April 22, 2021

Beranda Islam

Terpercaya – Tajam – Mencerdaskan Umat

Oleh: Nelly, M.Pd (Pemerhati Dunia Islam, Pegiat Opini Medsos)

Miris saat menyaksikan kembali berulangnya berbagai peristiwa penghinaaan dan pelecehan terhadap Islam, nabi Muhammad saw, ajarannya hingga kitab sucinya. Seakan menjadi hal yang sudah biasa dikalangan Barat sikap anti Islam dipertunjukkan di depan publik. Kali ini sebuah aksi pembakaran Al Quran yang sistematis dilakukan dengan dukungan politisi di Swedia dan di Norwegia.

Swedia dilanda kerusuhan usai politikus asal Denmark, Rasmus Paludan, dilarang menghadiri aksi pembakaran Al-Qur’an. Paludan memang dikenal sebagai seorang anti-Islam. Seperti dilansir AFP, Sabtu (29/8/2020), sekitar 300 orang turun ke jalanan wilayah Malmo, Swedia, dengan aksi kekerasan yang meningkat seiring berlalunya malam, menurut polisi dan media lokal (detik.news.com, 30/8/2020).

Sementara itu dilansir dari berita Republika.co.id (30/8), ketegangan memuncak di Ibu kota Norwegia, Oslo, ketika seorang pengunjuk rasa anti-Islam merobek-robek halaman-halaman Alquran. Kepolisian Norwegia sampai menembakkan gas air mata untuk memisahkan dua kelompok yang bentrok.

Sedikitnya ada 30 orang yang ditangkap polisi Norwegia. Akibat bentrokan itu, unjuk rasa anti-Islam di Oslo pada Sabtu (29/8) membuat acara itu diakhiri lebih awal dari jadwalnya. Seperti dilansir Deutsche Welle (DW) pada Ahad (30/8), unjuk rasa anti-Islam itu diorganisir kelompok Stop Islamisasi Norwegia (SIAN). Unjuk rasa berlangsung di dekat gedung parlemen Norwegia.

Sementara itu dilaporkan kantor berita DPA ratusan pengunjuk rasa lainnya juga berkumpul dengan meneriakkan tidak ada rasis di jalanan kami. Situasi ini pun memuncak ketika seorang wanita yang merupakan anggota SIAN merobek halaman Alquran dan meludahinya. Wanita itu sebelumnya pernah didakwa kemudian dibebaskan atas ujaran kebencian. Dalam unjuk rasa itu, wanita tersebut mengatakan kepada para pengunjuk rasa yang lain “lihat sekarang saya akan menodai Alquran.” Bentrokan pun tak dapat terhindarkan antara pengunjuk rasa anti-Islam yang dimotori SIAN dengan kelompok yang kontra.

Terjadinya peristiwa anti Islam tersebut mendapatkan tanggapan dan kecaman dari sejumlah negeri-negeri muslim lainnya. Mereka mengecam pembakaran dan perobekan Alquran di Swedia dan Norwegia yang memicu kerusuhan di dua negara tersebut. Tindakan tersebut dinilai bisa menimbulkan perpecahan lebih jauh.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Retno Marsudi menyatakan “Terkait kejadian penistaan kitab suci di Swedia, Menlu RI telah tugaskan kuasa usaha AI RI di Stockholm untuk demarche (melakukan inisiatif politik) ke Kementerian Luar Negeri Swedia untuk menyampaikan posisi Indonesia,” ujar juru bicara Kemenlu RI Teuku Faizasyah kepada Republika, Senin (31/8).

Faiza menegaskan, posisi Indonesia jelas tertuju pada penghormatan terhadap agama tidak kalah pentingnya dengan penghormatan terhadap demokrasi. Menlu Retno juga menyampaikan melalui KUAI bahwa kejadian penistaan seperti ini akan memicu pembelahan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan pembakaran Alquran di Malmo, Swedia, adalah aksi provokasi. Tindakan itu berkebalikan dengan upaya global memerangi ekstremisme dan pemicuan kebencian berdasarkan agama.

Kementerian Luar Negeri Pakistan, negara dengan penduduk Muslim terbanyak setelah Indonesia, juga melayangkan kecaman terhadap peristiwa ini. “Kebebasan berpendapat tak bisa membenarkan kebencian terhadap agama tertentu,” kata Juru Bicara Kemenlu Pakistan, Zahid Hafeez Chaudhri. Zahid juga menekankan bahwa bangkitnya sentimen Islamofobia seperti yang tampak di Norwegia dan Swedia bertentangan dengan semangat agama apa pun.

Juru Bicara Kepresidenan Turki juga melayangkan kecaman. Menurut dia, apa yang dilakukan para aktivis sayap kanan di Swedia adalah bentuk kebiadaban modern. Mereka tak punya malu membakar Alquran, kitab suci umat Islam di jantung Eropa yang disebut mercusuar akal, logika, kebebasan, dan keadilan.

Bicara Islamofobia, rasisme, anti-Islam itu tidak hanya terjadi pada saat sekarang ini. Hampir setiap waktu ada saja banyak kejadian yang begitu menyesakkan dada akan kebencian mereka terhadap Islam.

Jika ditelaah, peristiwa-peristiwa yang didorong spirit anti Islam secara sistematis ini sebenarnya disebabkan oleh ideologi liberal sekuler di negara-negara penganutnya. Asas kebebasan yang diagungkan menjadikan para politisi dan media diizinkan untuk menjajakan kebencian terhadap komunitas Muslim.

Hal tersebut dilakukan baik untuk memenangkan suara dari para pemilih sayap kanan atau untuk meraih tujuan politik ideologi sekuler mereka. Secara konsisten mereka gambarkan bahwa kaum Muslim dan Islam sebagai agama kekerasan, terbelakang, menindas dan merupakan ancaman terhadap cara hidup Barat. Hal itu dilakukan untuk memprovokasi serangan terhadap Islam dan Muslim.

Di Prancis, mantan Presiden Nicolas Sarkozy, memprakarsai larangan jilbab di Prancis melalui Undang undang Prancis pada bulan April 2011, menyatakan bahwa “peradaban Prancis harus berkuasa di Prancis” dan pada saat yang sama memberlakukan perilaku Islami tertentu sebagai tidak beradab. Seorang pengikutnya, Francois Hollande, menyatakan dukungan terbarunya yang memaksakan pembatasan lebih lanjut tentang larangan memakai jilbab di depan umum.

Bahkan Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris, dalam sebuah laporan juga memberikan kontribusi yang mengobarkan kebencian terhadap Muslim setelah serangan Woolwich pada seorang tentara Inggris, dengan menyatakan bahwa “… ada masalah dalam Islam dari para penganut ideologi yang merupakan cabang dalam Islam…”

Ideologi sekularisme memicu serangan terhadap kaum Muslim, dengan mengutuk, melarang, dan menciptakan kecurigaan terhadap Islam dengan dalih bahwa semua itu merupakan ancaman bagi dasar negara-negara sekuler. Ideologi ini juga memungkinkan di bawah payung kebebasan berekspresi, stigmatisasi masyarakat dengan menerima dan bahkan mempromosikan untuk mengejek dan menjelekkan praktek keislaman kaum Muslim.

Pada akhirnya, sistem sekuler telah menunjukkan bahwa sistem tersebut tidak mampu dan tidak mau menjamin hak-hak bagi semua orang, dan mengakomodasi semua keyakinan agama. Sebaliknya, hak-hak yang secara eksklusif hanya diberikan bagi orang-orang yang menarik garis sekuler secara sempit.

Selanjutnya, sekulerisme memiliki strategi yang cacat untuk persatuan sosial yakni dengan memaksakan nilai-nilainya kepada umat Islam melalui kebijakan asimilasi yang menindas. Inilah bukti bahwa Islamophobia adalah penyakit sistematis masyarakat Barat yang sekuler. Jelaslah ideologi ini menggambarkan kegagalan sistemik kapitalis sekuler untuk menjamin keadilan dan kebebasan beragama.

Berbeda dengan Islam, dalam sistem khilafah menjamin lahirnya masyarakat yang sehat yakni masyarakat yang mampu menjaga kemurnian ajaran Islam. Namun di sisi lain tetap bisa menjaga harmonisasi antar individu umat beragama.

Islam Agama Toleran

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Wujud toleransi agama Islam adalah menjunjung tinggi keadilan bagi siapa saja, termasuk non-Muslim. Islam melarang keras berbuat zalim serta merampas hak-hak mereka. Allah Swt. berfirman, : “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sungguh Allah menyukai kaum yang berlaku adil.” (TQS al-Mumtahanah [60]: 8).

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulLah di dalam tafsirnya mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap pemeluk agama.

Islam mengajarkan untuk tetap bermuamalah baik dengan orang tua walaupun tidak beragama Islam. Allah SWT berfirman: “Jika keduanya memaksa kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (TQS Luqman [31]: 15).

Islam pun melarang keras membunuh kafir dzimmi, kafir musta’min, dan kafir mu’ahad. Rasulullah saw. bersabda, : “Siapa saja yang membunuh seorang kafir dzimmi tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR an-Nasa’i).

Dalam lintasan sejarah peradaban Islam yang tertuang dan tercatat rapi dalam buku sejarah peradaban Islam. Di ceritakan bagaimana praktik toleransi demikian nyata. Hal ini berlangsung selama ribuan tahun sejak masa Rasulullah Muhammad saw. hingga sepanjang masa Kekhalifahan Islam setelahnya.

Tentu sangat lekat dalam ingatan kisah Rasulullah saw. pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit. Padahal dia sering meludahi beliau.
Beliau pun melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim. Rasulullah saw. juga memimpin Negara Islam di Madinah dengan cemerlang walau dalam kemajemukan agama. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain.

Meski hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim mendapatkan hak-hak yang sama dengan kaum Muslim karena status mereka sebagai warga negara. Mereka memperoleh jaminan keamanan. Mereka juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.

Para khalifah pengganti Rasulullah saw. juga menunjukkan sikap toleransi yang sangat jelas. Saat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. membebaskan Yerussalem Palestina, beliau menjamin warga Yerussalem tetap memeluk agamanya. Khalifah Umar tidak memaksa mereka memeluk Islam. Beliau pun tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka.

Sikap tenggang rasa juga terukir agung pada saat Muhammad al-Fatih sukses menaklukkan Konstantinopel. Saat itu banyak wajah kaum Kristiani pucat-pasi. Tubuh mereka menggigil ketakutan di sudut gereja. Faktanya, Muhammad al-Fatih membebaskan mereka tanpa ada yang terluka. Tak ada satu pun kaum Kristiani Konstantinopel yang dianiaya. Tak ada yang dipaksa untuk memeluk Islam.

Ini semua adalah fakta sejarah yang tidak mungkin terlupakan sampai kapan pun. Intelektual Barat pun mengakui toleransi dan kerukunan umat beragama sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Kisah manis kerukunan umat beragama direkam dengan indah oleh Will Durant dalam bukunya, The Story of Civilization. Dia menggambarkan keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayyah. Mereka hidup aman, damai, dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M.

T.W. Arnold, seorang orientalis dan sejarahwan Kristen, juga memuji toleransi beragama dalam negara Khilafah. Dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith (hlm. 134), dia antara lain berkata, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Orientalis Inggris ini juga berkata, : “Sejak Konstantinopel dibebaskan pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya pelindung gereja Yunani. Penindasan atas kaum Kristen dilarang keras. Untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada uskup agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya.”

Begitulah gambaran keindahan penerapan toleransi dalam sistem Islam saat menguasai dunia, damai dirasakan baik muslim maupun non-muslim. Sungguh berbanding terbalik dengan sistem kapitalis-sekuler saat ini yang hanya menimbulkan kekacauan dan rasisme ke agama lain. Maka sudah saatnya mencampakkan sistem kapitalis-sekuler dan kembali mengambil sistem Islam sebagai solusi kehidupan.

Wallahua’lam