November 9, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Yusuf Kushandiansyah (Pontianak)

Tak habis-habis pelecehan terhadap Islam dan umat Islam terus terjadi. Pakaian muslimah dihina bahkan ulama juga ikut dihina. Padahal para muslimah yang menggunakan kerudung dan jilbab bukan untuk bergaya atau pun fashion, melainkan untuk menutupi aurat mereka.

Selain itu menutup aurat hukumnya wajib bagi setiap umat Islam. Bagi para wanita, aurat mereka adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi apa yang salah dari mereka, namun ada yang menyebut mereka yang menutup aurat akan ditunggu di neraka? Hal ini perlu kita ingat suatu peristiwa di masa al-Muktasim Billah.

Beliau seorang Khalifah, akan mengirimkan pasukan yang sangat banyak jumlahnya hanya untuk menyelamat seorang muslimah yang telah dilecehkan. Banyaknya pasukan yang dikirimkan, diibaratkan jika kepala dari pasukan Al Muktasim Billah sudah tiba di Romawi namun ekornya atau pasukan terakhir masih banyak yang berada di alun-alun Bagdad. Semua itu Beliau lakukan untuk membela dan menjaga kehormatan umat Islam khususnya para muslimah, MasyaAllah.

Kini, bukan hanya para muslimah saja yang dilecehkan, termasuk ajaran Islam dan simbol-simbol Islam, bahkan para ulama juga dihina. Padahal para ulama adalah para penuntun kita umat Islam yang awam untuk menuju jalan yang benar. Para ulama merupakan kunci ilmu agama malah dihina dan dinistakan. Bagaimana dengan ilmunya yang sudah diterima? Padahal syarat ilmu yang berkah adalah dengan menghargai pemberi ilmu.

Ajaran Islam diamalkan adalah suatu kewajiban. Sesuatu yang haram tidak mungkin menjadi halal, begitu juga sebaliknya. Termasuk bagaimana mungkin khamr yang telah Allah haramkan menjadi halal? Padahal kita adalah makhluk yang lemah dan Allah Maha Kuasa? Penghinaan terhadap muslimah, ulama dan syariat Islam untuk dijadikan bahan tertawaan telah dilarang oleh Islam.

Abu Dzar menyampaikan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Jauhilah olehmu banyak tertawa karena banyak tertawa itu akan mematikan hati dan memudarkan cahaya wajah (Kewibawaan).” (HR al-Baihaqi)

Akan lebih bijak jika yang disampaikan itu adalah kebenaran untuk memahamkan umat dan mencerdaskan umat. Menghina dan menjadikannya bahan tertawaan adalah perbuatan tidak bermanfaat dan termasuk perkara maksiat kepada Allah SWT. Sangat di sayangkan jika hari-hari dilewatkan begitu saja tanpa meninggalkan jejak kebaikan.[]

Walalhu’alam