August 1, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Dedah Kuslinah, S.T ( Muslimah Ideologis Khatulstiwa)

Perlawanan di Masa Kolonial

Perjuangan melawan penjajah di Bumi Khatulistiwa terus berlanjut. Lahirnya pejuang-pejuang kemerdekaan menjadi bukti bahwa Islam telah mendorong semangat kemerdekaan yang telah mengakar pada lubuk hati setiap kaum muslim diantaranya Abdul Kadir (Raden Tumenggung Setia Pahlawan) dari Melawi, Mr. Hamid Al-qadrie (Syarif Abdul Hamid Al-qadrie) yang dikenal sebagai Sultan Hamid II yang merupakan putera Sultan Pontianak, juga pencetus lambang negara Indonesia.

Berikutnya, Rahadi Oesman, meninggal akibat tertembak oleh pasukan Belanda dalam pertempuran di Sungai Besar ketapang. Dan ada Siradj Sood, beliau merupakan tokoh pejuang dari kabupaten Sambas. Alianyang dari Sintang, hingga Bardan Nadi dari Ngabang.

Perjuangan masyarakat dalam melawan penjajah tak pernah surut baik hengkangnya Belanda hingga datangnya Jepang. Gerakan perlawanan datang dari golongan feodal lokal, cerdik pandai, ambtenar, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, para santri hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama. Tidak dipungkiri, peristiwa kelam banyak terjadi di masa penjajahan Jepang. 

Peristiwa yang fenomenal di Bumi Khatulistiwa adalah genosida Mandor dengan korban ± 21.037 jiwa. Sebelum peristiwa Mandor ini terjadi, terlebih dahulu peristiwa Cap Kapak, yaitu penjajah Jepang menerobos dengan mendobrak pintu-pintu rumah untuk menakut-nakuti masyarakat. Pada tragedi Mandor, sebelum dibunuh, mereka disungkup dan dibawa dengan truk, masyarakat mengenal peristiwa ini sebagai tragedi Oto Sungkup. Hal ini lantaran karena Jepang tidak ingin ada terjadi pemberontakan di Kalimantan Barat. 

Menurut harian Jepang Borneo Shinbun, genosida dilakukan untuk memberangus semangat perlawanan masyarakat Kalimantan Barat. Semua orang yang di ketahui berumur 12 tahun ke atas akan di bunuh dan libas dengan keji oleh pasukan huru hara Jepang. Serta anak-anak pribumi Kalimantan Barat yang berusia di bawah 12 tahun akan di didik oleh tentara Jepang, selebihnya akan di gantikan oleh imigran Jepang untuk menempati Kalimantan Barat yang akan di jadikan sebagai Negara Boneka.(katamedia.co, 24/07/2017).

Masyarakat Kesultanan Mempawah sendiri dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Kepemimpin yang adil dan bersahaja menyebabkan rakyatnya makmur. Penjajah Belanda iri dan mencoba melakukan penyerangan. Memang telah menjadi tabiat dari penjajah, menyengsarakan dan membodohkan. Hal ini pula yang diterapkan Belanda kepada inlander. Namun, umat Islam tanpa ragu sedikitpun melawannya, dipelopori para ulama, santri dan bangsawan muslim. Gerakan jihad fi sabilillah terpatri disetiap pikiran dan perasaan kaum muslim.

Perlawanan terhadap belanda di bumi Gala Herang di pimpin langsung Panembahan Adiwijaya Kusumajaya. Pada tahun 1790 M, Panembahan Adiwijaya wafat, perjuangannya dilanjutkan oleh kedua putranya, yakni putera mahkota Gusti Jati dan saudaranya, Gusti Mas. Belanda pun kemudian dapat dipukul mundur. Dan tabiat dari neo imperalisasi hari ini juga sama, yaitu menyengsarakan, membodohkan dan membuat negara boneka.

Peradaban dan Kemajuan yang dicapai Kesultanan Mempawah

Peradaban Islam di Mempawah menunjukan derap langkah dakwah Islam sampai di bumi Gala Herang. Simbol nama kerajaan yaitu Amantubillah, yang berarti “Aku Beriman Kepada Allah”, mencerminkan bahwa sultan dan masyarakat Kerajaan Mempawah sangat percaya kepada Allah dan sekaligus menggambarkan betapa kuatnya ajaran agama Islam.

Komplek Istana Amantubillah terdiri dari 3 bagian, yaitu bangunan utama, bangunan sayap kanan, dan bangunan sayap kiri. Pada masanya, bangunan utama merupakan tempat singgasana raja, permaisuri, dan tempat tinggal keluarga raja. Bangunan sayap kanan merupakan tempat untuk mempersiapkan keperluan dan tempat untuk jamuan makan keluarga istana. Sedangkan bangunan sayap kiri merupakan aula dan tempat untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan administrasi pemerintahan. Istana diperindah dengan kolam bekas pemandian raja beserta keluarganya yang berada di belakang istana. Dan juga terdapat gazebo sebagai tempat istirahat dan bersantai yang letaknya tidak terlalu jauh dari kolam pemandian.

100 meter dari Istana, berdiri megah masjid Jami’atul Khair yang dibangun oleh Gusti Amir, sebagai tempat sentral keagamaan serta bermusyawarah terhadap persoalan agama. Yang unik dari masjid ini adalah soal kepengurusannya, sejak awal ditata dengan komposisi 20 orang jumlah pengurus melambangkan 20 sifat Allah SWT. Pengurus inti ada 6 orang melambangkan rukun iman, kemudian ada 5 bidang melambangkan rukun Islam, 13 personalia pembantu sidang melambangkan rukun shalat, dengan penyusunan yang demikian masjid Jami’ ini terus menyiarkan agama Islam sampai ke Sambas.

Proses pendidikan di tandai dengan berdirinya pesantren Madrasatunnajah Wal Fatah yang terletak di Sui Bakau Besar Mempawah yang didirikan pada tahun 1918 M. Madrasah ini telah menjadi madrasah tertua di Kalimantan Barat.

Penutup

Demikianlah Kesultanan Mempawah menjadi bukti bahwa Islam dan konsep pemerintahan islam hadir untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dan ini merupakan paradigma konsep negara di dalam Islam. Peran negara Islam adalah untuk melindungi dan memelihara jiwa, akal, agama, nasab, harta, kemuliaan, dan keamanan. Karena itu, seluruh bidang baik politik pendidikan hingga perindustrian harus sinergi.

Pendidikan yang visioner, akan membentuk aqliyah dan kepribadian islamiyah. Yaitu lahirnya generasi berkualitas, bermental pemimpin dan berintegritas mukmin, dengan berbagai keahlian dan bidang kepakaran dengan asas aqidah Islam. Sedangkan dalam perindustrian paradigma negara dalam Islam juga akan memfasilitasi riset dan membangun sistem industri strategis. Perindustrian akan dimiliki dan dikelola mandiri oleh negara serta berbasis pada kebutuhan militer mutakhir serta untuk pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.

Sistem perindustrian ini harus selaras dengan sistem ekonomi Islam. Sektor-sektor industri vital harus dikuasai negara, seperti pertanian, farmasi, energi, transportasi, infrastruktur, dan sebagainya. Negara menjadi pengelolanya agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat dan tidak berorientasi kepada bisnis semata.

Perindustrian juga dibangun atas dasar strategi dakwah dan jihad yang juga diarahkan untuk mampu mengatasi seluruh kebutuhan rakyat, baik muslim maupun non muslim. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan vital negara, serta mampu membentuk kemandirian negara.Tidak hanya bidang pendidikan dan perindustrian, namun negara juga akan mengatur seluruh urusan masyarakat, yaitu urusan-urusan dunia dan menjaga urusan-urusan agama.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

[1] Hasannuddin. 2014. Pontianak Masa Kolonial. Ombak: Yogyakarta

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Mempawah

[3] kerajaannusantara.com/id/kerajaan-mempawah/sejarah