistiwa hingga di Kota Mempawah. Suatu perjalanan yang panjang dan tentunya jauh dari kata mudah. Namun ini adalah amanah penyebaran Islam yang diembankan oleh Khalifah kepada para pendakwah dengan berbagai uslub (cara) dan wasilah (sarana) seperti perdagangan, perkawinan, pendidikan, hubungan politik atau bantuan kemanusiaan.

Mempawah pada Masa Kesultanan Islam

Islam di Mempawah tidak terlepas dari pengaruh seorang yang bernama Opu Daeng Menambun. Beliau memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Opu Daeng Menambun adalah cucu dari Raja Bugis pertama yang memeluk Islam, yakni Opu La Maddusilat, penguasa Kesultanan Luwu Bugis di Sulawesi Selatan.

Pengembaraan Opu Daeng Menambun, bersama ayahnya Opu Tendriburang Dilaga dan keempat saudaranya Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi melakukan perjalalan dari Sulawesi ke negeri-negeri di tanah Melayu. Opu Tendriburang Dilaga dan kelima anak lelakinya memainkan peranan penting di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama dalam hal penyebaran agama Islam.

Kedatangan Opu Daeng Menambun ke Kalimantan sebenamya atas permintaan Sultan Matan (Tanjungpura), yakni Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724 M), untuk merebut kembali tahta Kesultanan Matan yang diambil-paksa oleh Pangeran Agung, saudaranya sendiri. Kala itu, Opu Daeng Menambun bersaudara, sedang berada di Kesultanan Johor. Mereka segera berangkat ke Tanjungpura guna membantu memadamkan pergolakan itu yang akhirnya tahta Sultan Muhammad Zainuddin dapat diselamatkan. Opu Daeng Menambun kemudian dinikahkan dengan Ratu Kesumba, puteri Sultan Muhammad Zainuddin. Tidak lama berselang, Opu Daeng Menambun bersaudara kembali ke Kesultanan Johor.

Namun, sepeninggal Opu Daeng Menambun bersaudara, pergolakan internal kembali terjadi. Anak-anak Sultan Muhammad Zainuddin berselisih tentang siapa yang berhak mewarisi tahta Kesultanan Matan jika kelak ayah mereka wafat. Sultan Muhammad Zainuddin kembali meminta bantuan Opu Daeng Menambun, yang kemudian segera menuju Tanjungpura untuk kedua kalinya, tanpa keempat saudaranya.

Sultan Muhammad Zainuddin menganugerahi Opu Daeng Menambun gelar kehormatan Pangeran Mas Surya Negara atas jasanya yang berhasil menstabilkan keamanan. Opu Daeng Menambun sendiri memutuskan untuk menetap di Kesultanan Matan bersama istrinya, dan mereka dikaruniai anak bernama Puteri Candramidi, Gusti Jamiril, Syarif Ahmad, Syarif Abubakar, Syarif Alwie dan Syarif Muhammad. Pada tahun 1724 M, Sultan Muhammad Zainuddin wafat, penerus kepemimpinan Kesultanan Matan adalah Gusti Kesuma Bandan yang bergelar Sultan Muhammad Muazzuddin.

Adapun penguasa Mempawah kala itu adalah Panembahan Senggaok yang merupakan mertua Sultan Muhammad Zainuddin karena pernikahannya dengan Puteri Utin Indrawati. Nama Mempawah diambil dari istilah “Mempauh” yaitu nama pohon yang tumbuh di hulu sungai. Panembahan Senggaok tidak mempunyai putra, sehingga Tahta Mempawah diserahkan kepada Sultan Muhammad Muazzuddin ketika beilau wafat (1737 M). Namun, satu tahun berselang, Sultan Muhammad Muazzuddin pun mangkat (1738 M) dan digantikan puteranya yang bernama Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung bergelar Sultan Muhammad Tajuddin sebagai Sultan Matan yang ke-3. Dua tahun kemudian kekuasaan atas Mempawah diserahkan kepada Opu Daeng Menambun dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara dan istrinya Ratu Kesumba, menyandang gelar sebagai Ratu Agung Sinuhun. Opu Daeng Menambun memindahkan pusat pemerintahannya ke Sebukit Rama yang merupakan daerah subur, makmur, strategis, dan ramai didatangi kaum pedagang. Dan Islam dijadikan sebagai agama resmi kerajaan.

Pengaruh Islam di Mempawah semakin kental berkat peran Sayid Habib Hussein Alqadrie, seorang pengelana yang datang dari  kota Tarim Hadramaut atau Yaman Selatan. Perjalanan Al Habib Hussein (Syarif Husin Ibn Ahmad Alqadrie) demi memperkenalkan agama Islam. Sebelum pindah ke Mempawah, Habib Hussein Alqadrie menjabat sebagai hakim utama di Kesultanan Matan pada masa Sultan Muhammad Muazzuddin. Habib Hussein Alqadrie dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua. Di Kesultanan Matan, Habib Hussein Alqadrie mengabdi sampai pada pemerintahan sultan ke-4, yakni Sultan Ahmad Kamaluddin, yang menggantikan Sultan Muhammad Tajuddin pada tahun 1749 M. Namun, pada tahun 1755 M, Habib Hussein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang penerapan hukuman mati.

Melihat kondisi ini, Opu Daeng Menambun kemudian menawari Hussein Alqadrie untuk tinggal di Mempawah. Bak gayung bersambut, tawaran diterima dengan keluasan hati oleh Habib Hussein Alqadrie yang segera pindah ke Istana Opu Daeng Menambun. Habib Hussein Alqadrie kemudian diangkat sebagai patih sekaligus Imam Besar Mempawah. Habib Hussein Alqadrie diizinkan menempati daerah Kuala Mempawah (Galah Herang) untuk dijadikan sebagai pusat pengajaran agama Islam. Opu Daeng Menambun pun menegakkan hukum Islam. Dan untuk semakin mempererat hubungan antara keluarga Habib Hussein Alqadrie dan Kesultanan Mempawah, maka diadakan pernikahan antara anak lelaki Habib Hussein Alqadrie yang bernama Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan anak perempuan Opu Daeng Menambon yang bernama Puteri Candramidi. Kelak, pada tahun 1778 M, Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan Kesultanan Kadriah di Pontianak.

Habib Husein Alqadrie tanpa mengenal lelah membimbing masyarakat yang masih awam terhadap Islam. Agama Islam yang dibawa oleh Opu Daeng Manambon dan Habib Husein Alqadrie ini mampu menyentuh hati mereka dengan lembut. Aturan Islam pun dapat ditegakkan. Penyelesaian segala perkara hanya bersandarkan kepada hukum Al-quran dan hadits. Keputusan yang disampaikan Habib Hussein sebagai hakim, mereka taati tanpa menimbulkan perselisihan. Sehingga kondisi masyarakat saat itu, diliputi rasa aman, nyaman , tentram dan sejahtera. Sampai akhirnya Islam berkembang di Mempawah. Pemberitaan dari mulut ke mulut tentang kemasyhuran Habib Hussein alqadrie akan ilmu agamanya membuat banyak orang di seluruh penjuru negeri berguru ke Mempawah. Mempawah pun, menjadi center pembelajaran agama Islam. Mempawah dijuluki kota Islam tertua di Kalbar.

Pada tahun 1761 M, Opu Daeng Menambun wafat. Penerus tahta Kesultanan Mempawah adalah Gusti Jamiril yang bergelar Panembahan Adiwijaya Kusumajaya. Di bawah kepemimpinan Panembahan Adiwijaya, wilayah kekuasaan Mempawah semakin luas dan terkenal sebagai bandar perdagangan yang ramai.

Wallahua’lam

Bersambung bagian kedua…