August 2, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh : Sri Suarni, A.Md

Meninggalnya Habib Hussein dan Opu Daeng Manambon

Pernikahan politik Syarif Abdurrahman Al-Qadrie juga bermanfaat dalam mendukung upaya mendirikan pemukiman tetap dan mengusir dominasi Barat yang ingin menguasai perdagangan di Nusantara ini. Sekembalinya dari penjelajahannya beberapa kawasan disekitar Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Bangka, Laut Jawa dan Selat Makasar, pada 11 Rabiul Akhir tahun 1185 atau pertengahan 1771, Habib Hussein dan Panembahan Opu Daeng Menambon telah meninggal dunia. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Wafatnya kedua orang yang sangat dihormati dan dibanggakannya itu telah menjadi salah satu pendorong kuat bagi Syarif Abdurraham untuk mencari tempat pemukiman baru tidak saja sebagai pusat perdagangan tetapi juga sebagai pusat pemerintahan dari kerajaan baru yang dipimpin oleh salah seorang dari empat orang saudara laki-lakinya. Setelah bermusyawarah dengan keluarga besarnya, termasuk dengan Panembahan Adijaya yang merupakan putera Opu Daeng Menambon yang diangkat sebagai Panembahan Mempawah dan empat saudara laki-lakinya Syarif Ahmad, Syarif Abubakar, Syarif Alwie dan Syarif Muhammad, akhirnya mereka meninggalkan Mempawah mencari pusat pemukiman, dan Syarif Abdurrahman ditunjuk sebagai kepala rombongan besar itu. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Penunjukan dengan suara bulat kepada Abdurrahman disebabkan tidak hanya ia merupakan saudara laki-laki tertua dari keluarga atau dinasti Al-Qadrie tetapi juga ia memiliki pengetahuan, pengalaman dan wawasan yang luas dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan persetujuan itu cita-cita ayahnya dan obsesinya sejak kecil serta persiapan matang yang dilakukan Abdurraman sejak lama, tampaknya akan terealisasikan.

Pada hari Jum’at, 9 Rajab tahun 1185 H atau 1771 M, setelah sembahyang Jum’at, Pangeran Abdurrahman Al-Qadrie berangkat bersama seluruh keluarganya menuju ke pemukiman baru yang belum mereka ketahui dalam satu konvoi besar yang terdiri dari dua kapal besar dan 14 kapal kecil beserta dengan awak kapalnya lengkap dengan peralatan tidur, makanan, minuman untuk dua bulan. Armada yang terdiri dari 16 buah kapal itu dilengkapi dengan persenjataan beberapa buah meriam, persenjataan konvensional lainnya, para pengikut setianya dan sejumlah awak kapal cukup banyak jumlahnya diantaranya terdiri dari orang-orang Benggali yang berasal dari kapal-kapal Perancis yang pernah dikalahkannya. Armada besar ini dinakhodai oleh Juragan Daud pengikut setianya. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Cikal Bakal Istana Kadriah

Setelah empat hari perjalanan sampailah rombongan Abdurrahman ke sebuah pulau kecil yang dinamai Batu Layang terletak 15 km dari muara Sungai Kapuas atau lima kilo meter dari kota Pontianak. Tempat itu kemudian menjadi tempat pemakaman resmi keluarga Kesultanan Qadriah sampai sekarang. Dari tempat ini rombongan melanjutkan perjalanan. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Hingga pada subuh hari Rabu tanggal 14 Rajab 1185 bertepatan dengan 23 Oktober 1771 rombongan Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadrie memasuki kawasan perairan di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak rombongan itu mendarat pada salah satu kawasan tepi Sungai Kapuas tidak jauh dari muara Sungai Landak. Mereka mulai menebang dan membersihkan pohon-pohon serta mendirikan surau yang sekarang menjadi Mesjid Jami’ Syarif Abdurrahman Al-Qadrie. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Kemudian Abdurrahman dan para pengikutnya mulai mempersiapkan tempat pemukiman yang letaknya menjorok ke darat sekitar 800 meter dari surau tersebut. Pemukiman itulah kemudian menjadi Istana Kesultanan Qadriah Pontianak. Penentuan tempat Istana Kadriah tersebut  dilakukan memiliki beberapa alasan. Pertama, sebagai seorang muslim yang taat beragama tak lepas dari meminta petunjuk kepada Allah Swt dan yakin akan petunjuk itu, karena sebelum sampai ketempat itu ia telah sampai ke beberapa tempat, antara lain Segedong di Sungai Peniti berlokasi sekitar 20 km dari kota Pontianak, namun tempat itu tidak menjadi pilihannya. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Kedua, keputusan itu merupakan hasil musyawarah antara Syarif Abdurrahman dengan empat saudara laki-lakinya, isterinya, Nakhoda Daud dan beberapa pengikutnya. Kebiasaan kebiasaan bermusyawarah ini selalu ia lakukan. Ketiga, keputusan itu merupakan hasil dari pengetahuan maritim praktis yang diperolehnya selama bertahun-tahun menjelajah berbagai pulau, laut dan sungai sehingga ia menemukan pemukiman sebagaimana yang ia dambakan sebelumnya. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Keberhasilan Syarif Abdurrahman menemukan Kawasan pemukiman yang sangat strategis dalam geografis yang aman dari bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami dan angin taufan hingga sekarang, tidak terlepas dari latar belakang budaya dan pendidikan non formal ditambah dengan wawasan luas, pandangan strategis dan jiwa pionir yang dimilikinya. (Kalbariana.web.id, 22/2/2012)

Pengaruh Khilafah Turki Utsmaniyah dan Menjalankan Hukum Allah

Maka jelas sudah Kekhilafahan Ustmaniah, yang pernah menjadi Kekhilafahan yang disegani didunia pada masanya. Memiliki pengaruh bahkan hingga ke Asia Tenggara, termasuk di Kesultanan Pontianak, terutama perannya dalam menyebarkan ajaran Islam dengan mengutus para ulama dari negeri Yaman.

Hal itu seperti yang disampaikan oleh Pemerhati sejarah Kesultanan yang juga Sekretaris Sultan Pontianak IX, Muhammad Doni Iswara. “Orde itu sampai pada Habib Husein, abah dari Sultan Syarif Abdurrahman, di Mempawah dan betul menyampaikan risalah dari Khilafah Ustmani pada masa itu. Maka lambang Kesultanan Pontianak dengan Turki itu sama, menggunakan bulan bintang yang dapat dilihat di pintu masuk Istana Kadriah,” ujarnya. (Tribunnews.com, 2/2/2018)

“Maka lanjutnya bahwa Mufti pertama Kesultanan Pontianak bernama Syekh Mamoud Syarwani yang mengarang kitab yang menjadi pijakan hukum dan adat di Kesultanan Pontianak. Isinya tentang aturan Islam dari empat mahzab, yakni Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Kitab ini untuk dijadikan sandaran hukum dari orang lahir sampai wafat kala itu di Kesultanan Pontianak,” pungkasnya. (Tribunnews.com, 2/2/2018)

Kehadiran pemerintahan Khilafah lewat Kesultanan yang bercorak Islam membawa pengaruh besar terhadap perkembangan agama Islam khususnya di Pontianak guna mendorong ketaatan segenap rakyatnya untuk menjalankan hukum Allah. Pelaksanaan hukum Islam tersebut juga untuk mengatasi perbedaan dan memutuskan perkara. Mengandung komposisi untuk menjaga agama dan peribadatan, tata pemerintahan, perkawinan, hukum peradilan, tanah dan peralihan. Khilafah memang lekat dengan Nusantara, sebagaimana Islam yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah Nusantara. Khilafah memiliki peran penting baik saat dakwah menerangi Nusantara, hingga perjuangan Nusantara untuk membebaskan diri dari penjajahan.

Wallahu a’lam

Selesai